Khotbah Jumat Prof. Abdul Mu’ti: Isra Mikraj, Shalat, dan Kunci Kesuksesan Hidup

Khotbah Jumat Abdul Mu'ti

MAKLUMATPeristiwa Isra Mikraj menjadi momentum penting untuk kembali memaknai shalat sebagai inti ajaran Islam. Hal tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam Khotbah Jumat di Masjid Baitut Thalibin, Kemendikdasmen, Jumat (23/1/2026).

Dalam khotbahnya, Prof. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa shalat bukan sekadar ritual ibadah, melainkan fondasi utama kehidupan seorang muslim. Ia menyebut, dibandingkan rukun Islam lainnya, shalat merupakan ibadah yang paling banyak disebut dalam Al-Qur’an, menandakan posisi sentralnya dalam membentuk iman dan perilaku umat Islam.

“Shalat adalah salah satu rukun Islam yang apabila ditunaikan dengan benar, maka iman dan Islam seseorang menjadi sempurna,” ujarnya di hadapan jamaah.

Prof. Abdul Mu’ti menjelaskan, setidaknya terdapat lima keterkaitan penting shalat dalam kehidupan. Pertama, shalat berhubungan langsung dengan kesempurnaan rukun Islam. Menegakkan shalat berarti menegakkan tiang agama dan menjaga kualitas keimanan.

Kedua, shalat memiliki kaitan erat dengan kepedulian sosial. Dalam Al-Qur’an, perintah shalat kerap disandingkan dengan kewajiban menunaikan zakat. Hal ini menunjukkan bahwa shalat seharusnya melahirkan kepekaan terhadap sesama dan komitmen untuk berbagi.

Ketiga, dalam dimensi sosial lainnya, shalat berkaitan dengan komitmen menegakkan amar makruf nahi munkar. Shalat yang benar, kata dia, akan membentuk kesadaran moral dan kemampuan mencegah perbuatan keji serta mungkar.

Baca Juga  Sekum PP Muhammadiyah: Pernyataan PTMA Bukan Mewakili Sikap Organisasi

Keempat, shalat tidak hanya membentuk ketenangan batin, tetapi juga mendorong terciptanya perdamaian dalam kehidupan sosial. Dengan shalat, seorang muslim senantiasa mengingat Allah dan memperoleh ketenteraman jiwa dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

“Shalat menjadikan hidup lebih tenang karena hati selalu terhubung dengan Allah,” tutur Prof. Abdul Mu’ti.

Kelima, shalat memiliki kaitan langsung dengan keberhasilan dan kesuksesan hidup. Ia mengutip Surah Al-Mu’minun ayat 1–2 yang menegaskan keberuntungan orang-orang beriman yang khusyuk dalam shalatnya.

Menurutnya, kekhusyukan menjadi kata kunci yang menghubungkan shalat dengan ketenangan, kedamaian, dan keberhasilan hidup. Kedekatan dengan Allah melalui shalat akan memandu seseorang dalam bersikap dan bertindak, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Menutup khotbahnya, Prof. Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa shalat adalah ibadah yang wajib ditegakkan dalam kondisi apa pun. Shalat menjadi pengikat hubungan seorang hamba dengan Allah, sekaligus sumber kekuatan spiritual dalam menjalani kehidupan.

“Dalam situasi apa pun, shalat harus tetap ditegakkan karena di sanalah letak kedekatan kita dengan Allah,” pungkasnya.***