Lazismu Jatim: Pengelolaan Zakat yang Tepat Mampu Gerakkan Ekonomi Umat

MAKLUMAT — Zakat dinilai memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi umat apabila dikelola secara strategis, masif, dan terintegrasi. Hal tersebut disampaikan Ketua Badan Pengurus Lazismu Jatim, Imam Hambali.

Menurutnya, dana zakat yang terhimpun di masyarakat sejatinya merupakan kekuatan ekonomi yang sangat signifikan. Jika distribusinya tepat, dana tersebut tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga mampu memicu perputaran ekonomi di level akar rumput.

“Kalau ada dana yang terkumpul di masyarakat dalam jumlah besar, tentu ini akan menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya kepada wartawan Maklumat.id saat ditemui di Surabaya, Selasa (3/3/2026).

Ia mencontohkan secara sederhana, apabila puluhan juta fakir miskin menerima bantuan dan membelanjakannya untuk kebutuhan sehari-hari, maka efek domino terhadap aktivitas ekonomi akan langsung terasa. Dalam perspektif Islam, zakat memang merupakan hak kaum duafa yang dititipkan kepada kelompok mampu untuk disalurkan kembali.

Meski demikian, Imam Hambali menekankan bahwa strategi pengelolaan zakat tidak boleh berhenti pada pola bantuan sesaat. Lazismu Jawa Timur mendorong pendekatan pemberdayaan (empowerment) bagi mustahik yang memiliki potensi berkembang secara ekonomi.

“Tidak semua mustahik bisa diperlakukan sama. Ada yang memang perlu pendampingan terus-menerus, ada yang kita tingkatkan kualitasnya melalui pendidikan, dan ada yang kita berdayakan dalam konteks sosial-ekonomi,” jelasnya.

Baca Juga  Lazismu Jatim Targetkan Penghimpunan Zakat Capai Rp70 Miliar di Ramadan 1447 Hijriah

Ia mencontohkan program desa binaan di suatu wilayah di mana masyarakat mendapatkan bantuan kandang ayam yang dikelola secara produktif oleh penerima manfaat.

Model ini terbukti mampu mendorong pertumbuhan ekonomi warga apabila dikelola dengan baik. Hasil penjualan telur dapat diputar kembali sebagai modal usaha sehingga menciptakan siklus ekonomi yang berkelanjutan.

“Kalau mereka kreatif, hasil penjualan telur diputar kembali. Dalam satu tahun, pertumbuhan sampai 100 persen itu sangat mungkin,” terangnya.

Program desa binaan Lazismu tidak hanya fokus pada aspek ekonomi, tetapi juga menghidupkan kegiatan keagamaan, pendidikan, kesehatan, dan sosial kemasyarakatan secara terpadu di wilayah dampingan.

Terkait transformasi mustahik menjadi muzaki, