“Sa Mau Minta Uang Beli Buku”: Jejak Sunyi YBR, Bocah Ngada yang Bunuh Diri karena Tekanan Ekonomi

ybr

MAKLUMAT — Pagi itu, Kamis (29/1/2026), YBR (10 tahun) duduk termenung di depan pondok bambu berukuran tiga kali empat meter di Desa Batajawa, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Ia tidak berangkat sekolah. Ketika ditegur warga, jawabannya pendek dan lirih.

“Sa sakit, Om.”

Setengah jam kemudian, warga lain menegurnya dengan pertanyaan serupa. Jawabannya tetap sama. YBR memegang dahinya, wajahnya murung. Sekitar pukul 11.00 WIT, bocah kelas IV SD itu ditemukan tergantung di pohon cengkeh, hanya lima meter dari pintu pondok tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia lebih dari 80 tahun.

Sebelum kejadian, bocah itu sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Permintaan kecil dengan harga kurang dari Rp10 ribu, namun tak terpenuhi karena ketiadaan uang.

Geger pun tak terhindarkan. Dari kampung kecil di Jerebuu, kabar kematian YBR menjalar ke seluruh negeri. Pondok bambu itu bukan rumah yang layak untuk tumbuh kembang anak. Di sanalah YBR tinggal bersama empat cucu Oma Welu, sang nenek. Ayah YBR telah lama merantau ke Kalimantan dan tak pernah kembali.

Ibunya bekerja serabutan sebagai buruh panggil dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu per hari, itu pun jika ada pekerjaan. Dalam keseharian, keluarga ini lebih sering makan umbi-umbian. Sekolah tetap dijalani YBR dengan tekun. Ia dikenal cerdas dan rajin. Guru-gurunya menyebut nilainya bagus.

Baca Juga  Psikolog Umsura: Surat Terakhir YBR, Siswa SD NTT Ungkap Tekanan Emosi Akibat Beban Ekonomi Keluarga

“Dia anak pintar,” kata Kepala Desa Batajawa, Philipus Jio, yang akrab disapa Om Lipus.

Sehari sebelum kejadian, Om Lipus sempat bertemu YBR. Bocah itu hendak berjalan kaki sekitar 3,5 kilometer menuju rumah ibunya di Desa Naruwolo.

“Dia bilang mau minta uang ke mamanya. Buat beli bolpoin, buku tulis, dan uang sekolah,” tutur Om Lipus.

YBR menginap semalam di rumah ibunya. Pagi-pagi ia kembali ke pondok neneknya. Tak lama kemudian, ia berpulang.

Di dekat lokasi kejadian, warga menemukan secarik kertas dari buku tulis. Sebuah pesan terakhir, ditulis dengan bahasa setempat, ditujukan untuk sang ibu. Isinya sederhana, pilu, dan menohok, yakni  permintaan agar sang ibu tak menangis dan tak mencarinya.

Bagi warga Batajawa, kepergian YBR bukan sekadar tragedi pribadi. Ia menjadi cermin retak sistem perlindungan anak, pendidikan, dan ekonomi di daerah terpencil. Om Lipus pun mengiba kepada negara.

“Tolong perhatikan anak-anak telantar ini. Pendidikan dan ekonomi mereka jangan diabaikan,” tegasnya.

YBR telah pergi. Tapi kisahnya tertinggal menjadi pengingat sunyi bahwa kemiskinan, ketika dibiarkan, bisa merenggut masa depan, bahkan nyawa anak-anak.

Terkait kasus ini, Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko menyatakan hasil penyelidikan awal menunjukkan kuat dugaan motif ekonomi menjadi pemicu tindakan bunuh diri. Polisi masih mendalami kasus ini, namun fakta di lapangan menunjukkan kekecewaan mendalam akibat keterbatasan hidup.

Baca Juga  YBR, Siswa SD di Ngada yang Diketahui Anak Yatim itu Sempat Minta Cairkan PIP ke Ibunya Sebelum Bunuh Diri

“Kami sudah kirim tim psikologi untuk mendampingi keluarga,” kata Rudi kepada awak media, Rabu (4/2/2026)

Kematian YBS, siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), bukan sekadar tragedi keluarga miskin di pelosok negeri. Peristiwa ini menjelma menjadi cermin retak pemenuhan hak dasar anak, terutama hak atas pendidikan dan perlindungan mental.

Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief menyebut perginya YBS yang diduga bunuh diri karena tak mampu membeli buku dan alat tulis sebagai potret buram dunia pendidikan nasional.

“Ini gambaran nyata masih lebarnya celah pemenuhan hak dasar belajar bagi anak dari keluarga kurang mampu,” sesal Syarief dalam keterangan tertulis, Rabu (4/2/2026).

Menurut politikus PKB itu, anggaran pendidikan dalam APBN sejatinya sangat besar. Karena itu, kebutuhan paling mendasar seperti buku tulis dan pena seharusnya tidak menjadi persoalan bagi seorang siswa sekolah dasar.

“Kasus seperti ini tidak seharusnya terjadi. Negara tidak boleh kalah oleh kemiskinan warganya sendiri,” tandas dia.

DPR mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menelusuri kemungkinan adanya kelalaian dalam penyaluran bantuan pendidikan. Syarief menekankan pentingnya memastikan bantuan benar-benar sampai kepada anak-anak yang paling membutuhkan.

Baca Juga  YBR, Siswa SD di Ngada yang Diketahui Anak Yatim itu Sempat Minta Cairkan PIP ke Ibunya Sebelum Bunuh Diri

Selain aspek pendidikan, tragedi ini juga menyingkap persoalan kesehatan mental anak. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan pemerintah kini tengah menyiapkan psikolog klinis di Puskesmas seluruh Indonesia.

“Kesehatan mental anak sudah kami skrining, dan kami menemukan sekitar 10 juta anak dengan persoalan kesehatan mental,” kata Budi, Rabu (4/2/2026).

Menurut Menkes, selama ini masalah kejiwaan anak kerap luput dari perhatian karena minim layanan. Ke depan, psikolog klinis di Puskesmas akan diperkuat dan diintegrasikan dengan sekolah-sekolah.

“Puskesmas punya tanggung jawab juga ke sekolah. Ini harus dikerjakan bersama,” ujarnya.

Kematian YBS telah mengguncang nurani publik. Dari sebuah desa kecil di Ngada, pesan pilu itu bergema ke pusat kekuasaan, yakni masih ada anak Indonesia yang memikul beban hidup sendirian hingga akhirnya menyerah.***