MAKLUMAT — Laporan terbaru yang dirilis Koalisi Transisi Bersih menilai Indonesia berpotensi untuk mampu menjadi pengendali harga nikel dunia dalam beberapa tahun ke depan, jika melakukan strategi hilirisasi yang tepat.
Dalam laporan bertajuk “Strategi Mengontrol Nikel: Dari Price Taker ke Price Maker,” Transisi Bersih menyebut bahwa Indonesia memiliki modal yang sangat kuat, dengan menguasai sekitar 42 persen cadangan nikel global dan menyumbang lebih dari 60 persen pangsa pasar dunia.
Direktur Eksekutif Transisi Bersih, Abdurrahman Arum, menilai Indonesia berpeluang besar meraup manfaat ekonomi yang jauh lebih optimal dengan potensi yang dimiliki tersebut jika dapat dikelola secara tepat. Namun, ia menyoroti bahwa strategi pengelolaan dan hilirisasi nikel yang dijalankan pemerintah saat ini disebut belum mampu memaksimalkannya.
Ia berpendapat, derasnya arus investasi dan ekspansi produksi nikel Indonesia yang tidak terkendali justru menekan harga nikel dunia, sehingga berdampak langsung pada penurunan nilai ekspor nasional. Selain itu, ekspansi masif juga memicu dampak lingkungan serius, termasuk deforestasi puluhan ribu hektare di kawasan pusat produksi nikel.
“Selama ini Indonesia justru membanjiri pasar dengan produksi berlebihan, sehingga harga nikel jatuh dan nilai tambah nasional hilang. Padahal, secara ekonomi, Indonesia punya daya untuk mengatur pasar,” kata Abdurrahman dalam Forum Reformasi Hilirisasi Nikel untuk Meningkatkan Manfaat Ekonomi, yang digelar di Oria Hotel Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Menurut Abdurrahman, persoalan utama dalam hilirisasi nikel bukan terletak pada kebijakan tersebut, melainkan pada strategi implementasinya. Ia menilai, diperlukan pendekatan yang lebih tepat agar besarnya cadangan dan produksi nikel dapat benar-benar bermuara pada kemakmuran negara.
Dalam laporannya, Transisi Bersih merekomendasikan strategi ‘kontrol dan manfaatkan’ (KM). Melalui strategi itu, Abdurrahman menilai Indonesia berpeluang besar untuk mampu menjadi penentu dan mengerek harga nikel dunia hingga dua kali lipat ke kisaran USD 26–36 ribu per metrik ton dalam tiga hingga lima tahun ke depan.
Jika mulai diterapkan pada 2026, kata dia, kenaikan harga tersebut diperkirakan tercapai pada periode 2028–2030, dengan potensi tambahan pendapatan negara mencapai Rp369 triliun per tahun.
Empat Langkah Strategis Usulan Transisi Bersih
Untuk mewujudkan hal tersebut, Transisi Bersih mengusulkan empat langkah strategis. Pertama, memperketat kuota produksi dengan menetapkan batasan produksi selama 3–5 tahun guna menghilangkan surplus global dan mendorong kenaikan harga.
Kedua, menerapkan pajak ekspor progresif sebesar 10–35 persen yang disesuaikan dengan pergerakan harga nikel dunia, demi meningkatkan penerimaan negara sekaligus mendorong penguatan industri hilir di dalam negeri.
“Ketiga adalah menghapus insentif fiskal dengan mencabut fasilitas tax holiday dan tax allowance bagi proyek smelter baru,” kata Abdurrahman.
Ia menilai, dominasi pasar Indonesia sudah cukup kuat untuk menarik investasi tanpa perlu subsidi tambahan.
Keempat, meningkatkan standar environmental, social, and governance (ESG) agar pengelolaan nikel tidak hanya memberikan nilai tambah ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan dan sosial.
“Strategi ini bukan sekadar soal angka, tapi tentang menjalankan amanat UUD 1945 untuk memanfaatkan sumber daya alam sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat secara berkelanjutan,” tandas Abdurrahman.
Selain strategi jangka pendek dan menengah, Transisi Bersih juga mendorong langkah jangka panjang melalui pembentukan Organization of Nickel Exporting Countries (ONEC) bersama negara produsen lain seperti Australia, Brasil, hingga Filipina. Ia berharap, hadirnya ONEC dapat berfungsi layaknya OPEC di sektor migas, dalam mengoordinasikan volume produksi global agar tercipta harga nikel yang adil dan berkelanjutan bagi negara pemilik sumber daya.
Hilirisasi Tak Diimbangi Industrialisasi yang Tepat
Pada sisi yang lain, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai bahwa Indonesia selama ini belum mampu menjadi pengendali harga nikel karena dominasi China sebagai pembeli tunggal atau monopsoni.
Kondisi tersebut, kata dia, dipicu oleh kebijakan hilirisasi yang tidak diimbangi dengan kebijakan industrialisasi yang tepat, sehingga produk hilirisasi masih berupa olahan primer dan diekspor karena sektor industri menengah belum berkembang.
Oleh karena itu, Bhima menekankan pentingnya mencari pembeli alternatif produk hilirisasi nikel untuk mengurangi dominasi China dalam penentuan harga.
“Kita butuh ganti pemain (pembeli) nikel, siapa? BUMN harusnya jadi champion. Nikel kita bisa diserap oleh BUMN seperti Krakatau Steel dan Inalum, termasuk PLN untuk membangun battery energy storage (BESS),” sorotnya.
“Mereka kan juga butuh mineral kritis untuk baterai sejalan dengan kebijakan untuk mendorong transisi energi,” sambung Bhima.
Dalam paparannya, Bhima menilai Indonesia kehilangan momentum dalam membangun midstream industry, yakni pemrosesan dan pemurnian bijih menjadi produk setengah jadi ataupun produk jadi yang dapat digunakan oleh industri hilir. Midstream menjembatani penambangan bahan mentah (upstream) dengan manufaktur produk akhir (downstream).
Bhima juga menyebut bahwa Indonesia tidak mendapatkan keuntungan dari fenomena ledakan atau pertumbuhan pesat kendaraan listrik (boom EV/electronic vehicle), lantaran baterai kendaraan listrik kini sudah mulai beralih meninggalkan nikel.
Sebagai informasi, Transisi Bersih atau Financial Research Center for Clean Energy (FRCCE) merupakan think tank independen di bidang ekonomi dan lingkungan hidup yang berbasis di Indonesia. Lembaga ini berfokus pada perumusan strategi kebijakan ekonomi untuk menjawab tantangan transisi energi bersih dan transformasi ekonomi berbasis nilai tambah tinggi serta berkeadilan, dengan pendekatan riset yang ketat dan keberpihakan pada kepentingan nasional serta publik jangka panjang.
Sementara itu, CELIOS adalah lembaga riset independen di tanah air, yang berfokus pada riset dan analisis isu-isu ekonomi, hukum, keadilan sosial, hingga perubahan iklim. CELIOS juga telah rutin melakukan riset dan publikasi berbagai temuannya dalam berbagai disiplin bidang tersebut.












