MAKLUMAT — Mantan Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan menyoroti ucapatan Perdana Menteri (PM) Kanada Mark Carney yang berpidato di World Economic Forum 2026. Forum itu sendiri digelar di Davos, Swiss pada 19-23 Januari 2026.
“Kemarin PM Kanada Mark Carney berpidato di World Economic Forum, Davos, dan rasanya perlu kita simak. Ia bicara blak-blakan, mengakui secara terbuka bahwa tatanan dunia yang katanya berbasis hukum dan keteraturan itu ternyata selama ini penuh kepura-puraan,” ujar Anies, melansir akun X @aniesbaswedan pada Rabu (21/1/2026).
Kebohongan yang Dipelihara
PM Carney menjelaskan bahwa negara-negara besar kerap menempatkan diri di luar aturan yang mereka buat sendiri. Tata niaga global dijalankan secara timpang, dan hukum internasional ditegakkan selektif. Keras bagi sebagian, longgar bagi yang lain, tergantung siapa pelaku dan siapa korbannya. Situasi ini Carney sebut sebagai living within a lie, hidup dalam kebohongan yang dipelihara bersama.
Anies pun sepakat dengan hal itu. Ia menekankan perlunya negara-negara Global South bersatu supaya tidak mudah disetir dan diintervensi kekuatan besar. Global South sendiri adalah istilah untuk negara-negara berkembang dan kurang maju atau menengah di Asia, Afrika, Amerika Latin, hingga Oseania.
Negara-negara Global South juga seringkali berbagi pengalaman sejarah kolonialisme, ketimpangan ekonomi, hingga isu-isu pembangunan seperti kemiskinan dan infrastruktur yang kurang memadai. “Menariknya, kegelisahan ini ternyata juga dirasakan negara menengah di belahan Utara seperti Kanada,” imbuh Anies.
Anies menyebut bahwa PM Carney pun menarik kesimpulan serupa dengannya, yakni jika negara-negara menengah bernegosiasi secara terpisah dengan negara besar, posisi tawar mereka akan lemah. Akibatnya, negara-negara tersebut justru saling bersaing untuk menjadi yang paling patuh, keadaan yang jelas tidak dapat disebut sebagai wujud kedaulatan.
“Kenyataannya, dunia kini sudah berubah. Sudah multipolar, sudah sangat dinamis. PM Carney mengajak negara-negara menengah untuk bangun dan sadar akan kenyataan ini, lalu mulai membangun koalisi yang fleksibel. Beda isu bisa beda mitra, tak harus loyal buta pada satu polar, sambil terus memperkuat ekonomi di dalam negeri,” jelas Anies.
Peran Diplomasi Indonesia
Anies menjelaskan bahwa apa yang dikatakan oleh PM Carney tersebut menjadi sangat relevan juga untuk Indonesia. Menurutnya, diplomasi yang dilakukan oleh Indonesia harus proaktif, tak bisa netral yang pasif. Indonesia harus mampu membangun jembatan dan tidak sekadar ikut arus.
Ia mengatakan bahwa Kanada berbicara dari sudut pandang negara menengah di Barat. Sementara itu, Indonesia dapat mengambil peran sebagai penghubung antara negara-negara menengah Barat yang mulai sadar akan realitas ini dengan Global South yang sejak lama mengalami ketidakadilan dalam tatanan dunia. Indonesia memiliki legitimasi di kedua kubu.
“Di tengah dunia yang makin terpecah, justru negara-negara menengah punya kesempatan membentuk tatanan baru yang lebih adil. Syaratnya, harus berani bergerak bersama,” tandasnya.














