MAKLUMAT — Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ponorogo, Imam Mujahid menutup talkshow Semarak Kartini yang digelar Bidang Immawati PC IMM Ponorogo di Aula Lantai 2 PDM Ponorogo, Jumat (1/5/2026).
“Perempuan hari ini sudah banyak yang memegang peran penting, baik di sektor sosial maupun pemerintahan,” ujarnya dalam kegiatan bertemakan Kartini Masa Kini: Rekonstruksi Jati Diri dan Artikulasi Suara Perempuan di Tengah Dinamika Zaman.
Dalam kesempatan ini, ia menyebut bahwa perkembangan zaman telah menunjukkan semakin luasnya ruang bagi perempuan untuk berkiprah di berbagai lini, termasuk dalam posisi kepemimpinan strategis.
“Sudah sangat banyak perempuan yang sukses menduduki posisi kepemimpinan penting di berbagai sektor sosial dan pemerintahan,” ujarnya.
Mujahid lalu mengajak peserta menengok kembali keteladanan RA Kartini sebagai sosok pembelajar yang kritis, termasuk dalam memahami ajaran agama. “Kartini tidak mau hanya membaca Al-Qur’an tanpa memahami maknanya,” katanya.
Ia menjelaskan, sikap kritis tersebut terlihat saat Kartini belajar kepada Sholeh Darat, ulama yang juga dikenal sebagai guru Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari. Dari proses itu, muncul inisiatif penerjemahan ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa agar lebih mudah dipahami.
Selain itu, Imam juga membagikan pengalamannya saat berziarah ke makam Kartini di Rembang. Ia menilai kondisi makam yang sederhana mencerminkan sikap hidup yang tidak berlebihan dan tetap terjaga keasliannya.
“Kondisi makamnya sangat sederhana dan memang dijaga agar tidak dibangun secara berlebihan,” jelasnya.
Ia kemudian menekankan peran sentral perempuan dalam membangun peradaban. Mengutip pepatah Arab yakni an-nisaa’ imadul bilad, ia menyebut perempuan sebagai tiang negara yang menentukan baik buruknya sebuah bangsa.
Menurutnya, dalam lingkup keluarga, ibu menjadi sosok yang paling dominan dalam membentuk karakter anak. Karena itu, ia mengingatkan agar generasi muda tidak salah kaprah dalam memahami kesetaraan gender, yang bukan sekadar pertukaran peran domestik.
“Kesetaraan bukanlah sekadar ajang pertukaran peran domestik antara laki-laki dan perempuan, melainkan bagaimana perempuan salihah mampu mengambil peran esensial untuk mencetak generasi penerus bangsa yang unggul,” pesannya.
Mujahid lalu menutup acara dengan memimpin doa. Ia memohon keberkahan, rida Ilahi, dan kekuatan agar perempuan-perempuan Muhammadiyah dapat terus melanjutkan estafet perjuangan dakwah.













