Riset DIR: Kepercayaan Publik ke BGN Naik, Kritik Penolakan Bergeser Jadi Tuntutan Perbaikan Tata Kelola

Direktur Riset dan Komunikasi DIR, Neni Nur Hayati. (Foto: @neni1783)

MAKLUMAT — Laporan Deep Intelligence Research (DIR) mengungkapkan bahwa untuk pertama kalinya muncul indikator kepercayaan publik (trust) dalam percakapan-percakapan mengenai Badan Gizi Nasional (BGN).

Temuan itu terekam dalam riset DIR setelah pergantian kepemimpinan BGN, di tengah bayang-bayang dugaan korupsi, kasus keracunan makanan, dan kriIk terhadap tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sentimen Positif Meningkat

Direktur Riset dan Komunikasi DIR, Neni Nur Hayati, mengungkapkan temuannya dalam riset yang memantau percakapan dalam tentang 22 Juli hingga 3 Agustus 2026, yang menunjukkan pemberitaan mengenai Kepala BGN baru menjangkau sekitar 685 juta pembaca di media arus utama.

Dari keseluruhan percakapan, sekitar 62,4 persen bernada positif, 35 persen negatif, serta sekitar 2,6 persen lainnya cenderung netral. Di media sosial, menurut Neni, sentimen positif justru tercatat sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan di media mainstream (arus utama).

“Sentimennya positif, dominan sentimen positif 62,4 persen. Itu sebenarnya good start untuk seorang Mas Dar Sudaryono, Kepala BGN baru) menjalani satu tugas yang ‘maha dahsyat’ ini,” ujarnya, dalam rilis yang diterima Maklumat.id pada Kamis (6/8/2026).

“Karena dia mengemban anggaran negara yang cukup besar dengan cakupan wilayah yang sangat luas dan kompleksitas pengadaan makan bergizi gratis bukan cuma melibatkan SPPG, tapi juga supplier dan penerima manfaat,” imbuh Neni.

Baca Juga  Kick Off Makan Bergizi Gratis Mulai Besok, BGN Siapkan 190 Dapur Pemasok

Kepercayaan Publik Sentuh 26 Persen

Tak cuma itu, Neni mengungkapkan bahwa temuannya juga mencatatkan amarah publik turun menjadi 7,2 persen, sementara trust justru mencapai 26 persen. Indikator kepercayaan itu, menurut dia, belum pernah muncul sejak MBG menjadi salah satu isu yang paling ramai diperdebatkan di ruang publik.

“Menariknya ternyata di media sosial itu tidak jauh berbeda sentumen positifnya, bahkan lebih tinggi sedikit. Jarang-jarang,” katanya.

“Biasanya hasil riset itu (media) mainstream (cenderung sentimen) positif, tetapi media sosial justru negatif. Yang menarik, trust di sini mencapai 26 persen. Biasanya itu tidak pernah muncul,” sambung perempuan yang juga Direktur DEEP Indonesia itu.

Neni menambahkan, selama periode pemantauan, DIR merekam sekitar 220 ribu unggahan yang menghasilkan 776 juta interaksi dan sekitar 9,9 juta engagement. Tingginya angka itu, kata dia, menunjukkan MBG tetap menjadi salah satu isu dengan daya tarik terbesar di media sosial karena menyentuh langsung kepentingan masyarakat, mulai dari siswa, orang tua, sekolah, hingga pelaku usaha penyedia makanan.

Dari Penolakan ke Tuntutan Perbaikan

Meski begitu, Neni menegaskan bahwa perubahan sentimen tersebut bukan berarti publik berhenti mengkritik.

Baca Juga  Siswa Keracunan MBG Terjadi di Sejumlah Daerah, Indef dan Akademisi Desak Evaluasi

Menurutnya, kritik publik kini berangsur bergeser dari penolakan terhadap program MBG menjadi tuntutan agar pemerintah memperbaiki tata kelola BGN dan implementasi program MBG.

Percakapan yang paling banyak muncul, lanjut Neni, berkaitan dengan transparansi anggaran, pencegahan korupsi, penanganan kasus keracunan, serta penertiban sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilai bermasalah.

Menurut Neni, kepemimpinan Sudaryono sebagai Kepala BGN baru memperoleh respons positif karena memilih membuka ruang komunikasi di tengah tekanan. Respons cepat terhadap kasus keracunan, inspeksi lapangan, serta penutupan SPPG yang dinilai bermasalah dipersepsikan sebagai langkah pembenahan.

Selain itu, ia menilai bahwa pernyataan tegas Sudaryono yang menegaskan bahwa dirinya maupun keluarganya tidak memiliki SPPG juga memicu meningkatnya kepercayaan publik.

“Pemulihan institusi BGN harus dilakukan dengan transparansi dan akuntabilitas, terutama dalam proses penegakan hukum, kondisi riil di lapangan, dan hasil invesIgasi kasus keracunan. Itu yang mendapatkan apresiasi dari masyarakat,” tandas Neni.

Publik Masih Wait and See

Lebih jauh, Neni mengingatkan bahwa kepercayaan publik tersebut masih bersifat sementara. Publik, kata dia, cenderung masih berada pada posisi wait and see. Terlebih, bahwa Sudaryono baru saja menjabat.

Baca Juga  BGN Tegaskan Siswa di Bengkulu Utara Meninggal Bukan karena MBG

Namun, ia menilai bahwa ke depan, jika ditemukan sedikit saja ketidaksesuaian antara narasi dan fakta di lapangan, maka sentimen negatif berpotensi kembali mendominasi percakapan terkait BGN ataupun MBG.

Sebab itu, Neni menekankan bahwa perbaikan tata kelola harus berjalan beriringan dengan komunikasi publik. Ia menyarankan BGN memperkuat diseminasi informasi di platform–platform media sosial seperti Instagram dan TikTok, yang menurutnya selama ini menjadi pusat percakapan seputar MBG.

“BGN harus aktif melakukan propaganda positif, bagaimana mengamplifikasi narasi posiIf di media sosial yang betul-betul sesuai dengan kenyataan di lapangan. Kuncinya tetap transparan dan akuntabel. Kalau komunikasinya bagus tetapi faktanya berbeda, senImen negaIf akan meledak lagi di ruang publik,” tegasnya.

Neni menilai, temuan DIR menunjukkan ruang pemulihan reputasi BGN mulai terbuka. Namun, ruang tersebut juga harus benar-benar dijaga supaya berkesinambungan dengan sistem oleh pimpinan BGN yang baru.