Soroti Rekor Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo, Amien Rais Singgung Gibran Tak Jalankan Fungsi Wapres

Amien Rais

MAKLUMAT — Ketua Majelis Syuro Partai Ummat, Amien Rais, kembali menyoroti Presiden Prabowo Subianto, kali ini terkait seringnya orang nomor satu di Republik Indonesia (RI) itu melakukan lawatan ke luar negeri.

Melalui unggahan video pernyataan berjudul “PLEASE, JANGAN TERLALU SERING KE LUAR NEGERI” di kanal YouTube pribadinya @AmienRaisOfficial, pada Jumat (8/5/2026), Amien menyoroti jumlah lawatan Prabowo yang disebutnya bahkan telah ‘mencetak rekor’ sejak era Bung Karno.

“Ternyata Pak Prabowo itu memecahkan rekor dalam jumlah lawatan Presiden Indonesia, sejak Bung Karno sampai sekarang. Dari November 2024 sampai April 2026 yang lalu Pak Prabowo sudah pergi ke luar negeri sebanyak 49 kali,” sorotnya, dikutip Ahad (10/5/2025).

“Nah kunjungan ke luar negeri sampai 49 kali itu ada beberapa negara yang sama yang dikunjungi lebih dari satu kali, seperti Amerika Serikat, RRC, Malaysia, Arab Saudi, Turki, dan lain-lain,” sambung Amien.

Meski begitu, Amien mengaku memahami upaya yang dilakukan Prabowo dengan mengunjungi negara-negara sahabat untuk menjajaki peluang kerja sama bilateral, khususnya di bidang perdagangan dan ekonomi. Namun, menurutnya hal itu sudah cukup tercapai.

“Kalau maksud Pak Prabowo supaya semua negara di dunia ini tahu bahwa Indonesia sudah memiliki presiden baru, sekaligus menjajaki kemungkinan kerja sama bilateral di bidang perdagangan atau ekonomi dalam arti luas dan lain-lain, saya yakin semua itu sudah tercapai,” katanya.

“Walaupun harus tetap dilihat apakah berbagai MoU, Memorandum of Understanding, yang disepakati diteruskan menjadi perjanjian perdagangan yang konkret, itu perlu diteliti satu per satu. Mengapa? Supaya kunjungan ke luar negeri sampai 49 kali tidak sia-sia dan tidak menjadi pemberosan waktu dan biaya,” imbuh Amien.

Singgung Gibran Tak Berperan

Lebih lanjut, Amien menyinggung peran Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka, yang menurutnya tidak mampu menjalankan fungsinya.

Baca Juga  Buku Islam Ala Prabowo Disorot, Ini Isi Pembahasannya

Ia menilai, situasi dan berbagai permasalahan krusial di Indonesia belakangan ini, salah satunya dikarenakan Gibran yang menurutnya tidak mampu menjalankan perannya sebagai Wakil Presiden selama Presiden Prabowo melakukan kunjungan ke luar negeri.

“Andai kata selama ditinggal ke luar negeri Pak Prabowo, Wapres Gibran bisa menjalankan tugas-tugasnya sebagai wapres, barang kali tidak terlalu gawat kondisi Indonesia yang masih ditindih dengan berbagai persoalan sosial dan ekonomi, yang berupa keresahan sosial, politik dan ekonomi,” sorotnya.

Sosok yang juga dikenal sebagai tokoh reformasi itu kembali menyinggung soal putusan Mahkamah Konstitusi (MK) di bawah kepemimpinan Anwar Usman, yang menurutnya telah memuluskan langkah Gibran melenggang sebagai wapres, dengan “memerkosa” konstitusi.

“Gibran yang diselundupkan oleh bapaknya lewat pemerkosaan Mahkamah Konstitusi yang waktu itu ketuanya Anwar Usman, maka jadilah Gibran itu anak haram atau anak jatah konstitusi, dan karena itu si Gibran ini cuma, maaf ya, plonga-plongo,” singgungnya.

Bahkan, Amien lebih keras mengkritik Gibran sebagai figur political excess baggage, yang menurutnya antara ada dan tidak adanya sama-sama tidak berpengaruh.

“Maka bisa disebut dia itu merupakan political excess baggage, jadi political excess baggage itu adalah bagasi ekstra yang tanpa faedah, masuk tidak menggenapkan, keluar tidak mengganjilkan, Bahasa Arabnya wujuduhu ka’adamihi,” tegasnya.

Dari Nikmat menjadi Niqmah

Lebih jauh, Amien Rais juga menyoroti oknum-oknum di lingkaran Prabowo, yang menurutnya tidak berani bahkan tidak mau menyampaikan fakta-fakta permasalahan di lapangan.

“Mungkin sekali benar sementara dugaan yang menyatakan bahwa oknum-oknum yang mengitari Pak Prabowo siang-malam tidak berani atau juga tidak mau menyampaikan fakta-fakta di lapangan yang dapat mengganggu Pak Prabowo,” tudingnya.

