Rupiah Terus Melemah, Apa Penyebabnya dan Bagaimana Cara Masyarakat Bertahan?

Rupiah terus mengalami pelemahan terhadap dolar AS.

MAKLUMAT — Dosen Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) Dr Imelda Dian Rahmawati menilai bahwa melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak hanya dipicu oleh konflik dan situasi geopolitik global, tetapi kombinasi antara faktor eksternal maupun internal.

Dari sisi internal, kondisi ekonomi domestik sangat menentukan stabilitas rupiah. Faktor seperti defisit impor yang lebih besar dibanding ekspor, utang luar negeri, kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional, hingga kecukupan cadangan devisa menjadi penentu utama.

Sementara dari sisi eksternal, kebijakan ekonomi Amerika Serikat memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan rupiah.

“Kurs rupiah ini mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi dalam negeri,” terang perempuan yang akrab disapa Imel itu, diwawancara Rabu, (20/5/2026).

Dosen Akuntansi Umsida, Dr Imelda Dian Rahmawati SE MAk Ak.
Dosen Akuntansi Umsida, Dr Imelda Dian Rahmawati SE MAk Ak.

“Misalnya ketika suku bunga Amerika naik, investor global cenderung memindahkan dananya ke aset dolar karena dianggap lebih menguntungkan dan aman,” sambungnya.

Selain itu, konflik yang terjadi antara Iran dan AS, perang, serta ketegangan dagang turut membuat dolar dianggap sebagai mata uang aman. Ketika terjadi perlambatan ekonomi dunia, investor cenderung mengurangi investasi di negara berkembang seperti Indonesia dan kembali ke aset dolar.

Baca Juga  Waduh, Modal Asing Hengkang Rp 14,24 Triliun dari Pasar Keuangan Indonesia

Tidak Selalu Pertanda Krisis

Meski demikian, Imelda menilai bahwa lemahnya nilai tukar rupiah tidak otomatis atau serta-merta menunjukkan Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi.

“Yang menjadi perhatian adalah bagaimana dengan pertumbuhan ekonomi kita, konsumsi dan daya beli masyarakat, ekspor, cadangan devisa negara, dan stabilitas perbankan,” katanya.

Jika indikator tersebut masih cukup baik, ia menilai bahwa pelemahan rupiah masih dalam batas wajar. Namun ia juga mengingatkan, pelemahan rupiah perlu diwaspadai apabila berlangsung terus-menerus dan disertai inflasi tinggi, penurunan daya beli masyarakat, meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga turunnya investasi.

“Kalau itu terjadi bersamaan, maka bisa menjadi sinyal tekanan ekonomi yang serius,” tandas perempuan yang juga menjabat Direktur Direktorat Keuangan Umsida itu.

Imelda juga menjelaskan bahwa pengaruh besar kebijakan AS terhadap rupiah tidak lepas dari posisi dolar sebagai mata uang internasional utama. Sebagian besar perdagangan dunia, pembayaran internasional, cadangan devisa, hingga utang luar negeri masih menggunakan dolar AS.

Selain itu, Indonesia juga masih bergantung pada ekonomi global melalui impor bahan baku, investasi asing, serta utang luar negeri. “Karena itu perubahan yang terjadi pada ekonomi Amerika memiliki efek domino terhadap rupiah,” ujarnya.

Baca Juga  Ini Poin-poin Tuntutan Demo #MenujuIndonesiaBangkrut

Dampak Melemahnya Rupiah

Lebih lanjut, Imelda menegaskan bahwa kenaikan dolar atau melemahnya rupiah tidak selalu berdampak buruk bagi semua pihak, karena efeknya bergantung pada sektor dan posisi pelaku ekonomi.

Pelemahan rupiah membuat produk ekspor Indonesia menjadi lebih murah dan kompetitif di pasar internasional. Kondisi ini juga dapat meningkatkan sektor pariwisata karena Indonesia menjadi lebih murah bagi wisatawan asing. “UMKM berbasis ekspor juga bisa memperoleh keuntungan lebih besar,” jelasnya.

Namun di sisi lain, pelemahan rupiah juga membawa dampak negatif. Harga barang impor menjadi lebih mahal sehingga biaya produksi meningkat dan memicu inflasi. Selain itu, beban utang luar negeri juga meningkat, termasuk potensi kenaikan harga energi dan BBM.

Menurutnya, beberapa sektor yang paling sensitif terhadap pelemahan rupiah adalah sektor impor dan manufaktur. Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor akan mengalami kenaikan biaya produksi, seperti industri elektronik, farmasi, otomotif, hingga mesin.

Sektor energi juga terdampak karena transaksi minyak dunia menggunakan dolar AS. Selain itu, dunia pendidikan dan kesehatan ikut mengalami tekanan.

“Biaya studi luar negeri, publikasi jurnal internasional, alat kesehatan, dan obat-obatan impor menjadi lebih mahal,” terang Wakil Ketua LPPK PDM Sidoarjo itu.

Baca Juga  Ekonomi Melemah, Pemerintahan Prabowo Masuk Zona Rawan Politik

UMKM yang menggunakan bahan baku impor juga ikut merasakan dampak karena biaya operasional meningkat. Sementara masyarakat umum paling merasakan dampaknya melalui kenaikan harga barang dan meningkatnya biaya hidup.

Menghadapi Tekanan Ekonomi

Lebih jauh, dalam menghadapi tekanan ekonomi akibat pelemahan rupiah, masyarakat perlu meningkatkan ketahanan finansial dan produktivitas ekonomi.

Imelda menyarankan masyarakat mulai mengurangi konsumsi yang tidak produktif, terutama barang impor yang tidak terlalu dibutuhkan. Selain itu, literasi keuangan juga perlu diperkuat agar masyarakat lebih memahami pengelolaan utang, investasi, dana darurat, dan manajemen risiko.

“Masyarakat juga perlu meningkatkan keterampilan karena sumber daya manusia menjadi faktor utama untuk bertahan di tengah tekanan ekonomi,” katanya.

Menurutnya, keterampilan digital, kewirausahaan, serta kemampuan adaptif menjadi hal penting di tengah perubahan ekonomi global. Ia juga mengajak masyarakat untuk mendukung produk lokal agar ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi.

Selain itu, masyarakat disarankan mulai melakukan diversifikasi sumber pendapatan melalui usaha sampingan, investasi produktif, maupun ekonomi digital. “Jadi tidak hanya mengandalkan satu pekerjaan saja,” pungkas Imelda.