MAKLUMAT — Perjalanan Najmi Ali Arba’i di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) tak datang secara instan. Pemuda kelahiran Lamongan, 11 Februari 2005 ini menapaki jenjang organisasi dari tingkat ranting hingga daerah, sebelum akhirnya dipercaya mengemban amanah di tingkat wilayah Jatim.
Najmi kini sedang mendapat amanah sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Wilayah (PW) IPM Jatim Periode 2026-2028, setelah melalui mekanisme Musyawarah Wilayah (Musywil) XXIV IPM Jatim yang digelar di BBPPMPV BOE, Kota Malang pada Jumat–Ahad, 3–5 Juli 2026.
“Musywil telah menjadi ruang demokrasi organisasi yang mempertemukan berbagai gagasan. Kini saatnya seluruh energi itu disatukan dalam semangat kolaborasi,” ucapnya saat diwawancarai wartawan Maklumat.id pada Senin (6/7/2026).
Jejak Pengabdian dari Ranting ke Wilayah
Najmi menempuh pendidikan dasar dan menengah di kampung halamannya, Paciran, Lamongan. Mulai dari SDN Kandang Semangkon, MTsM 02 Karangasem, hingga SMAS Al-Fattah. Ia kini melanjutkan studi di UPN Veteran Jatim.
Jejak organisasinya di IPM dimulai ketika ia dipercaya sebagai Ketua Umum Pimpinan Ranting (PR) IPM MTsM 02 semasa masih berstatus pelajar madrasah tsanawiyah. Kiprahnya berlanjut sebagai Anggota Bidang Pengkajian dan Kajian Keilmuan (PKK) di Pimpinan Cabang (PC) IPM Paciran, sebelum kemudian dipercaya sebagai Sekretaris Bidang Organisasi di Pimpinan Daerah (PD) IPM Lamongan.
Pengalaman berjenjang dari tingkat ranting, cabang, hingga daerah itu menjadi bekal Najmi dalam memahami dinamika organisasi pelajar dari akar rumput. Ketekunannya mengurus administrasi dan keorganisasian di berbagai level kepengurusan turut membentuk kapasitasnya sebagai kader yang siap mengemban tanggung jawab lebih besar.
IPM, Ekosistem Pembelajaran Kepemimpinan
Bagi Najmi, IPM adalah organisasi pelajar yang menyediakan ekosistem pembelajaran kepemimpinan sekaligus laboratorium peradaban. Ia meyakini perubahan besar selalu berawal dari proses kaderisasi yang baik.
Berbekal keyakinan tersebut, Najmi sejak awal memilih IPM sebagai ruang strategis untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral, spiritual, dan sosial.
Baginya, proses pembentukan diri tidak hanya berlangsung melalui satu jalur. Pengalaman di ruang akademik, organisasi, dan lingkungan sosial menjadi bagian yang saling melengkapi dalam membentuk cara berpikir serta sikap kepemimpinan.
“Saya percaya bahwa keseimbangan lahir dari kemampuan mengelola amanah. Kuliah merupakan tanggung jawab akademik, organisasi adalah ruang pembentukan kepemimpinan, sedangkan aktivitas sosial merupakan implementasi dari nilai kebermanfaatan,” ujarnya.
Menurutnya, ketiganya dapat berjalan beriringan apabila dibangun di atas disiplin, manajemen prioritas, dan budaya kerja kolektif. Dengan kepemimpinan yang saling menguatkan dalam satu tim, ketiga aspek tersebut dapat berkembang secara selaras.
Kebermanfaatan yang Lebih Luas
Dengan rekam jejak organisasi yang berjenjang rapi dari ranting hingga daerah, sosok Najmi Ali Arba’i telah menjadi salah satu wajah muda IPM Jatim yang tumbuh dari struktur paling dasar sebelum menapaki jenjang kepemimpinan yang lebih luas.
Pengalaman berorganisasi sejak tingkat ranting hingga daerah membentuk cara pandang Najmi dalam melihat arti sebuah kepemimpinan. Setiap proses yang dilalui menjadi ruang belajar untuk memahami dinamika organisasi sekaligus melatih kepekaan terhadap kebutuhan pelajar.
Ia lalu menegaskan bahwa keberhasilan organisasi tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, melainkan dari perubahan nyata yang mampu dirasakan oleh pelajar dan masyarakat.
Menurutnya, capaian organisasi harus bermuara pada kebermanfaatan yang lebih luas. “Keberhasilan organisasi pada akhirnya tidak diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari perubahan yang mampu dirasakan oleh pelajar dan masyarakat,” tandasnya.
*) Penulis: Lail Zahwa Efrilia Dwi Efendi













