Menggugat Berhala Angka: Ikhtiar Mengembalikan Jiwa Gerakan Pelajar

angka

MAKLUMAT — Ada sebuah kecenderungan yang mengkhawatirkan dalam kultur berorganisasi kita hari ini: kita sering kali lebih mencintai statistik daripada manusia itu sendiri. Di atas lembar-lembar Laporan Pertanggungjawaban (LPJ), kita dengan bangga memamerkan deretan angka kuantitatif—puluhan plakat yang dipertukarkan, ratusan program kerja yang diklaim sukses, hingga grafik impresi media sosial yang melonjak tajam.

Kita merayakan angka-angka itu seolah-olah ia adalah representasi mutlak dari keberhasilan ideologis. Namun, tepat setelah laporan itu dijilid rapi dan keriuhan tepuk tangan usai, sebuah kenyataan pahit kerap kali mengetuk pintu kesadaran kita. Kita mendapati bahwa di luar ruang rapat yang nyaman itu, kegelisahan, kerentanan, dan problem riil pelajar di akar rumput tidak bergeser satu sentimeter pun.

Kita terjebak dalam apa yang dalam sosiologi disebut sebagai fungsionalisme birokratis—sebuah jebakan di mana struktur terus berputar tanpa menghasilkan perubahan nyata.

Realitas Pelajar di Persimpangan Disrupsi

Kita harus berani jujur melihat keluar. Kita sedang hidup di era di mana problem pemuda dan pelajar tidak lagi bersifat linear atau sederhana. Pelajar hari ini tidak sekadar membutuhkan ruang rekreasi sosiologis bernama organisasi; mereka sedang bertarung mengarungi samudra disrupsi yang luar biasa destruktif.

Di satu sisi, mereka memiliki akses pengetahuan yang nyaris tanpa batas akibat penetrasi teknologi digital. Namun di sisi lain, lompatan teknologi ini tidak dibarengi dengan kesiapan infrastruktur mental dan sosial yang memadai.

Akibatnya, kita menyaksikan fenomena yang paradoks. Di balik layar gawai yang berkilau, pelajar kita sedang babak belur dihantam kecemasan akademik yang akut, isolasi sosial di tengah keramaian virtual, hingga perundungan siber (cyberbullying) yang jalurnya tak kasat mata namun efeknya mematikan.

Baca Juga  IPM Jatim Geser Orientasi Gerakan, Fokus Bangun Ekosistem Kaderisasi

Belum lagi ancaman struktural baru seperti jeratan perjudian daring dan adiksi digital yang perlahan mengikis orientasi hidup generasi muda. Dalam kacamata kesejahteraan sosial, pelajar hari ini sedang mengalami penurunan kualitas hidup (social well-being) yang serius. Mereka kerap kali merasa sendirian, cemas menghadapi masa depan, dan kehilangan pegangan moral.

Sudah saatnya kita melakukan dekonstruksi menyeluruh terhadap cara kita memandang esensi gerakan. Kita harus berani bermigrasi dari gerakan yang sekadar mengejar output mekanis, menuju sebuah organisasi yang berbasis dampak nyata (impact-driven).

Mendekonstruksi Kacamata Evaluasi

Prinsip dasar dari sebuah organisasi yang berbasis dampak adalah keberanian untuk meruntuhkan menara gading birokrasi dan mengubah kacamata evaluasi secara radikal. Evaluasi organisasi tidak boleh lagi terjebak pada aspek-aspek prosedural-administratif.

Pertanyaan mendasar kita ke depan tidak boleh lagi berhenti pada pertanyaan mekanis seperti, “Berapa banyak anggaran yang telah terserap?” atau “Berapa banyak program kerja yang berhasil dituntaskan?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu hanya akan melahirkan para administrator organisasi, bukan pemimpin perubahan.

Kita harus menggeser diskursus evaluasi tersebut menuju pertanyaan yang lebih eksistensial dan substantif: “Berapa banyak ruang aman yang berhasil kita ciptakan untuk menyelamatkan kesehatan mental pelajar di sekolah-sekolah? Sejauh mana kebijakan advokasi kita mampu membentengi mereka dari disrupsi siber? Dan berapa banyak pelajar rentan yang berhasil kita dampingi hak-hak pendidikannya?”

Memanusiakan Manusia dan Gerakan Akar Rumput

Pilar pertama adalah reposisi orientasi pembinaan yang berpusat pada manusia (human-centered approach). Kita harus mengakhiri praktik organisasi yang memperlakukan kader secara instrumental.

