20.7 C
Malang
Senin, Juni 17, 2024
KilasParpol Diminta Membuka Ruang Seluas-luasnya untuk Kaderisasi Politik Anak Muda

Parpol Diminta Membuka Ruang Seluas-luasnya untuk Kaderisasi Politik Anak Muda

Ketua Umum Partai Pelita Beni Pramula.

KALANGAN muda akan sangat dominan dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Berdasarkan data KPU, pemilih dari generasi milenial saja persentasenya mencapai 33,60 persen, disusul Generasi X sebesar 28,07 persen dan Generasi Z yang menyentuh angka 22, 85 persen.

Meski angka itu tinggi, tapi menurut Ketua Umum Partai Pelita Beni Pramula, peran pemuda di dunia politik hari ini belum maksimal, dengan kecenderungan yang hanya sebatas menjadi follower.

Menurut dia, anak muda sebagai generasi penerus harus terus didorong dan difasilitasi untuk mampu berbuat banyak dalam ranah politik. Sebab, menurutnya anak muda memiliki segudang ide brilian dan kreatif yang bagus, namun tidak mendapatkan ruang yang cukup.

“Nah, bagaimana agar parpol ini kemudian menjadi salah satu media atau sarana untuk kaderisasi politik, sehingga orang-orang yang di dunia politik itu bukan orang yang itu-itu saja, ada regenerasi sosok, ada regenerasi ide,” ujarnya.

Mantan Ketua Umum DPP IMM itu berpendapat, ada dua faktor yang berpengaruh terhadap bagaimana anak muda itu bisa memengaruhi dan berperan aktif di dunia politik. “Pertama, dari keinginan anak muda itu sendiri. Mereka harus mau dan sadar, bahwa ide dan gagasan mereka itu diperlukan, dengan sarana melalui parpol itu,” jelasnya.

Kedua, lanjut Beni, parpol itu harus berbenah. Parpol harus menjadi ruang kaderisasi politik, sehingga SDM politisi itu tidak hanya diisi satu, dua, tiga orang elit itu saja. Sosok itu akan terus mengalami regenerasi dan memiliki kapabilitas yang bagus dari proses kaderisasi politik yang tepat.

Mantan Presiden Pemuda Asia-Afrika (AAYC) itu lantas mendorong agar anak muda bukan hanya harus melek politik, tetapi juga bersemangat untuk masuk dan berjuang di dunia politik melalui parpol-parpol. “Sebab dengan masuk ke parpol, peluang suara kita untuk didengar itu kan semakin besar, dengan masuk ke parpol suara kita juga akan bisa memengaruhi dalam pengambilan kebijakan publik. Jadi jangan anti terhadap parpol,” pesannya.

Senada dengan itu, besarnya jumlah pemilih dari kalangan muda itu menjadi perhatian Direktur DEEP Indonesia Neni Nur Hayati. Dia berharap, agar kalangan muda tidak apatis terhadap politik. “Kita tentu tidak ingin anak muda yang apatis kan, kita mendorong anak-anak muda yang kritis dan berpikir rasional,” katanya saat menjadi narasumber dalam DialektikaMu yang ditayangkan oleh kanal tvMu.

Menurut dia, dengan jumlah pemilih muda yang fantastis itu semestinya bisa menjadi penentu arah politik Indonesia ke depan. Namun, Neni mengaku sedikit sangsi dengan hal itu, menurutnya gejala pemilih muda masih banyak bersifat swing voters dan masih cukup jarang ditemui anak-anak muda yang ikut serta terlibat dalam diskusi-diskusi dan perdebatan-perdebatan politik, terutama di media sosial.

“Anak-anak muda ini kan melihat media sosial sebagai sebuah hiburan, yang receh, yang ringan-ringan gitu,” terangnya.

Lalu, lanjut Neni, apakah kelompok pemilih muda ini menjadi faktor penentu perubahan atau justru hanya berada di persimpangan dan hanya sebatas di atas kerja saja?

Lebih lanjut, perempuan asal Bandung itu menyebut adanya absurditas dalam politik Indonesia, bahwa besarnya proporsi pemilih muda di Pemilu 2024 tidak berbanding lurus dengan terbukanya peluang yang cukup dan memadai untuk anak-anak muda bisa terlibat dalam kontestasi politik. “Ini memprihatinkan, akibat dari perilaku elitis dari parpol yang sebetulnya mempersempit ruang bagi anak muda untuk terlibat,” kritiknya.

Dalam kacamata Neni, tokoh-tokoh muda yang dianggap sebagai keterwakilan dari anak muda di KSP tidak terlalu terlihat sepak terjangnya, malah seolah hanya menjadi pelengkap saja. “Ada permasalahan struktural dalam parpol yang itu sangat menghambat kaderisasi politik. Selain budaya senioritas yang mengutamakan yang lebih senior, perilaku elitis parpol, juga problem nepotisme yang mengakar. Siapa yang dekat dengan petinggi partai, yang punya akses ke kekuasaan, itu lebih diutamakan, lebih mudah. Anak muda pada akhirnya sejauh ini masih seolah menjadi komoditas partai saja,” jelasnya. (*)

Reporter: Ubay

Editor: Aan Hariyanto

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Lihat Juga Tag :

Populer