MAKLUMAT — Sekitar 20 ribu mahasiswa Indonesia tercatat belajar di Tiongkok pada tahun ajaran 2025. Jumlah tersebut menjadi bagian dari sekitar 380 ribu mahasiswa internasional dari 191 negara dan wilayah yang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Tiongkok.
Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya, Ye Su, menyampaikan hal itu dalam National Education Conference yang menjadi rangkaian Muhammadiyah Education (ME) Awards 2026 di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (8/8/2026). Menurutnya, jumlah mahasiswa Indonesia tersebut menunjukkan hubungan pendidikan kedua negara yang semakin berkembang.
“Sekitar 20 ribu mahasiswa berasal dari Indonesia, membuat Tiongkok menjadi salah satu tujuan utama bagi para pemuda Indonesia yang ingin kuliah di luar negeri,” kata Ye Su.
Arus mahasiswa internasional tersebut berlangsung ketika pendidikan tinggi Tiongkok mengalami pertumbuhan besar. Pada 1949, Tiongkok memiliki kurang dari 205 perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa kurang dari 120 ribu orang. Jumlah itu meningkat menjadi lebih dari 3.100 perguruan tinggi dengan lebih dari 47 juta mahasiswa pada 2024.
Perluasan pendidikan tinggi juga terlihat dari angka partisipasi. Tingkat masuk pendidikan tinggi meningkat dari 1,55 persen pada 1978 menjadi 60,8 persen pada 2025. Setiap tahun, perguruan tinggi di Tiongkok menghasilkan sekitar 12 juta lulusan.
“Pendidikan tinggi di Tiongkok telah mencapai lompatan yang besar,” ujarnya.
Pertumbuhan jumlah mahasiswa kemudian berjalan bersama dengan pengembangan riset. Tiongkok menjadi negara dengan jumlah publikasi makalah penelitian terbesar kedua di dunia. Pada 2026, delapan perguruan tinggi Tiongkok masuk dalam 50 besar peringkat dunia versi QS.
Tiongkok juga menghasilkan lebih dari 1,3 juta lulusan bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) setiap tahun. Ye Su menyebut jumlah tersebut sekitar sepuluh kali lipat dibandingkan Amerika Serikat.
“Pada tahun 2026, ada delapan perguruan tinggi Tiongkok yang masuk peringkat 50 besar QS dunia,” jelasnya.
Hubungan pendidikan Tiongkok dengan negara lain tidak berhenti pada mobilitas mahasiswa. Kerja sama juga dikembangkan melalui pendidikan vokasi, salah satunya lewat Luban Workshop. Program ini menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan tenaga teknis di bidang seperti manufaktur pintar, pertanian modern, dan energi baru.
Di Indonesia, Luban Workshop telah dikembangkan melalui kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Indonesia dan SMK Negeri 2 Pasuruan di Jawa Timur. Program tersebut menjadi salah satu bentuk kerja sama pendidikan yang menghubungkan pengalaman pendidikan vokasi Tiongkok dengan kebutuhan pendidikan dan industri di Indonesia.
“Luban Workshop berfokus pada bidang-bidang utama seperti manufaktur pintar, pertanian modern, dan energi baru,” katanya.
*) Penulis: M Habib Muzaki













