MAKLUMAT — Hujan ekstrem dilaporkan mengguyur Jakarta sepanjang Kamis (22/1/2026), dan memicu banjir di ratusan titik permukiman serta puluhan ruas jalan. Curah hujan harian tercatat sangat tinggi, mencapai 126 milimeter, disertai angin kencang hingga 56 kilometer per jam. Pola hujan terjadi persisten dengan tiga puncak intensitas—pagi, siang, dan malam—bahkan berlanjut hingga tengah malam.
Pakar klimatologi Prof. Erma Yulihastin dikutip dari akun X @EYulihastin menjelaskan, karakter hujan tersebut mengindikasikan sistem hujan menetap dengan potensi badai. Ia menyebut hujan deras terus terjadi secara real time dan dapat dipantau melalui perangkat Personal Weather Station (PWS) yang terpasang di sejumlah titik Jakarta. “Bahkan tengah malam pun hujan deras terjadi hingga saat ini. Hujan secara real time di Jakarta bisa dipantau melalui alat yang dipasang di Jakarta. Terima kasih Wisma Asia yang telah berinisiatif memasang alat PWS,” tulis Erma dikutip pada Jumat (23/1/2026).
Jakarta Banjir: hujan deras mengguyur Jakarta kemarin (22/1) mencapai 126 mm disertai dengan dengan 3 kali puncak hujan disertai angin kencang (56 km/jam) dalam sehari: pagi, siang, malam. Ini menandakan sistem hujan yang terjadi bersifat persisten dan terdapat indikasi badai. pic.twitter.com/2ySv63Fj18
— Prof. Dr. Erma Yulihastin (@EYulihastin) January 22, 2026
Jakarta banjir ini menjadi perbincangan hangat di media sosiak X sejak Kamis malam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD DK Jakarta mencatat hingga Kamis pukul 20.00 WIB, banjir menggenangi 132 RT dan 22 ruas jalan di wilayah DKI Jakarta.
Genangan tersebar di Jakarta Barat, Pusat, Selatan, Timur, dan Utara dengan ketinggian bervariasi antara 10 sentimeter hingga 150 sentimeter. Penyebab utama banjir berasal dari curah hujan tinggi dan luapan sejumlah sungai, antara lain Kali Angke, Kali Krukut, Kali Pesanggrahan, Kali Mampang, Kali Ciliwung, dan Kali Sunter.
Di Jakarta Barat, banjir merendam 31 RT, dengan titik terparah di Rawa Buaya yang mencapai 150 sentimeter. Jakarta Pusat mencatat 27 RT tergenang di Karet Tengsin. Jakarta Selatan terdampak paling luas dengan 46 RT, terutama di Petogogan dan Pela Mampang. Jakarta Timur mencatat 26 RT tergenang, dengan luapan Kali Ciliwung memengaruhi Bidara Cina, Cawang, dan Cililitan. Jakarta Utara mencatat genangan di 2 RT Kapuk Muara.
BPBD melaporkan sebagian warga mengungsi, terutama di Kedaung Kali Angke, Jakarta Barat. Sebanyak 11 kepala keluarga atau 28 jiwa sementara menempati Masjid Jami Al Khaeer. Sejumlah wilayah dilaporkan mulai surut, antara lain Gandaria Selatan dan Jagakarsa.
Selain permukiman, banjir juga melumpuhkan mobilitas. Sebanyak 22 ruas jalan tergenang, termasuk Jalan Daan Mogot KM 13 di Jakarta Barat dengan ketinggian air mencapai 50 sentimeter, serta Jalan Strategi Raya dan Basoka Raya di Joglo dengan genangan hingga 65 sentimeter. BPBD mencatat sebagian ruas jalan lain telah surut dan kembali bisa dilalui.
Untuk mempercepat penanganan, BPBD DKI Jakarta mengerahkan personel gabungan bersama Dinas Sumber Daya Air, Dinas Bina Marga, dan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan. Petugas melakukan penyedotan genangan, memastikan saluran air berfungsi, serta menyiapkan kebutuhan dasar bagi penyintas. Pemerintah menargetkan genangan surut secepat mungkin.
OMC Dilanjutkan
Di sisi mitigasi cuaca, Pemerintah Provinsi DK Jakarta melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hari keenam. Operasi ini melibatkan koordinasi BPBD DKI Jakarta, BMKG, BNPB, dan TNI AU. Tiga sorti penerbangan pesawat CASSA 212 A-2105 diberangkatkan dari Bandara Halim Perdanakusuma.
Sorti pertama dan kedua memfokuskan penyemaian awan di perairan Selat Sunda dengan bahan Natrium Klorida (NaCl) masing-masing 800 kilogram untuk meluruhkan awan hujan agar presipitasi terjadi di laut. Sorti ketiga menyasar wilayah Kabupaten Bekasi dengan bahan Kalsium Oksida (CaO) untuk menekan intensitas awan hujan dari arah timur.
Deputi Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menegaskan kondisi atmosfer menunjukkan potensi cuaca lebih ekstrem dibanding kejadian banjir pada 12 dan 18 Januari. Ia menyebut risiko cuaca ke depan masih berada pada kategori menengah sehingga OMC direncanakan berlangsung hingga 22 Januari 2026.
Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB, Mohamad Yohan, menekankan OMC merupakan langkah antisipatif berbasis analisis meteorologi berkelanjutan untuk mengurangi potensi hujan ekstrem di wilayah padat penduduk seperti Jakarta dan sekitarnya.
BPBD DKI Jakarta mengimbau warga tetap waspada terhadap potensi genangan lanjutan. Dalam keadaan darurat, masyarakat diminta segera menghubungi nomor 112, layanan gratis yang beroperasi 24 jam non-stop.***













