Trump Sebut Pangeran MBS “Menjilat” Lalu Memujinya di Tengah Perang Iran

Trump Hina MBS

MAKLUMAT — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) “menjilatnya”, lalu berbalik memuji, di tengah perang Iran yang memasuki bulan pertama.

Dalam forum investasi yang didukung Arab Saudi di Florida, dikutip Jumat (27/3/2026) waktu AS, Trump mengklaim MBS kini “harus bersikap baik” kepadanya. Ia bahkan melontarkan pernyataan vulgar, “menjilat pantatnya”, sembari menilai Saudi sempat meremehkan kebangkitan AS di bawah kepemimpinannya.

“Setahun lalu, Anda adalah negara yang ‘mati’. Sekarang jadi yang terpanas di dunia,” ujar Trump, melansir laporan NDTV World. Namun, tak lama kemudian, Trump mengubah nada. Ia menyebut MBS sebagai “pria hebat” dan “pejuang”, serta menilai Arab Saudi layak bangga atas kepemimpinannya. Meski demikian, pernyataan awal Trump terlanjur viral dan menuai kritik publik.

Mengapa MBS Tidak Membalas?

Mengutip House of Saud, MBS berada dalam jebakan struktural tanpa jalan keluar yang mudah—meliputi tekanan militer, diplomatik, dan personal yang saling mengunci.

Baca Juga  5 Drone Hermes Israel Ditembak Jatuh, Iran Ancam Invasi AS

Di sisi militer, Arab Saudi telah memasuki pekan keempat konflik yang tidak mereka mulai. Serangan rudal balistik dan drone Iran menyasar pangkalan militer, infrastruktur energi, dan wilayah sipil.

Konsumsi sistem Patriot PAC-3 MSE disebut melampaui kapasitas produksi tahunan Lockheed Martin. Tanpa dukungan sistem THAAD dan Patriot dari AS, serta kehadiran pasukan Amerika di kawasan Teluk, pertahanan udara Saudi berisiko melemah drastis.

Dari sisi diplomatik, kritik terbuka terhadap Trump berpotensi berujung konsekuensi. MBS disebut mempertimbangkan preseden Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, yang menghadapi tekanan saat hubungan dengan Washington memburuk. Perhitungannya: diam berarti kehilangan martabat, tetapi melawan bisa mengorbankan keamanan.

Secara personal, posisi MBS juga tertekan. Citra domestiknya dibangun sebagai pemimpin kuat dan berdaulat. Pernyataan Trump—“dia harus bersikap baik kepada saya”—berseberangan langsung dengan narasi tersebut.

Di era digital, potongan video pernyataan itu telah tersebar luas. MBS tak bisa mengakui penghinaan tanpa memperkuatnya, tetapi juga tak bisa mengabaikannya tanpa dianggap tunduk.

Negara Teluk Disebut Kompak

Trump dalam kesempatan itu menegaskan bahwa sejumlah negara Teluk berada di belakang AS dalam konflik melawan Iran. Ia menyebut Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait ikut “berjuang” bersama AS. “Mereka bersama kami,” kata Trump.

Baca Juga  AS dan Israel Serang Iran, Mediasi Oman Gagal Total

Pernyataan ini menguatkan indikasi konsolidasi regional di tengah eskalasi konflik. Laporan Reuters menyebut negara-negara Teluk mendesak Washington agar kesepakatan dengan Teheran tidak hanya menghentikan perang, tetapi juga membatasi permanen kemampuan rudal dan drone Iran.

Mereka juga meminta jaminan bahwa pasokan energi global tidak lagi dijadikan alat tekanan geopolitik. Pejabat Teluk menilai Iran belum menyediakan “jalan keluar” diplomatik setelah serangan berulang selama konflik.

Korban Tembus 4.500 Jiwa

Perang sejak akhir Februari kini menelan korban besar. Menurut The Independent, lebih dari 4.500 orang tewas di lebih dari selusin negara, termasuk sekitar 1.900 di Iran.Konflik ini memicu kekhawatiran global atas stabilitas energi dan potensi perluasan perang di Timur Tengah.

Belum ada tanda deeskalasi signifikan, sementara tekanan internasional untuk mencapai kesepakatan damai terus meningkat. *