Trump Incar Tarif Tol Selat Hormuz, Ultimatum Iran Malam Ini

Trump Mau Tarif Selat Hormuz

MAKLUMAT — Amerika Serikat mengincar pendapatan dari tarif tol bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz. Tawaran itu disampaikan di tengah tekanan keras kepada Teheran untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Presiden Donald Trump menyampaikan ide itu sebagai alternatif dari langkah Iran yang disebut telah lebih dulu menarik biaya terhadap kapal tertentu.

“Bagaimana jika kita yang memungut biaya? Kita adalah pemenangnya,” ujar Trump, melansir laporan Al Jazeera, Selasa (7/4/2026).

Untuk diketahui, AS mengancam akan melakukan serangan besar-besaran ke arah infrastruktur sipil apabila Iran tidak membuka Selat Hormuz pada Selasa malam GMT.

Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya dikutip dari Press TV, menyampaikan bahwa AS sebenarnya telah dipermalukan. “Amerika telah dipermalukan di Asia Barat,” kata juru bicara itu, menambahkan bahwa ancaman tidak dapat menghapus aib Amerika Serikat di Asia Barat.

Iran masih bisa melancarkan serangan drone dan rudal di sejumlah wilayah, sekaligus mempertahankan blokade di selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia itu.

Ultimatum dan Jalur Energi Global

Trump juga menyinggung ultimatum yang ia sebut “terakhir” kepada Teheran: membuka kembali jalur pelayaran atau menghadapi serangan lanjutan terhadap infrastruktur sipil, termasuk jembatan dan pembangkit listrik.

Baca Juga  Din Syamsuddin Desak Indonesia Berani Tekan AS–Israel, Kritik Sikap RI dalam Konflik Timur Tengah

Bagi AS, kesepakatan apa pun harus menjamin kelancaran arus minyak dan gas. Sebelum konflik, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG) melintasi Selat Hormuz.

Data itu menempatkan selat ini sebagai salah satu titik paling krusial dalam rantai pasok energi global.

Iran Dorong “Tatanan Baru”

Di sisi lain, Iran menegaskan pendekatan berbeda. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan kondisi Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum perang.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bahkan mendorong pembentukan protokol baru yang melibatkan negara-negara di sekitar selat.

Menurut Teheran, pengelolaan jalur air tersebut menyangkut kedaulatan nasional sekaligus kepentingan strategis kawasan.

Sementara itu, Gedung Putih disebut tengah mempertimbangkan skema tambahan, termasuk meminta negara-negara Arab ikut menanggung biaya perang melawan Iran.

Di tengah tarik-menarik ini, Selat Hormuz kembali menjadi episentrum—bukan hanya lalu lintas energi dunia, tetapi juga arena baru perebutan kendali geopolitik global.***