22.4 C
Malang
Minggu, Februari 25, 2024
KilasMuncul Spekulasi Pilpres 2024 Hanya Diikuti Dua Paslon, Abdul Mu'ti: Rakyat Perlu...

Muncul Spekulasi Pilpres 2024 Hanya Diikuti Dua Paslon, Abdul Mu’ti: Rakyat Perlu Lebih Banyak Pilihan

Sekum PP Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu’ti

PENDAFTARAN Calon Presiden dan Wakil Presiden (Capres-Cawapres) sebagai kontestan pemilihan umum (Pemilu) tahun 2024 masih akan dibuka sekitar tiga pekan ke depan. Sesuai tahapan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia baru menerima pendaftaran Capres-Cawapres untuk Pilpres pada 19-25 Oktober 2024.

Saat ini, baru pasangan calon (Paslon) Anies Rasyid Baswedan dan Muhaimin Iskandar (Amin) yang sudah mendeklarasikan diri sebagai pasangan Capres-Cawapres. Sementara, baik itu Prabowo Subianto maupun Ganjar Pranowo, belum juga menentukan pasangannya.

Ketika situasi dan dinamika politik yang masih belum menentu tersebut, muncul spekulasi dan kekhawatiran dari beberapa kalangan, jika dalam Pemilu 2024 mendatang, pemilihan Presiden (Pilpres) kembali hanya akan diikuti oleh dua pasangan calon (Paslon) sebagai kontestan. Layaknya dalam Pemilu 2019 lalu.

Mengamati dinamika itu, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu’ti turut angkat bicara soal kemungkinan jika hanya dua Paslon yang akan kembali berkontestasi dalam Pilpres 2024 mendatang.

Prof Mu’ti mengingatkan, penting untuk berkaca pada pengalaman di Pemilu 2019, agar tidak terjadi polarisasi di masyarakat. Yang mana polarisasi tersebut berpotensi dan sangat mungkin bisa terjadi, jika dalam Pemilu 2024 nanti hanya diikuti oleh dua pasang kontestan Capres-Cawapres. Sebab, dinamika politik hari ini memang masih sangat cair terhadap segala kemungkinan.

“Kalau Pemilihan Presiden 2024 hanya diikuti oleh dua pasang calon Presiden-Wakil Presiden, polarisasi politik seperti Pilpres 2019 akan terulang kembali,” tulis pria karib disapa Abe Mukti di akun sosial media X miliknya, Jumat (22/9/2023)

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta itu berpendapat, rakyat seharusnya diberikan opsi yang lebih variatif, serta tidak dipaksakan untuk hanya percaya dan menerima dengan hanya dua pilihan. Yang tentu berpotensi menimbulkan pembelahan dan gesekan lebih tinggi.

“Rakyat perlu diberikan lebih banyak pilihan, tidak di faith a comply dengan hanya dua pilihan,” tandas Mubaligh kelahiran Kudus, Jawa Tengah itu.

Sebagai informasi, dalam Pilpres 2019, pasangan calon Joko Widodo dan Makruf Amin bertarung sengit dengan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno untuk bisa terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden.

Kontestasi antara kedua paslon Presiden dan Wakil Presiden menyebabkan pembelaan dan polarisasi di dalam masyarakat. Kedua pendukung Paslon saling sereng dengan narasi negatif, bahkan ada pengkotak-kotakan pendukung dengan sebutan Cebong dan Kampret.(*)

Reporter: Ubay NA 

Editor: Aan Hariyanto 

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Lihat Juga Tag :

Populer