Ratusan Driver Ojol Segel Kantor Maxim Kediri, Garda Jatim Soroti Fitur Turbo  

Maxim

MAKLUMAT — Ratusan driver ojek online (ojol) yang tergabung dalam Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Kediri Raya menggelar aksi di Kota Kediri, Selasa (29/9/2026). Mereka menyampaikan sejumlah tuntutan terkait penerapan fitur Turbo pada aplikasi Maxim dan penerimaan mitra baru.

Massa bergerak berkeliling Kota Kediri sebelum menyampaikan aspirasi di depan Kantor Pemerintah Kota Kediri. Perwakilan driver kemudian diterima pihak terkait untuk menyampaikan tuntutan agar pemerintah ikut memediasi persoalan antara mitra dan perusahaan aplikator.

Ketua DPD Garda Jawa Timur Fikri Nurul Hafid mengatakan persoalan yang disuarakan driver tidak hanya menyangkut penggunaan fitur tambahan pada aplikasi. Menurutnya, yang perlu dilihat adalah dampaknya terhadap kesempatan driver memperoleh order.

“Kalau sebagian driver mendapat prioritas karena membayar biaya tambahan, yang perlu dilihat adalah bagaimana pengaruhnya terhadap driver yang tidak menggunakan Turbo,” kata Fikri saat diwawancarai wartawan Maklumat.id.

Para driver menilai fitur Turbo membuat persaingan mendapatkan order menjadi tidak seimbang. Driver yang tidak menggunakan fitur tersebut mengaku kesulitan memperoleh pesanan sehingga pendapatan harian ikut terdampak.

Setelah menyampaikan aspirasi di Kantor Pemerintah Kota Kediri, massa melanjutkan aksi ke kantor Maxim di Jalan Banjaran, Gang Carik Nomor 48, Banjaran, Kota Kediri. Sejumlah driver kemudian menyegel kantor tersebut.

Baca Juga  Dukung Tuntutan Driver Ojol Turunkan Potongan Aplikasi Jadi 10%, Aher: Kesejahteraan Harus Diperhatikan

Fikri mengatakan, penyegelan dilakukan sebagai bentuk kekecewaan driver terhadap kebijakan perusahaan. Ia menyebut penyegelan akan dilakukan sampai ada kebijakan yang lebih jelas dari Maxim pusat.

Menurutnya, persoalan Turbo perlu dilihat dari cara kerja sistem aplikasi dalam membagikan order. Perusahaan memiliki data mengenai jumlah driver, order, serta penggunaan fitur yang dapat digunakan untuk menjelaskan dampak kebijakan tersebut.

“Yang kami minta sebenarnya sederhana. Kalau Turbo memang tidak mengurangi kesempatan driver reguler, mari buktikan dengan data,” ujarnya.

Dalam sistem transportasi berbasis aplikasi, pembagian order dilakukan melalui sistem digital. Driver dapat melihat order yang masuk, tetapi tidak selalu mengetahui secara rinci faktor yang menentukan mengapa sebuah order diberikan kepada driver tertentu.

Kondisi tersebut membuat transparansi menjadi salah satu persoalan yang diperdebatkan dalam hubungan antara perusahaan aplikator dan mitra pengemudi. Menurut Fikri, perusahaan tidak harus membuka kode sumber aplikasi, tetapi perlu menjelaskan mekanisme yang berdampak langsung terhadap kesempatan driver memperoleh order.

“Tidak perlu membuka source code. Yang penting driver tahu apa yang memengaruhi pembagian order dan seberapa besar Turbo mengubah peluang mendapatkan order,” jelasnya.

Selain meminta penghapusan fitur Turbo, massa juga menuntut pembatasan penerimaan mitra baru. Mereka menilai bertambahnya jumlah driver di Kediri membuat persaingan mendapatkan order semakin ketat.

Baca Juga  Driver Online Masih Terdesak, PKS Minta Negara Bertindak

Persoalan jumlah driver berkaitan dengan jumlah permintaan layanan. Ketika jumlah pengemudi bertambah sementara jumlah order tidak mengalami pertumbuhan yang sebanding, semakin banyak driver harus berbagi kesempatan mendapatkan pesanan.

Fikri mengatakan kondisi tersebut perlu dilihat berdasarkan data di setiap wilayah. Menurutnya, penerimaan mitra baru semestinya mempertimbangkan jumlah driver aktif dan perkembangan permintaan layanan.

“Kalau jumlah driver terus bertambah, sementara order tidak bertambah dengan jumlah yang sama, tentu perlu dihitung lagi apakah ekosistemnya masih sehat bagi driver,” kata pria yang juga adalah Dewan Penasehat Garda Kediri Raya tersebut.

Dua tuntutan utama kemudian disampaikan dalam aksi tersebut. Pertama, driver meminta fitur Maxim Turbo dihapus karena dinilai memberikan perbedaan prioritas berdasarkan pembayaran. Kedua, mereka meminta perusahaan menghentikan sementara atau membatasi penerimaan mitra baru di Kediri.

Para driver juga meminta manajemen Maxim memberikan jawaban tertulis dan meneruskan tuntutan tersebut kepada kantor pusat. Mereka berharap Pemerintah Kota Kediri ikut memediasi serta mengawasi kebijakan aplikator yang berdampak terhadap penghasilan mitra.

Fikri menilai evaluasi terhadap Turbo dapat dilakukan dengan membandingkan kondisi driver yang menggunakan fitur tersebut dengan driver reguler. Beberapa hal yang dapat dilihat antara lain jumlah order per jam, waktu tunggu, pendapatan kotor, hingga pendapatan bersih setelah biaya operasional dan biaya program diperhitungkan.

Baca Juga  Kapolresta Banyuwangi Jagongan Bareng Komunitas Ojol, Ajak Jaga Kamtibmas

Menurutnya, perbandingan tersebut dapat memberikan gambaran mengenai pengaruh Turbo terhadap kesempatan mendapatkan order. Jika terdapat perbedaan yang signifikan, data tersebut dapat menjadi dasar untuk mengevaluasi penerapan fitur.

“Jangan hanya bilang Turbo itu opsional. Ukur juga dampaknya. Berapa order driver Turbo, berapa order driver non-Turbo, berapa waktu tunggunya, dan bagaimana pendapatan bersihnya. Dari situ kita bisa bicara berdasarkan data,” ujar Fikri.

Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat kepolisian. Para driver menyatakan akan menggelar aksi lanjutan dengan massa lebih besar apabila tuntutan mereka tidak mendapat tanggapan.

Hingga berita ini diturunkan, manajemen Maxim belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan para driver.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki