MAKLUMAT — Anggota DPD RI Dr. Lia Istifhama mengatakan komunikasi politik perlu dilihat dari respons yang muncul setelah pesan disampaikan. Menurutnya, keberhasilan komunikasi tidak cukup diukur dari pesan yang telah disampaikan, tetapi juga dari sejauh mana publik memahami dan merespons pesan tersebut.
Hal itu ia sampaikan dalam Sekolah Politik Perempuan yang diadakan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Amaris Hotel Darmo Surabaya, Sabtu (26/9/2026).
“Komunikasi politik tidak hanya dilihat dari isi pesan, tetapi dari efek yang ditimbulkan terhadap audiens,” ujar perempuan yang akrab disapa Ning Lia tersebut.
Ning Lia menjelaskan komunikasi politik perlu memperhatikan siapa yang menyampaikan pesan, apa yang disampaikan, melalui saluran apa, kepada siapa pesan ditujukan, dan pengaruh yang muncul setelahnya. Kerangka tersebut menurutnya dapat membantu seseorang mengevaluasi komunikasi yang telah dilakukan.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya melihat kembali apakah pesan yang disampaikan sudah dipahami oleh penerima. Salah satu cara yang ia tawarkan adalah meminta pendengar menceritakan kembali pesan yang diterima. Dari situ dapat dilihat apakah pemahaman penyampai dan penerima pesan sudah sama.
“Sudah efektifkah komunikasi politik kita?” tanyanya.
Ning Lia juga membahas pentingnya kedekatan dengan publik dalam komunikasi politik. Menurutnya, keterlibatan yang terasa langsung dapat membuat komunikasi lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Pemahaman terhadap kebutuhan orang lain menjadi bagian penting dalam membangun kesan di hadapan publik.
Komunikasi politik juga berkaitan dengan citra. Ning Lia menjelaskan citra politik tidak selalu menggambarkan keadaan sebenarnya. Citra terbentuk dari pesan yang disampaikan, simbol yang digunakan, pengalaman masyarakat, serta bagaimana publik menafsirkan semua itu.
“Citra politik apa yang ingin dibangun?” katanya.
Pertanyaan tersebut menurut Ning Lia perlu dijawab melalui strategi komunikasi yang sesuai dengan karakter audiens. Perkembangan media digital membuat masyarakat memiliki banyak saluran untuk mendapatkan informasi sekaligus memberikan respons terhadap pesan politik.
Ning Lia menjelaskan ruang digital juga membentuk pola baru dalam penyebaran informasi. Pesan dapat bergerak melalui jaringan masyarakat dan diteruskan oleh orang-orang yang memiliki pengaruh terhadap lingkungan sekitarnya. Dalam kondisi tertentu, opini yang berkembang di ruang digital juga dapat membuat orang memilih menyampaikan atau menahan pendapatnya.
Ia juga mengingatkan bahwa media memiliki peran dalam menentukan isu yang mendapat perhatian publik. Informasi yang terus muncul dapat memengaruhi cara masyarakat melihat persoalan tertentu. Karena itu, komunikasi politik di ruang digital perlu mempertimbangkan bagaimana sebuah pesan diterima dan membentuk pemahaman publik.
“Media mengarahkan fokus kita. Media membentuk dunia kita,” jelas Ning Lia.
Perubahan pola komunikasi tersebut juga berkaitan dengan karakter Generasi Z. Ning Lia menyebut generasi ini memiliki akses informasi yang cepat dan perhatian terhadap isu sosial-politik, korupsi, ekonomi, serta lingkungan. Mereka juga cenderung mempertimbangkan aspek etika ketika menilai berbagai pilihan.
Menurut Ning Lia, karakter tersebut membuat komunikasi politik perlu disesuaikan dengan cara generasi muda menerima informasi. Pesan yang disampaikan tidak cukup hanya dibuat untuk menarik perhatian, tetapi perlu dipikirkan dampaknya terhadap pemahaman dan respons publik.
Pada bagian akhir, Ning Lia mengajak peserta membangun pendidikan politik yang mampu menghadirkan kesepahaman di tengah perbedaan. Ia menilai perkembangan digital perlu diikuti kemampuan membaca realitas dan memahami perubahan cara masyarakat berkomunikasi.
“Kita bangun kesepahaman di tengah perbedaan dan menguatkan pendidikan politik yang persuasif demi keberlanjutan demokrasi,” ujarnya.
*) Penulis: M Habib Muzaki













