22.8 C
Malang
Minggu, Februari 25, 2024
OpiniMartabat Bangsa

Martabat Bangsa

Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir.

KATA pepatah, ”Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang.” Lalu, “Manusia mati meninggalkan nama.”

Tentu nama baik, bukan nama buruk. Nama baik dengan segala benih kebaikan sebagai makhluk berakal budi, yang melahirkan keadaban dan peradaban.

Bagi bangsa Indonesia, martabat dan nilai utama itu hidup subur dalam nilai dasar Pancasila, agama, dan kebudayaan luhur bangsa. Ketiganya menjadi patokan berperilaku yang penting dan bermakna agar bangsa ini selalu berada di jalan benar, baik, dan pantas. Sebaliknya tidak terjerumus pada jalan salah, buruk, dan tidak patut.

Sebaliknya, tidak sedikit perusak sistem.

Alam semesta ciptaan Tuhan yang dianugerahkan kepada manusia pun, di tangan sang perusak, menjadi hancur dan dihancurkan. Apalagi sistem dan ekosistem bikinan manusia sendiri. Tuhan pun memperingatkan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia…” (QS ar-Rum: 41).

Manusia pada dasarnya baik, bahkan bertuhan dan beragama. Tetapi elemen buruk yang bernama hawa nafsu sering membuat manusia lupa diri.

Manusia tenggelam dalam segala hasrat yang ambisius yang menjadikan dirinya serakah sekaligus sesat jalan. Sistem kehidupan dikorbankan demi meraih kekuasaan, uang, dan segala pesona duniawi yang sebesar-besarnya dan selanggeng mungkin.

Lantas, manusia menjadi rakus dunia dan menghalalkan segala cara demi mewujudkan segala ambisi hidupnya yang tak berkesudahan. Sebagaimana ilustrasi nyata dalam firman Allah, “Al-hakumut-takasur, ḥatta zurtumul-maqabir”, artinya “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS at-Takatsur: 1-2).

Karenanya manusia dan bangsa yang beriman mesti kembali ke fitrah atau jati diri yang murni guna meraih martabat utama selaku insan yang diciptakan mulia (fi ahsan at-taqwim) manakala telah diliputi hasrat duniawi yang berlebihan.

Dunia dengan segala kontestasi apapun, termasuk pemilihan umum dalam politik, hanyalah nisbi dan tidak abadi. Watak kontestasi itu “al-ghurur”, serba penuh permainan yang mesti disikapi kewaspadaan tinggi dengan nilai luhur dan kekayaan akal budi.

Hati-hati di kala sukses dan bergelimang kuasa takhta maupun harta, semua merupakan ujian Tuhan yang akan ada akhirnya. Roda kehidupan itu selalu dipergilirkan Tuhan yang Mahakuasa. Tuhan Maha Segalanya dalam membolak-balikkan seluruh digdaya manusia yang sifatnya sementara dan fana.

Maka, berkontestasilah dalam segala aktivitas hidup secara bermartabat, dengan cara yang halal dan baik. Junjung tinggi etika dan nilai utama kehidupan.

Meski siapapun bisa keluar menjadi pemenang dalam suatu kontestasi, bilamana diraih dengan curang dan segala muslihat, maka hasil akhirnya hanya akan menjadi beban diri dalam dosa dan pertanggungjawaban yang sangat berat di dunia hingga hari akhir.

Tidak ada yang berkah untuk nasib manusia atau kelompok yang menghalalkan segala cara dalam meraih tujuan hidup. Di dunia akan terus dikejar dosa dan beban berat tak berkesudahan, meski bermahkotakan kuasa yang tampak gagah perkasa, tapi sejatinya simulakra.

Jikalau lolos di dunia, pasti di akhirat akan dijerat hisab dan siksa Tuhan yang sangat pedih dan mengerikan! (*)

Prof Dr Haedar Nashir, Penulis adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Lihat Juga Tag :

Populer