MAKLUMAT — Kreator konten, Virdinda Le Ode menyoroti hubungan antara pendidikan, masyarakat kritis, dan kualitas demokrasi melalui unggahan video pendek yang mempertanyakan sikap presiden terhadap orang-orang pintar.
“Bolehkah kita mengatakan bahwa sebetulnya presiden kita itu sangat anti terhadap orang-orang pintar?” ujar Dinda—sapaan akrabnya—melalui akun TikTok pribadinya @virdindach_ pada Sabtu (27/6/2026).
Pertanyaan tersebut, dikaitkan dengan sejumlah pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menurut Dinda telah beberapa kali menyinggung orang-orang yang dianggap terlalu pintar atau banyak bicara.
Dinda kemudian menunjukkan salah satu cuplikan video yang memperlihatkan Presiden Prabowo tampak meremehkan kritik dari seseorang yang disebutnya sebagai orang pintar terkait Program MBG.
“Bolehkah kita mengatakan bahwa sebenarnya mungkin presiden kita juga anti terhadap pendidikan,” lanjut Dinda.
Ia lalu menampilkan cuplikan video di mana presiden sedang menyampaikan bahwa gaji guru dan pegawai negeri saat ini belum memadai dan sulit dinaikkan karena keuangan negara mengalami kebocoran.
“Tapi pak, ada yang sehari berapa triliun sama berapa miliar (Program MBG dan Kopdes Merah Putih), bisa tuh,” imbuhnya.
Dari sana, Dinda lalu mengembangkan argumennya ke isu yang lebih mendasar. Pola yang menurutnya kerap muncul di negara-negara otoriter, di mana kekuasaan dipertahankan lewat dua hal utama, yakni kebodohan dan kemiskinan.
“Mereka tidak akan memelihara orang-orang pintar, apalagi kritis,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa dalam kondisi yang demikian, penguasa lebih mudah mempertahankan kekuasaan apabila masyarakatnya dalam kondisi kurang berpendidikan dan hidup dalam kemiskinan.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat membuat masyarakat lebih fokus memenuhi kebutuhan dasar ketimbang mempertanyakan kebijakan secara kritis.
Ia juga berpendapat bahwa masyarakat yang memiliki akses pendidikan yang baik cenderung lebih memperhatikan rekam jejak pemimpin, mengawasi jalannya pemerintahan, serta tidak mudah dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar substansi kebijakan.
“Ketika kemudian kemiskinan dan juga pelestariannya dipelihara dalam sebuah negara maka kita semua akan menjadi lupa terhadap inti masalah yang sebenarnya. Selamanya kita akan bergantung pada penguasa. Selamanya kita akan hidup dalam kendali dan juga kendali mereka. Dan, kita tidak bisa apa-apa,” tandasnya.
Unggahan ini menuai beragam tanggapan dari warganet. Hingga kini, video tersebut telah mendapat 69 ribu tanda suka dan ratusan komentar.
Sejumlah pengguna mengaku sependapat dengan isi pembahasan yang disampaikan Dinda. Salah satu akun menulis, “jujur ikut jengkel,” sebagai bentuk respons terhadap isu yang dibahas.
*) Penulis: Nasywa Athirah













