MAKLUMAT — Ketegangan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus meningkat. Teheran mengklaim berhasil menembak jatuh lima drone canggih Hermes milik Israel di wilayah pesisir selatan negara itu.
Pernyataan tersebut disampaikan Departemen Hubungan Masyarakat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ahad (29/3/2026). Drone dihancurkan oleh pasukan Basij IRGC bersama warga lokal di wilayah Hormozgan.
Media Iran, Tasnim, melaporkan total drone musuh yang dihancurkan dalam konflik yang mereka sebut “Perang Ramadan” kini mendekati 140 unit. Selain itu, jumlah jet tempur generasi terbaru yang diklaim berhasil dilumpuhkan juga disebut telah mencapai dua digit.
Drone Hermes 900, yang diproduksi perusahaan pertahanan Israel Elbit Systems, dikenal sebagai UAV jarak jauh dengan kemampuan pengintaian dan pengawasan taktis. Nilainya diperkirakan mencapai sekitar 10 juta dolar AS per unit.
Ancaman Iran ke AS: “Jadi Makanan Hiu”
Di tengah eskalasi, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia, Enrahim Zolfaqari, melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat.
Ia menegaskan bahwa setiap upaya invasi darat atau pendudukan wilayah Iran akan berujung kehancuran bagi pasukan AS.
“Pasukan Amerika tidak hanya akan dihancurkan, tetapi juga bisa menjadi makanan hiu di Teluk Persia,” ujar Zolfaqari seperti disiarkan Tasnim News Agency.
Zolfaqari juga menyinggung pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya membuka kemungkinan operasi darat dan pendudukan pulau-pulau strategis di Teluk Persia. Ia menyebut rencana tersebut tidak realistis dan dipengaruhi tekanan eksternal.
Menurutnya, pasukan AS di kawasan saat ini berada dalam kondisi rentan dan menghadapi ancaman harian. Ia bahkan mengklaim sebagian pasukan Amerika telah meninggalkan pangkalan militer yang rusak dan berlindung di fasilitas sipil.
Iran Siap Hadapi Invasi
Zolfaqari menegaskan bahwa Iran telah lama mempersiapkan diri menghadapi skenario invasi darat dan siap memberikan respons tegas.
Ia memperingatkan bahwa setiap agresi akan berujung pada penangkapan, kehancuran, hingga hilangnya kekuatan militer pihak penyerang.
Selain itu, ia juga mendesak para pemimpin AS untuk belajar dari sejarah, mengingatkan bahwa intervensi asing di Iran sebelumnya selalu berakhir dengan kegagalan dan kerugian besar.
Latar Konflik: Serangan dan Balasan
Konflik terbaru ini dipicu oleh serangan besar-besaran AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, menyusul terbunuhnya Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer dan warga sipil.
Serangan udara tersebut menargetkan berbagai lokasi militer dan sipil di Iran, menyebabkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur luas.
Sebagai balasan, Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone ke posisi Amerika dan Israel di kawasan, termasuk pangkalan militer regional.
Situasi kini memasuki fase yang semakin berbahaya, dengan potensi eskalasi menuju konflik darat terbuka yang melibatkan kekuatan besar di Timur Tengah. ***













