MAKLUMAT — Rilis hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang menunjukkan capaian rendah memantik kegelisahan publik. Reaksi pun beragam: kecewa, resah, bahkan saling menyalahkan. Peserta didik, guru, dan sekolah kerap diposisikan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. Padahal, dalam kacamata yang lebih jernih, TKA tidak layak dipahami sebagai vonis, melainkan sebagai cermin.

TKA bukan alat untuk menghakimi, tetapi sarana muhasabah. Ia memantulkan kondisi pembelajaran kita apa adanya. Dalam spirit Islam, cermin itu justru penting agar kita mampu bercermin secara jujur, sebelum melangkah pada islah dan tajdid.
Selama bertahun-tahun, pendidikan kita terlalu akrab dengan hafalan, namun kurang memberi ruang bagi pemahaman mendalam. Peserta didik dilatih menjawab, bukan menalar. Kecepatan dianggap kecerdasan, sementara proses berpikir kerap diabaikan. Tidak mengherankan jika ketika asesmen menuntut kemampuan membaca saksama, mengaitkan informasi, dan bernalar runtut, banyak yang merasa gagap.
TKA menguji kesabaran berpikir. Soalnya panjang, berlapis, dan menuntut ketekunan. Ini bukan soal anak-anak kita kurang cerdas, melainkan soal kebiasaan belajar yang belum sejalan dengan semangat iqra’—membaca secara mendalam, kritis, dan bermakna. Kita terlalu lama melatih lari jarak pendek, lalu terkejut ketika diminta menempuh lari panjang.
Gejala serupa tampak hingga bangku perguruan tinggi. Mahasiswa calon guru sering lancar mengutip definisi, tetapi kebingungan saat diminta menjelaskan alasan atau menganalisis persoalan nyata. TKA sekadar membuka fakta yang selama ini tersembunyi: budaya literasi yang rapuh dan daya tahan berpikir yang pendek.
Sebagian kalangan buru-buru menyimpulkan rendahnya TKA sebagai kegagalan kebijakan. Penilaian ini patut ditimbang ulang. Justru keberanian beralih dari asesmen hafalan menuju asesmen berbasis nalar adalah langkah progresif. Ibarat lampu yang dinyalakan di ruangan temaram, debu dan sudut-sudut yang berantakan memang tampak jelas. Masalahnya bukan pada lampu, melainkan pada ruangan yang memang perlu dibenahi.
Bagi Muhammadiyah, TKA adalah cermin kolektif sekaligus panggilan tajdid pendidikan. Dengan jaringan sekolah dan madrasah yang luas, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab historis untuk meneguhkan pendidikan yang melahirkan insan ulul albab—cerdas akal, jernih nurani, dan kuat amal. Pendidikan Islam berkemajuan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi menumbuhkan daya nalar, kepekaan, dan tanggung jawab keilmuan.
Perbaikan tidak harus dimulai dari perubahan besar. Jangan tergoda kembali ke hafalan dan latihan soal semata. Mulailah dari rutinitas sederhana: membiasakan membaca teks utuh, menghidupkan pertanyaan “mengapa,” dan melatih peserta didik menjelaskan jalan pikirannya. Sepuluh menit membaca setiap hari sering lebih bermakna daripada tumpukan modul yang jarang disentuh.
TKA tidak menuntut lahirnya generasi jenius seketika. Ia mengajak kita menempuh jalan pendidikan yang lebih jujur, pelan, dan mendalam. Nilai rendah hari ini bukan akhir cerita, melainkan penunjuk arah pembenahan. Yang patut dikhawatirkan bukan angka yang belum menggembirakan, tetapi sikap abai dan enggan ber-tajdid.