Ia lantas mengingatkan agar jangan sampai nikmat yang dirasakan oleh Prabowo saat ini justru berubah menjadi niqmah, yaitu bencana, siksaan, hukuman, atau kemurkaan yang ditimpakan Allah Swt.

Baca Juga  Hadapi Tarif Trump, Asosiasi Tekstil Tekankan Perbaikan Regulasi hingga Pendidikan Pekerja

“Oknum-oknum yang menjadi all the presidents men itu berpikir jangan sampai nikmat yang dirasakan Pak Prabowo sampai terusik. Mereka tidak pernah berpikir bahwa nikmat dunia yang sifatnya temporer itu bisa berubah jadi niqmah,” katanya.

“Sekelebatan mirip, tapi niqmah itu berarti siksa, sesuatu yang menyakitkan, punishment, adversity, misfortune, kecelakaan, dan lain sebagainya,” sambung sosok yang pernah menjabat Ketua MPR RI itu.

Amien mengaku, dirinya dan publik tanah air menaruh harapan besar kepada Prabowo ketika resmi dilantik sebagai Presiden RI pada 20 Oktober 2024 lalu. Menurutnya, Prabowo merupakan sosok Indonesia’s big hope.

Namun, berjalannya waktu. Hanya dalam kurun kurang dari dua tahun masa kepemimpinannya harapan-harapan besar itu seolah lenyap, yang dinilainya karena tingginya ekspektasi publik.

“Jadi Pak Prabowo menjadi big hope, harapan besar buat bangsa Indonesia, tapi sekarang belum ada dua tahun gara-gara rising expectations atau harapan yang meninggi yang disampaikan rakyat kecil kita maka seolah telah lenyap, tapi saudara-saudara yang harus kita ingat adalah tidak ada manusia yang sempurna,” ujarnya.

“Kita maklum kalau Pak Prabowo dikepung oleh oknum-oknum yang tidak ingin melihat Presiden Prabowo sukses membawa bangsa Indonesia ke tahapan kehidupan nasional yang lebih baik,” tambah sosok pendiri Partai Ummat itu.

Buat Think Tank dan Skala Prioritas

Amien Rais lantas menyarankan Prabowo sebagai seorang muslim untuk melakukan puasa sunnah Senin dan Kamis, yang disebutnya mampu menjadi detoksifikasi tubuh. “Misalnya Pak Prabowo mencoba dalam seminggu itu berpuasa sunnah Hari Senin dan Kamis. Dengan puasa Senin-Kamis itu badan kita mengalami detoksifikasi dua kali dalam seminggu,” sarannya.

Baca Juga  Disebut Jadi Menteri Kehutanan, Raja Juli: Etisnya Biar Pak Prabowo yang Mengumumkan

“Sehingga puasa Senin-Kamis itu kata sebagian dokter itu bukan saja membuat jasmani kita sehat tapi juga lebih jernih pikiran dan rohani kita,” imbuhnya.

Menurut Amien, menjadi Presiden di Indonesia yang memiliki lebih dari 283 juta penduduk dengan berbagai keberagaman sangat tidak mudah. Ia berpesan agar Prabowo tidak perlu resah dalam menanggapi berbagai kritik yang diarahkan kepadanya selama memimpin Bangsa Indonesia. Sebaliknya, ia menyarankan agar Prabowo menanggapinya dengan kepala dingin.

Lebih dari itu, Amien mendorong Prabowo untuk membentuk think tank yang berisikan sosok-sosok pemikir yang unggul dan kompeten, serta membuat skala prioritas dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan di tanah air secara bertahap.

“Jadi Pak Prabowo tak perlu resah apalagi jadi gagap, hadapi dengan kepala dingin,” pesannya.

“Buat think tank para pemikir yang unggul dan berkualitas, buat skala prioritas berbagai masalah bangsa, dan pecahkan mana-mana yang paling mendesak dan mana yang bisa ditunda, dan lain sebagainya,” tambah Amien.

Tak cuma itu, ia juga meminta agar Prabowo jangan terlalu sering melakukan kunjungan ke luar negeri, hingga mengurangi citranya yang dianggap terlalu sering “joget”.

“Konsentrasikan pikiran dan energi untuk memecahkan persoalan-persoalan yang menghimpit rakyat kecil dan kurangi pesta-pesta dan joget-joget,” tandasnya.

Ia mengaku masih menaruh harapan dan kepercayaan kepada Prabowo untuk menuntaskan berbagai persoalan bangsa serta menyelesaikan periode kepemimpinannya hingga akhir.

“Jadi saya masih menaruh harapan, mudah-mudahan Pak Prabowo bisa nyelesaikan sampai akhir kepresidenannya dan membawa bangsa Indonesia secara keseluruhan pada level yang lebih bagus lagi, saya yakin bisa,” kata dia.

“Jadi dengan semangat dan persatuan kita, maka tidak ada yang insya Allah tidak bisa kita atasi. Jadi may Allah bless you and keep you Pak Prabowo,” pungkas Amien.