Oto Iskandar Di Nata dan Muhammadiyah: Inspirasi Keberanian bagi Generasi Muda

Kebangkitan Nasional di tengah kelesuan ekonomi

MAKlUMAT — Nama Oto Iskandar di Nata selama ini lebih dikenal sebagai pahlawan nasional yang wajahnya terpampang pada uang Rp20.000 serta sebagai tokoh perjuangan yang berjasa dalam proses lahirnya Republik Indonesia. Namun, tidak banyak generasi muda yang mengetahui bahwa tokoh berjuluk “Si Jalak Harupat” itu juga memiliki kedekatan dengan dunia pendidikan Muhammadiyah.

Kiprah Otto di Muhammadiyah bukan sekadar catatan kecil dalam perjalanan hidupnya, melainkan bagian penting dari proses pembentukan karakter perjuangannya. Saat pindah ke Jakarta pada 1928, Otto aktif menjadi guru dan kepala sekolah di lingkungan Muhammadiyah, termasuk di HIS Muhammadiyah Kramat Raya. Dari ruang-ruang pendidikan itulah ia menanamkan nilai kebangsaan, keberanian berpikir, dan semangat kemerdekaan kepada generasi muda pribumi.

Bagi Muhammadiyah, pendidikan memang bukan hanya sarana mencerdaskan, tetapi juga alat perjuangan untuk membangun kesadaran umat dan bangsa. Oto Iskandar di Nata membuktikan bahwa seorang guru mampu menjadi penggerak perubahan sosial dan politik. Ia tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga aktif dalam dunia jurnalistik, organisasi, dan perjuangan nasional.

Semangat inilah yang seharusnya menjadi inspirasi bagi generasi muda Muhammadiyah saat ini. Di tengah era digital dan derasnya arus informasi, pemuda Muhammadiyah dituntut tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keberanian moral seperti Otto: berani menyuarakan kebenaran, kritis terhadap ketidakadilan, dan tetap berpihak pada kepentingan rakyat serta persatuan bangsa.

Baca Juga  Muhammadiyah Pelopor Modernisasi Halal Bihalal, Simak Fakta-fakta Berikut!

Otto dikenal sebagai sosok yang tegas menentang diskriminasi pendidikan kolonial Belanda terhadap pribumi. Keberaniannya dalam berbicara membuat ia dijuluki “Si Jalak Harupat”, simbol ketangguhan dan keberanian orang Sunda. Sikap ini relevan dengan semangat dakwah Muhammadiyah yang mendorong umat Islam menjadi pribadi berilmu, mandiri, dan berkemajuan.

Keterlibatannya dalam BPUPK dan PPKI menunjukkan bahwa kader yang lahir dari dunia pendidikan dan organisasi mampu mengambil peran strategis dalam menentukan arah bangsa. Otto tidak membatasi diri hanya sebagai pendidik, tetapi juga hadir sebagai negarawan. Hal ini menjadi pesan penting bahwa kader Muhammadiyah harus siap berkontribusi di berbagai bidang, baik pendidikan, sosial, politik, ekonomi, maupun media.

Lebih dari itu, akhir hayat Oto Iskandar di Nata juga mengajarkan pentingnya menjaga persatuan dan kejernihan berpikir. Ia menjadi korban fitnah dan kekacauan politik di masa revolusi. Tragedi tersebut menjadi pengingat bahwa bangsa ini dapat hancur jika dipenuhi prasangka, hoaks, dan konflik antarkelompok.

Teladan Bagi Generasi Muda

Generasi muda Muhammadiyah hari ini hidup di zaman yang berbeda, tetapi tantangannya tidak kalah berat. Polarisasi sosial, penyebaran informasi palsu, hingga lunturnya semangat kebangsaan menjadi ujian baru yang harus dihadapi. Karena itu, keteladanan Oto Iskandar di Nata menjadi sangat relevan: intelektual yang berani, pendidik yang mencerahkan, serta pejuang yang mengutamakan persatuan bangsa.

Baca Juga  LP UMKM PWM Jatim Gerak Cepat Ambil Peluang di Awal 2025

Muhammadiyah sejak awal berdiri dikenal melahirkan tokoh-tokoh pembaru yang bergerak melalui pendidikan dan pengabdian sosial. Oto Iskandar di Nata adalah salah satu contoh bahwa kader dan simpatisan Muhammadiyah mampu memberi pengaruh besar bagi bangsa Indonesia.

Mengenang Otto tidak cukup hanya dengan menghafal namanya dalam buku sejarah. Yang lebih penting adalah melanjutkan semangat perjuangannya: menjadikan ilmu sebagai alat pengabdian, menjadikan keberanian sebagai prinsip perjuangan, dan menjadikan persatuan bangsa sebagai tujuan utama.

Di tangan generasi muda Muhammadiyah, nilai-nilai perjuangan Oto Iskandar di Nata seharusnya tidak berhenti menjadi sejarah, tetapi hidup menjadi gerakan yang terus menginspirasi Indonesia berkemajuan.***