Baca Juga  PII dan MBM Jajaki Kerja Sama, Perkuat Kolaborasi Organisasi Pemuda Lintas Negara

Kader tidak boleh lagi diposisikan sebagai sekadar “alat produksi”, angka statistik dalam daftar presensi, atau penopang teknis yang dicari hanya saat pimpinan membutuhkan tenaga untuk menyukseskan program kerjanya. Pendekatan yang eksploitatif secara halus ini justru sering menjadi sumber tekanan baru bagi pelajar.

Sebaliknya, organisasi harus menempatkan dirinya sebagai ekosistem pendukung. Program kerjalah yang harus mengabdi pada pertumbuhan dan kesejahteraan psikososial kader. Organisasi harus bertransformasi menjadi laboratorium kemanusiaan yang aman, inklusif, dan suportif; tempat di mana setiap kader didampingi untuk mengenali potensi dirinya, mengasah kepekaan krisis, dan menumbuhkan empati sosial yang tajam. Kita ingin melahirkan kader yang tidak hanya cakap secara manajerial, tetapi juga utuh secara kemanusiaan.

Pilar kedua adalah lahirnya gerakan-gerakan solutif yang langsung menghujam ke akar rumput melalui pendekatan dakwah kultural yang organik. Kita tidak lagi mengukur eksistensi gerakan dari seberapa megah panggung yang kita dirikan, melainkan dari seberapa dalam kita mengintervensi persoalan riil di masyarakat. Gerakan organisasi harus termaterialisasi menjadi jawaban nyata atas jeritan zaman.

Secara praktis, komitmen berbasis dampak ini harus mewujud dalam bentuk-bentuk aksi konkrit di lapangan. Kita perlu menginisiasi gerakan seperti Konselor Inklusi, sebuah ruang pendampingan psikologis sebaya di sekolah-sekolah untuk memitigasi kasus perundungan dan depresi remaja.

Kita juga harus menggerakkan kembali kantong-kantong literasi alternatif—seperti Kampung Buku—yang bergerak dinamis memperluas akses pengetahuan bagi anak-anak di wilayah pinggiran, maritim, maupun daerah miskin kota yang selama ini terpinggirkan dari akses pendidikan berkualitas. Advokasi publik yang kita lakukan harus bergeser dari sekadar wacana elite menjadi kerja-kerja pendampingan kebijakan yang inklusif bagi seluruh lapisan pelajar.

Baca Juga  Kiprah Mohammad Yuda Wahyu Saputra, Ketua Umum IPM Jatim Periode 2026–2028

Menenun Kembali Jiwa Gerakan

Ikhtiar untuk menggeser kemudi organisasi menuju gerakan berbasis dampak ini adalah sebuah komitmen untuk meruntuhkan dinding pembatas antara organisasi dan realitas sosial. Kita ingin memastikan bahwa kapal besar gerakan pelajar ini tidak sedang berlayar di atas awan ruang-ruang seminar yang sarat akan utopia teori, melainkan sedang mendayung, menerjang ombak, dan membersamai realitas sosial yang dihadapi oleh pelajarnya setiap hari.

Kita harus menyadari bahwa organisasi yang kehilangan relevansinya terhadap problem zamannya adalah organisasi yang sedang berjalan menuju kematiannya sendiri, terlepas dari seberapa megah kantor atau seberapa rapi strukturnya dibentuk.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan pernah mencatat seberapa sering kita berkumpul dalam ruang-ruang sidang yang formal dan megah. Sejarah juga tidak akan terkesan dengan tebalnya tumpukan dokumen LPJ yang kita wariskan di akhir masa jabatan. Sejarah hanya akan mengingat satu hal: seberapa banyak perubahan bermakna yang berhasil kita titipkan pada garis hidup masyarakat dan seberapa besar kemaslahatan yang dirasakan oleh manusia di sekitar kita.

Ketika kita sebagai pelajar berani melangkah keluar dari jebakan berhala angka dan metrik yang semu, lalu mulai menaruh seluruh fokus, energi, dan cinta kita pada dampak nyata di masyarakat, di situlah kita sedang tidak hanya merawat sebuah organisasi. Di situlah, kita sedang bersama-sama menenun kembali masa depan peradaban

 

*) Penulis: M Yuda Wahyu Saputra

Ketua Bidang Advokasi dan Kebijakan Publik PW IPM Jawa Timur, Mahasiswa S1 Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)