MAKLUMAT — Ada satu pelajaran penting yang sering luput ketika membicarakan Makan Bergizi Gratis (MBG): anak-anak bukan hanya diberi makan bergizi, tetapi juga sedang belajar. Ya, mereka belajar bagaimana menjadi manusia ketika makan bersama orang lain.
Meja makan bukan sekadar tempat bertemunya nasi, lauk, sayur, dan buah. Ia adalah ruang kecil tempat seorang anak belajar tentang disiplin, kebersihan, rasa syukur, penghormatan, tanggung jawab, dan tenggang rasa.
Di banyak keluarga Barat, pendidikan table manner dimulai sejak anak masih kecil. Anak dibiasakan duduk dengan tertib, menggunakan alat makan dengan benar, mengunyah dengan mulut tertutup, meminta sesuatu dengan sopan, dan mengucapkan terima kasih. Bukan karena orang tua sedang mempersiapkan anak menghadiri jamuan makan kenegaraan. Yang lebih penting adalah membentuk kebiasaan.
Jepang memiliki pendekatan yang berbeda. Etika makan di negeri berjuluk Negeri Matahari Terbit tidak berhenti pada bagaimana menggunakan sumpit. Anak diajarkan mengucapkan itadakimasu sebelum makan dan gochisousama deshita setelahnya.
Itadakimasu secara harfiah berarti “saya menerimanya dengan rendah hati”, yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih diartikan sebagai “selamat makan” atau “saya mulai makan”. Sementara gochisousama deshita berarti “terima kasih makanannya”.
Ada bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada makanan di sana. Penghormatan kepada orang yang menyiapkannya, kepada alam, dan kepada tangan-tangan “rantai pasok” yang memungkinkan makanan hadir di atas meja.
Di sekolah, sistem kyushoku –MBG versi Jepang– menjadikan makan siang sebagai bagian dari pendidikan karakter. Anak tidak sekadar menerima makanan. Mereka belajar antre, berbagi tugas, makan bersama, membersihkan tempat makan, dan bertanggung jawab terhadap apa yang telah mereka gunakan.
Indonesia tentu tidak harus menjadi Barat. Indonesia juga tidak perlu menjadi Jepang. Kita memiliki tradisi sendiri. Dalam banyak keluarga Indonesia, anak diajarkan mendahulukan orang tua, menggunakan tangan kanan ketika makan, meminta tolong ketika hendak mengambil lauk yang jauh, tidak berbicara dengan mulut penuh, tidak mengecap, menjaga posisi duduk, berdoa sebelum dan sesudah makan, serta mengambil makanan secukupnya agar tidak tersisa.
Semua itu memiliki satu benang merah: menghormati orang lain. Karena itu, MBG tidak hanya program pemenuhan kebutuhan gizi. Ia dapat menjadi sekolah karakter yang berlangsung setiap hari.
Bayangkan seorang anak datang ke meja makan. Sebelum makan, ia mencuci tangan.
Ia mengantre tanpa menyerobot. Ia duduk dengan tertib. Ia berdoa. Ia tidak bermain gawai.
Ia tidak berbicara ketika mulutnya penuh. Ia meminta lauk yang jauh dengan sopan.
Ia tidak mengejek makanan yang tidak disukainya. Ia berusaha menghabiskan makanan yang telah diambilnya.
Setelah selesai, ia merapikan tempat makan dan membuang sampah pada tempatnya. Besok, ia melakukan hal yang sama. Lusa, hal yang sama lagi. Bulan depan, hal yang sama. Tahun depan, mungkin tanpa perlu diperintah lagi. Di situlah pendidikan karakter bekerja.
Bukan melalui ceramah yang panjang. Bukan melalui poster yang ditempel di dinding kelas. Bukan pula melalui hafalan tentang sopan santun. Karakter sering kali tumbuh dari sesuatu yang dilakukan berulang-ulang sampai menjadi kebiasaan. MBG memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak program pendidikan karakter: ia hadir setiap hari dan menyentuh kehidupan anak secara langsung.
Setiap ompreng MBG dapat menjadi media pendidikan. Anak belajar bahwa makanan tidak datang begitu saja. Ada petani yang menanamnya, ada peternak yang memelihara, ada nelayan yang menangkap ikan, ada pekerja yang mengolah, ada juru masak yang memasak, dan ada banyak tangan yang membuat makanan itu akhirnya sampai di meja sekolah. Di balik sepiring makanan terdapat rantai panjang kerja manusia.
Maka menghabiskan makanan bukan semata-mata soal tidak membuang makanan. Ia dapat menjadi pelajaran tentang menghargai kerja. Begitu pula ketika seorang anak meminta temannya mengoper lauk. Kelihatannya sepele.
Tetapi di situ ia sedang belajar bahwa keinginannya tidak boleh membuat dirinya melewati ruang orang lain. Ia belajar meminta, bukan merebut. Ia belajar bahwa hidup bersama membutuhkan batas. Begitu pula ketika guru mengingatkan anak agar tidak mengejek menu. Anak mungkin tidak menyukai brokoli. Itu tidak masalah. Ia boleh mengatakan, “Saya tidak suka.”
Tetapi ia belajar tidak menghina. Itulah tenggang rasa.
Di sinilah kita perlu memperluas cara pandang terhadap MBG. Program makan bergizi tidak cukup hanya menghasilkan anak yang kenyang dan sehat. Ia seharusnya juga menghasilkan anak yang tahu bagaimana bersikap ketika hidup bersama orang lain.
Sebab bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan manusia yang pintar.
Ia membutuhkan manusia yang mengerti antre, mampu menunggu, mampu berbagi, mampu mengucapkan terima kasih, mampu menghargai makanan, dan mampu menghormati orang lain.
Semua pelajaran besar itu bisa dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: cara seorang anak duduk di meja makan.
Barangkali, kelak kita akan lupa berapa banyak makanan yang pernah dibagikan melalui MBG.
Kita juga mungkin lupa berapa ton beras yang pernah dimasak, berapa kilogram ayam yang pernah disajikan, atau berapa banyak sekolah yang pernah menjadi tempat makan bersama.
Tetapi ada sesuatu yang seharusnya tidak kita lupakan.
Apa yang sedang kita ajarkan kepada anak-anak ketika duduk di depan makanan?
Apakah kita hanya sedang mengajarkan mereka makan sampai kenyang?
Ataukah kita sedang mengajarkan mereka untuk menunggu giliran, mengucapkan terima kasih, menghargai makanan, menghormati teman, menjaga kebersihan, dan bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan?
Dua puluh menit di meja makan mungkin terlihat terlalu singkat untuk mengubah seorang anak.
Tetapi dua puluh menit yang dilakukan setiap hari, selama bertahun-tahun, bisa menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan yang dilakukan terus-menerus, pada akhirnya, menjadi karakter.
Maka jangan biarkan MBG berhenti sebagai program untuk mengisi perut.
Jadikan meja makan sebagai sekolah pertama tempat Indonesia mengajarkan anak-anaknya tentang cara menjadi manusia.
Karena mungkin, suatu hari nanti, kualitas bangsa ini tidak hanya terlihat dari seberapa pintar anak-anak kita berbicara dan berhitung. Tetapi juga dari hal yang sederhana:
bagaimana mereka duduk, bagaimana mereka makan, bagaimana mereka memperlakukan makanan, dan bagaimana mereka memperlakukan orang yang duduk di sebelahnya.
Di situlah pendidikan karakter sesungguhnya dimulai.
Dari meja makan.***
*) Penulis: Dr. Mariman Darto, S.E., M.Si.
Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN














