MAKLUMAT — Wakil Ketua BEM Universitas Airlangga 2026, Shintya Iftitah Dzikrullah, melihat literasi sebagai bagian penting dalam memahami persoalan di sekitar. Oleh karenanya, membaca dan mendiskusikan beragam buku adalah langkah penting untuk menyelesaikan berbagai persoalan.
Ketertarikannya pada buku tumbuh dari kebiasaan membaca dan berbincang dengan orang-orang yang memiliki bacaan beragam. Dari percakapan itu, ia menemukan bahwa satu buku dapat melahirkan pemahaman berbeda, bergantung pada pengalaman dan sudut pandang pembacanya.
Pandangan tersebut semakin memengaruhi Shintya ketika ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Ia melihat organisasi memiliki potensi untuk menjadi ruang belajar sekaligus tempat merumuskan solusi bagi persoalan masyarakat.
“Namun, dalam pelaksanaannya, program kerja terkadang lebih berfokus pada penyelesaian agenda daripada memahami kebutuhan orang-orang yang menjadi sasaran kegiatan,” jelasnya kepada wartawan Maklumat.id, Selasa (13/10/2026).
Menurut Shintya, persoalan itu berkaitan dengan minimnya analisis sebelum program dirancang. Penyelenggara bisa saja memiliki gagasan menarik, tetapi tanpa pemahaman yang cukup terhadap kondisi lapangan, kegiatan berisiko tidak menjawab kebutuhan masyarakat. Ia juga melihat bahwa keputusan organisasi terkadang lebih banyak bertumpu pada asumsi daripada kajian yang memadai.
“Organisasi ketika menyelenggarakan program kerja cenderung formalitas untuk menuntaskan kewajiban, luput dari analisis kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Serta kurangnya landasan akademik saat menyelesaikan suatu permasalahan, cenderung berdasarkan asumsi, terutama para penyelenggara,” ujar Shintya.
Keresahan itu membuatnya berpikir tentang cara menghadirkan ruang belajar yang memungkinkan pengetahuan berkembang di luar lingkungan kampus. Ia kemudian menggagas Suaka Toer sebagai bagian dari leadership project Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA). Gerakan ini diluncurkan pada 21 Desember 2025 untuk memperluas akses literasi melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Nama Suaka Toer mencerminkan tujuan yang ingin ia capai. Kata suaka berarti tempat perlindungan, sedangkan Toer diambil dari nama sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Perpaduan keduanya menggambarkan harapan agar literasi menjadi ruang yang membantu masyarakat memperoleh pengetahuan dan mengembangkan cara berpikir.
“Suaka artinya tempat perlindungan. Toer diambil dari nama sastrawan ternama, yaitu Pramoedya Ananta Toer yang menyimbolkan tokoh pegiat literasi. Sehingga penyimpulan nama Suaka Toer adalah literasi dalam konteks luas, membaca, menulis, belajar, berbicara, menjadi tempat perlindungan masyarakat dari kebodohan,” jelasnya.
Bagi Shintya, literasi memang tidak cukup dipahami sebagai kemampuan membaca buku. Seseorang juga perlu mampu mengolah informasi, menyampaikan gagasan, dan memahami realitas sosial.
Pemahaman ini kemudian menjadi dasar bagi Suaka Toer untuk mengembangkan kegiatan yang tidak berhenti pada diskusi, tetapi memberi kesempatan kepada masyarakat untuk belajar melalui pengalaman langsung.
Dari Diskusi Buku ke Rumah Literasi
Pada tahap awal, Suaka Toer mengembangkan kegiatan yang mempertemukan orang-orang untuk bertukar gagasan. Diskusi buku dan webinar kepenulisan menjadi ruang bagi peserta untuk membicarakan bacaan serta mengembangkan kemampuan menulis.
Melalui kegiatan tersebut, Shintya ingin membangun kebiasaan belajar yang memberi tempat bagi pertukaran pandangan. Seiring berjalannya kegiatan, upaya memperluas akses pengetahuan kemudian diwujudkan melalui Rumah Literasi Loka Pustaka.
Ruang belajar ini mulai beroperasi pada 27 Juli 2026 di Jalan Setro Baru X No. 54, Kelurahan Dukuh Setro, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya, Jawa Timur. Kehadiran Loka Pustaka memberi Suaka Toer tempat untuk mengembangkan kegiatan yang lebih dekat dengan masyarakat.
“Wilayah Tambaksari, Kenjeran, dan sekitarnya menjadi fokus kegiatan untuk sementara waktu, dengan anak-anak sebagai salah satu kelompok sasaran utama. Suaka Toer juga membuka kegiatan bagi remaja dan mahasiswa,” jelas Shintya.
Di Loka Pustaka, kegiatan literasi dikembangkan melalui diskusi buku dan Bedah Gagasan yang membahas persoalan lingkungan serta kehidupan masyarakat pesisir. Kegiatan-kegiatan tersebut memberi kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pendapat dan mengenali persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
Bagi Shintya, ruang belajar semacam ini penting karena pengetahuan perlu dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Pembicaraan mengenai lingkungan, misalnya, dapat menjadi kesempatan untuk memahami persoalan yang dihadapi masyarakat sekitar.
Dengan begitu, kegiatan literasi dapat membantu peserta mengembangkan pemahaman berdasarkan pengalaman dan informasi yang mereka peroleh. Namun, ia juga menyadari bahwa setiap kelompok masyarakat memiliki kebutuhan yang berbeda.
