22.8 C
Malang
Selasa, Mei 28, 2024
KilasPesan Wakil Ketua PWM Jatim untuk Caleg Kader Muhammadiyah

Pesan Wakil Ketua PWM Jatim untuk Caleg Kader Muhammadiyah

Wakil Ketua PWM Jatim Muhammad Sholihin Fanani.

MENJAGA niat dalam berjuang di jalur politik menjadi hal yang sangat penting, supaya para pejuang politik tersebut tidak kehilangan arah, kehilangan orientasi, dan kehilangan misinya dalam berjuang untuk rakyat melalui politik.

Pesan itu disampaikan Wakil Ketua PWM Jatim Muhammad Sholihin Fanani kepada para calon anggota legislatif (caleg) yang akan berkontestasi pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, terutama para caleg yang dari kader-kader Muhammadiyah.

Menurut Sholihin, ada empat modal atau bekal yang harus dimiliki oleh setiap caleg. Modal pertama adalah bekal intelektual. Dijelaskan, para caleg harusnya menguasai ilmunya, bukan sekedar keberanian mencalonkan diri atau sekedar karena punya duit. ”Menjadi anggota legislatif itu harus punya ilmu yang mumpuni,” katanya.

Modal kedua adalah bekal mental, artinya harus siap betul-betul berjuang untuk rakyat bagaimanapun risikonya. Bekal mental itu diperlukan agar siap dengan segala kemungkinan. “Kalau menang dan terpilih dia tau harus bagaimana, tidak boleh jumawa, bahwa dia terpilih karena dipilih oleh rakyat. Kalaupun kalah juga dia sudah siap dan tidak membuat kekalahannya itu tidak menjatuhkan mentalnya, apalagi menjauhkan dirinya dari rakyat,” lanjut Sholihin.

Modal ketiga, terusnya, adalah bekal sosial, artinya dia memang dekat dengan rakyat dan berjuang untuk rakyat, bersama rakyat. Baik sebelum dan sesudah pemilihan dia tetap dekat dengan rakyat. “Seperti kata saya tadi, bahkan kalaupun kalah, dia tetap berjuang menyuarakan aspirasi-aspirasi rakyat, bukan kemudian kalau kalah lantas membuat dia jauh dari rakyat,” tegas mantan Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Pucang, Surabaya itu.

Nah, modal keempat barulah  bekal finansial.  “Jangan dibalik. Bekal finansial itu memang perlu, tapi bukan berarti itu yang paling utama, yang terpenting itu bekal yang 1, 2, 3 itu tadi. Bekal finansial itu harus diukur betul, sehingga jangan sampai jadi ada istilah NPWP itu, nomor piro wani piro?” tandasnya.

Pria yang juga pengurus Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM) Jatim itu menekankan, bahwa lebih baik kalah terhormat atau menang bermartabat, dibandingkan menang tidak bermartabat atau kalah tidak terhormat.

“Kalah yang terhormat itu bagaimana? Bahwa ketika kalah, ya itu tadi, dia tetap bisa berjuang untuk rakyat, bersama rakyat. Kan banyak hal yang bisa dilakukan untuk rakyat meskipun dia tidak menjadi anggota legislatif, itu lebih baik daripada menang tapi tidak bermartabat, apalagi kok kalah tapi sudah kalah tidak terhormat,” selorohnya.

Sholihin juga berpesan, bahwa para caleg janganlah sampai jauh dari nilai-nilai agama, sebab itu yang menjadi guidance atau petunjuk sebagai umat beragama.

“Indonesia ini kan negara yang agamis, Pancasila itu kan ‘ketuhanan yang maha esa’ itu. Artinya harus selalu menjadikan nilai-nilai agama sebagai rujukan utama dalam bertindak dan bersikap,” terangnya.

Lebih lanjut, Sholihin meminta, agar bagaimanapun panasnya proses kontestasi nantinya, atau bagaimanapun dinamika politik yang terjadi nantinya, para caleg tetap menjaga akhlak atau adab.

“Itu penting. Karena di sana itu kan bukan orang-orang yang baik semua, ada banyak orang, banyak latar belakang, banyak kepentingan. Maka menjaga akhlak itu juga penting sehingga bisa memposisikan diri harus bagaimana. Dan terakhir, terus belajar. Bahwa menjadikan semua hal itu sebagai pelajaran, bisa mengambil hikmah dari semua proses itu,” jelasnya. (*)

Reporter: Ubay

Editor: Aan Hariyanto

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Lihat Juga Tag :

Populer