MAKLUMAT — Di negeri +62, kurs mata uang dolar AS kini seperti harga cabai: naiknya cepat, turunnya menunggu wangsit. Ketika rupiah menyentuh kisaran Rp17.600 per dolar AS, Presiden Prabowo Subianto dengan tenang berkata: “Orang desa nggak pakai dolar.” Dan tersenyumlah mereka yang tidak punya logika berpikir normal.
Kalimat itu terdengar seperti kombinasi antara pidato ekonomi dan punchline stand-up comedy. Dan memang, mungkin beginilah era modern bekerja: rakyat cukup dibuat tersenyum dan tidak lagi sempat berpikir kebijakan apa yang bisa menenteramkan mereka.
Masalahnya, ekonomi bukan sinetron religi yang selesai dengan senyum optimistis. Dolar memang tidak dipakai beli gorengan di desa, tetapi harga pupuk, pestisida, hingga solar untuk traktor diam-diam ikut berdoa kepada Federal Reserve. Ketika rupiah melemah, biaya produksi petani ikut naik melalui mekanisme imported inflation dan pass-through effect. Bahkan tahu dan tempe pun bisa ikut “go international” tanpa visa.
Di titik inilah teori filsuf Prancis Jean Baudrillard terasa relevan. Baudrillard mengatakan bahwa masyarakat modern hidup dalam simulacra: realitas digantikan citra dan narasi yang terasa nyaman. Dalam dunia simulasi, ucapan “orang desa tidak pakai dolar” menjadi lebih penting daripada fakta bahwa harga kebutuhan desa justru dipengaruhi dolar.
Petani mungkin tidak memegang dolar, tetapi ia memegang cangkul yang harga besinya mengikuti pasar global. Nelayan mungkin tidak punya rekening valas, tetapi harga solar kapalnya berkedip mengikuti geopolitik Timur Tengah. Bahkan ayam geprek di pinggiran sawah diam-diam sudah menjadi korban globalisasi moneter.
Ironisnya, rakyat Indonesia memang punya bakat luar biasa dalam beradaptasi. Saat rupiah melemah, netizen membuat meme. Saat harga naik, rakyat bilang, “Yang penting masih bisa ngopi.” Dan ketika pejabat bicara santai soal dolar, masyarakat ikut tertawa, meski sambil menghitung cicilan. Barangkali inilah kejeniusan bangsa ini, mengubah krisis menjadi humor nasional.
Namun ekonomi tetap punya logika dingin. Data Bloomberg menunjukkan rupiah sudah jauh dari asumsi APBN 2026 yang dipatok sekitar Rp16.500 per dolar AS. Artinya, ada jarak antara pidato dan pasar. Dan pasar, sayangnya, tidak bisa dibujuk dengan kalimat motivasi. Sebab pada akhirnya, dolar memang tidak dipakai di desa. Tapi dampaknya datang diam-diam: lewat harga minyak goreng, ongkos pupuk, tarif transportasi, dan nasi pecel yang porsinya makin filosofis, sedikit, tetapi mengandung makna mendalam.
Semoga pembuat kebijakan segera punya cara jitu untuk memperbaiki semua kondisi yang menyiksa ini dan tidak menutupinya dengan guyonan yang tak berarti.













