Sidang Isbat Penentuan Idulfitri 1447 H Digelar 19 Maret, Kemenag Siapkan Pemantauan Hilal di 117 Titik Lokasi

Observatorium Unismuh Makassar yang menjadi salah satu lokasi pemantauan hilal untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah pada 17 Februari 2026 lalu. (Foto: Unismuh Makassar)

MAKLUMAT — Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI dijadwalkan bakal menggelar Sidang Isbat untuk menentukan Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah pada 19 Maret 2026 mendatang.

Diketahui, sebanyak 117 titik di seluruh Indonesia bakal menjadi lokasi pemantauan hilal (rukyatul hilal). Hasil dari pemantauan hilal tersebut kemudian akan dibahas dalam Sidang Isbat yang dilakukan secara tertutup untuk menentukan 1 Syawal 1447 Hijriah.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengungkapkan bahwa sidang isbat merupakan forum penting yang mengedepankan kehati-hatian, keilmuan, serta kebersamaan umat dalam menetapkan awal bulan Hijriah.

Ia mejelaskan, forum Sidang Isbat bakal dimulai dengan seminar pemaparan posisi hilal berdasarkan data-data hisab yang telah dihimpun.

“Sidang Isbat diawali dengan seminar pemaparan posisi hilal oleh Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama. Setelah itu dilanjutkan dengan sidang tertutup untuk membahas hasil rukyatul hilal yang masuk dari berbagai daerah, sebelum akhirnya diumumkan kepada masyarakat,” ujar Abu Rokhmad di Jakarta, Senin (16/3/2026).

Ia mengungkap, forum Sidang Isbat tersebut bakal melibatkan berbagai pihak lintas elemen, di antaranya perwakilan duta besar negara sahabat, Ketua Komisi VIII DPR RI, Mahkamah Agung (MA) RI, Majelis Ulama Indonesia (MUI), BMKG, BRIN, hingga Badan Informasi Geospasial (BIG).

Baca Juga  Pemerintah Finalisasi SE Soal Ramadan, Pastikan Terbit Pekan ini

Selain itu, dijadwalkan turut hadir perwakilan Institut Teknologi Bandung melalui Observatorium Bosscha, Planetarium, para pakar falak dari organisasi kemasyarakatan Islam, serta anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag.

Abu Rokhmad menjelaskan, berdasarkan perhitungan astronomi (hisab), pada hari rukyat atau 29 Ramadan 1447 H yang bertepatan dengan Kamis, 19 Maret 2026, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia berada di atas ufuk dengan kisaran antara 0°54’27’’ hingga 3°7’52’’. Sementara itu, sudut elongasi hilal berkisar antara 4°32’40’’ hingga 6°6’11’’.

Menurutnya, seluruh sistem hisab juga menunjukkan bahwa ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada 19 Maret 2026 sekitar pukul 08.23 WIB. Meski demikian, penentuan awal Syawal tetap menunggu hasil rukyatul hilal yang dilakukan di berbagai wilayah Indonesia.

“Penetapan awal Syawal 1447 H akan menunggu laporan hasil rukyatul hilal dari seluruh daerah yang kemudian dibahas dalam sidang isbat,” kata dia.

Muhammadiyah Tetapkan Idulfitri 20 Maret 2026

Sebelumnya, PP Muhammadiyah telah mengumumkan hari raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026. Penetapan Lebaran 2026 ini merujuk pada sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menggunakan parameter astronomi global dalam menentukan awal bulan Islam.

Baca Juga  Kapolri Tinjau Kesiapan Keamanan dan Layanan Mudik Lebaran di Terminal Purabaya Bungurasih 

Hal tersebut termaktub dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tertanggal 22 September 2025 lalu, yang ditandatangani Ketua Umum Prof Dr Haedar Nashir MSi dan Sekretaris Muhammad Sayuti MPd MEd PhD.

“Berdasarkan prinsip, syarat, dan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal sebagai keputusan Musyawarah Nasional XXXII Tarjih Muhammadiyah di Pekalongan tahun 1445 H/2024 M yang telah ditanfidzkan dengan Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 86/KEP/I.0/2025 dan dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah,” tulis maklumat tersebut.

KHGT sendiri merupakan sistem kalender hijriah yang dirancang untuk menyatukan penentuan awal bulan Islam secara global. Dalam sistem ini, bumi dipandang sebagai satu kesatuan matlak, sehingga awal bulan hijriah berlaku serentak bagi seluruh dunia.

Melalui pendekatan tersebut, awal bulan hijriah tidak lagi bergantung pada batas wilayah negara, melainkan pada terpenuhinya parameter astronomis di salah satu wilayah di bumi.