Laporan Khusus: Dari Kapal Pesiar MV Hondius ke Indonesia, Jejak Ancaman Hantavirus yang Terabaikan

hantavirus

MAKLUMAT — Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menilai risiko kesehatan masyarakat dari klaster virus hanta atau hantavirus yang terkait dengan kapal pesiar MV Hondius masih tergolong rendah. Namun, kemunculan delapan kasus, termasuk tiga kematian, kembali mengingatkan dunia bahwa hantavirus bukan ancaman yang bisa dipandang remeh.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut lima dari delapan kasus tersebut telah terkonfirmasi sebagai infeksi hantavirus. Virus yang teridentifikasi adalah virus Andes, satu-satunya spesies hantavirus yang diketahui memiliki kemampuan penularan terbatas antarmanusia, terutama melalui kontak dekat dan berkepanjangan.

“Meskipun ini merupakan insiden serius, WHO menilai risiko kesehatan masyarakat secara umum masih rendah,” ujar Tedros, dikutip dari keterangan resmi WHO, Sabtu (9/5/2026). Meski demikian, ia mengingatkan kemungkinan munculnya kasus tambahan masih terbuka mengingat masa inkubasi penyakit tersebut.

Sejak menerima laporan awal pada 2 Mei 2026, WHO telah mengerahkan tenaga ahli kesehatan ke atas kapal untuk melakukan penilaian medis menyeluruh terhadap penumpang dan awak, sekaligus mendistribusikan 2.500 kit diagnostik dari Argentina ke laboratorium di lima negara guna memperkuat kapasitas pengujian.

Sebagai informasi, MV Hondius saat ini tengah berlayar di Samudra Atlantik menuju Kepulauan Canary, Spanyol. Berdasarkan data pelacakan Automatic Identification System (AIS), kapal tersebut berada di perairan Afrika Barat setelah bertolak dari Praia, Tanjung Verde, pada Rabu malam (6/5/2026), dan dijadwalkan tiba di Pelabuhan Granadilla, Tenerife, pada Ahad (10/5/2026) sekitar tengah hari waktu setempat.

Saat ini terdapat 147 orang di atas kapal, terdiri atas 87 penumpang dan 60 awak. Pihak operator menyatakan tidak ada individu yang menunjukkan gejala sakit. Setibanya di Tenerife, kapal tidak akan langsung bersandar di dermaga utama, melainkan berlabuh di lepas pantai untuk menjalani proses skrining ketat dan evakuasi menggunakan alat pelindung diri guna mencegah penyebaran virus ke daratan.

Wabah hantavirus di MV Hondius diduga berasal dari paparan di Argentina. Penyelidik mencurigai sepasang suami istri asal Belanda terinfeksi saat melakukan pengamatan burung di tempat pembuangan akhir (TPA) di Ushuaia. Mereka diduga terpapar debu yang terkontaminasi urine, kotoran, atau air liur tikus pembawa virus sebelum naik ke kapal pada 1 April 2026.

WHO mengonfirmasi strain yang menyerang penumpang MV Hondius adalah Andes hantavirus. Berbeda dengan jenis hantavirus lain, varian Andes diketahui sebagai satu-satunya strain yang memiliki potensi penularan antarmanusia melalui kontak sangat dekat. Hal ini diduga menjadi faktor penyebaran di lingkungan kapal yang tertutup.

Di Indonesia, dikutip dari akun Instagram Pandemic Talks, Kementerian Kesehatan mencatat 23 kasus hantavirus terkonfirmasi sepanjang 2024 hingga Mei 2026, dengan tiga kematian atau tingkat fatalitas sekitar 13 persen. Kasus tersebar di sembilan provinsi, termasuk Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, hingga Nusa Tenggara Timur. Seluruh kasus yang ditemukan berasal dari jenis Seoul virus, berbeda dengan virus Andes yang dikaitkan dengan wabah di MV Hondius.

Kementerian Kesehatan menjelaskan, hantavirus umumnya ditularkan dari tikus atau celurut melalui urine, feses, air liur, gigitan, maupun debu yang terkontaminasi dan terhirup manusia. Pemerintah menilai risiko penularan antarmanusia di Indonesia masih rendah karena jenis virus yang beredar bukan virus Andes. Meski demikian, reservoir tikus pembawa hantavirus telah ditemukan di 29 provinsi sehingga pengawasan dan deteksi dini terus diperketat.

Namun, bagi Indonesia, isu hantavirus sesungguhnya bukan sekadar kabar dari luar negeri.

Sudah Ada sejak 1980

Di tengah perhatian besar terhadap penyakit seperti dengue dan COVID-19, hantavirus kerap luput dari perhatian publik. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan virus ini telah lama beredar di Indonesia sejak dekade 1980-an.

Sejumlah studi menemukan seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen, menandakan paparan virus ini jauh lebih luas daripada yang selama ini diperkirakan. Pada populasi tikus sebagai reservoir utama, angka infeksi tercatat dapat mencapai 0–34 persen, menunjukkan sirkulasi virus aktif di lingkungan, terutama di kawasan dengan kepadatan rodensia tinggi.

Dalam dokumen resmi Kementerian Kesehatan, hantavirus dikategorikan sebagai zoonosis emerging, yakni penyakit infeksi yang muncul dan berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

Masalahnya, hantavirus sering tidak terdeteksi karena gejalanya mirip penyakit tropis lain, seperti demam, nyeri otot, mual, lemas, hingga gangguan pernapasan akut. Akibatnya, banyak kasus kemungkinan salah diagnosis sebagai dengue, tifoid, leptospirosis, atau infeksi virus lainnya. Fenomena ini dikenal sebagai iceberg phenomenon, yakni kasus yang terlihat hanya sebagian kecil, sementara jumlah sebenarnya diduga jauh lebih besar.

Berbeda dengan penyakit yang ditularkan nyamuk, hantavirus menyebar melalui partikel udara yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus. Debu rumah, gudang, maupun lingkungan yang tercemar kotoran rodensia dapat menjadi medium penularan ketika terhirup manusia.

Persoalan Lingkungan Hidup

Di Indonesia, jenis yang paling banyak ditemukan adalah Seoul virus (SEOV), yang dibawa tikus rumah seperti Rattus rattus dan Rattus norvegicus, dua spesies yang hidup sangat dekat dengan permukiman manusia.

Artinya, ancaman hantavirus bukan berada jauh di hutan liar, melainkan dapat hadir di lingkungan perkotaan dengan sanitasi buruk, pengelolaan sampah yang lemah, dan populasi tikus yang tinggi. Penelitian bahkan menemukan jejak hantavirus di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Denpasar.

Pakar kesehatan menilai Indonesia perlu memperkuat surveilans penyakit ini, terutama pada kasus demam akut yang tidak terdiagnosis, memperluas pemeriksaan serologi dan PCR, serta meningkatkan pengendalian populasi tikus berbasis komunitas.

Lebih dari sekadar isu medis, hantavirus merupakan persoalan lingkungan hidup, sanitasi, dan kesehatan masyarakat yang menuntut pendekatan One Health, yakni keterhubungan antara kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem.

Kasus di MV Hondius mungkin dinilai WHO berisiko rendah bagi publik global. Namun, bagi Indonesia, peringatan yang dibawanya jauh lebih dekat: ancaman kesehatan tidak selalu datang dari yang paling ramai dibicarakan, tetapi justru dari yang lama diabaikan.***