“Anak-anak memerlukan pendekatan belajar yang memungkinkan mereka mengenal hal baru melalui pengalaman yang menyenangkan. Pemikiran tersebut kemudian mendorong kami mengembangkan program yang secara khusus memperkenalkan berbagai pilihan profesi,” jelasnya.
Ajak Anak Pesisir Kenali Beragam Profesi
Program Career Exploration menjadi salah satu bentuk kegiatan tersebut. Suaka Toer mengajak sekitar 30 anak di kawasan pesisir Kenjeran, Surabaya, untuk mengenal pekerjaan yang mungkin belum banyak mereka ketahui. Kegiatan ini menyediakan empat zona profesi, yakni seniman, fotografer, reporter, dan dokter.
Anak-anak tidak hanya mendengarkan penjelasan mengenai pekerjaan tersebut. Mereka mendapat kesempatan mencoba beberapa aktivitas, mulai dari melukis dan memotret hingga membaca teks melalui prompter berita serta mengenal penggunaan stetoskop.
Pengalaman itu membantu mereka memperoleh gambaran awal mengenai kegiatan yang dilakukan dalam berbagai profesi. Program ini berangkat dari pengamatan bahwa pilihan cita-cita anak dapat dipengaruhi oleh pekerjaan yang mereka kenal sehari-hari.
“Profesi guru, dokter, dan polisi mungkin lebih sering mereka dengar, sementara pekerjaan lain belum tentu masuk dalam bayangan mereka. Padahal, dunia kerja menawarkan beragam bidang yang bisa dipelajari, seperti presenter, fotografer, seniman, dan dokter gigi,” ujarnya.

Melalui Career Exploration, Shintya ingin memperkenalkan kemungkinan-kemungkinan tersebut sejak dini. Ia berharap anak-anak memiliki lebih banyak referensi untuk mengenali minat dan membayangkan masa depan. Kesempatan mencoba langsung juga memberi pengalaman yang berbeda dibandingkan sekadar mendengar nama suatu pekerjaan.
“Menjadi relawan dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Suaka Toer membuat kami menyadari satu hal, bahwa orang-orang yang memiliki akses pengetahuan dan informasi lebih luas berkewajiban untuk ikut serta memberikan akses itu kepada mereka yang membutuhkan,” ungkap Shintya.
Pengalaman bersama anak-anak itu memperkuat alasan Suaka Toer mengembangkan kegiatan literasi bagi masyarakat. Akses pengetahuan dapat membantu seseorang mengetahui pilihan yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Meski demikian, pengenalan profesi dalam satu kegiatan belum cukup untuk mendampingi anak-anak memahami minat dan kemampuan mereka secara lebih mendalam. Karena itu, Suaka Toer berencana mengembangkan kelas profesi gratis bagi anak-anak pesisir.
Shintya juga ingin melibatkan lebih banyak mahasiswa sebagai relawan agar anak-anak memiliki kesempatan belajar secara berkelanjutan. “Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga Loka Pustaka tetap berfungsi sebagai ruang belajar bagi masyarakat,” jelasnya.
Memahami Kepemimpinan melalui Pengalaman
Pengembangan Suaka Toer membawa Shintya pada pemahaman baru mengenai kepemimpinan. Ketika merancang program, ia perlu menguji gagasan dan mengamati kebutuhan masyarakat. Proses tersebut mengajarkannya bahwa kegiatan sosial tidak cukup dibangun dari keinginan penggagas, tetapi perlu mempertimbangkan pengalaman orang-orang yang akan terlibat di dalamnya.
Pengalaman itu berkaitan dengan keresahan awalnya terhadap program organisasi yang kurang didasarkan pada analisis persoalan. “Melalui Suaka Toer, kami berusaha menerapkan pendekatan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Saya sendiri juga belajar bahwa relawan dan peserta memiliki peran dalam membentuk arah kegiatan,” ceritanya.
Sebagai Wakil Ketua BEM Universitas Airlangga 2026 dan penerima Beasiswa Aktivis Nusantara Angkatan 15, Shintya menjalankan Suaka Toer di tengah aktivitas kemahasiswaannya. Gerakan ini memberinya ruang untuk menghubungkan gagasan kepemimpinan dengan upaya memperluas akses pengetahuan di luar lingkungan kampus.
Ke depan, ia ingin menjaga keberlanjutan Loka Pustaka melalui kelas profesi gratis dan keterlibatan mahasiswa sebagai relawan. Upaya tersebut membutuhkan kegiatan yang konsisten serta kesediaan untuk terus mengevaluasi program berdasarkan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, Loka Pustaka diharapkan dapat terus menjadi tempat bagi anak-anak dan warga sekitar untuk belajar.
Bagi Shintya, perjalanan Suaka Toer berawal dari keresahan terhadap cara organisasi memahami persoalan, kemudian berkembang menjadi upaya membuka ruang belajar bagi masyarakat. Melalui kegiatan literasi, ia ingin membagikan kesempatan yang mungkin lebih dahulu ia peroleh melalui buku, pendidikan, dan lingkungan organisasi.
“Orang-orang yang memiliki akses pengetahuan dan informasi lebih luas berkewajiban untuk ikut serta memberikan akses itu kepada mereka yang membutuhkan,” pungkasnya.
*) Penulis: M Habib Muzaki











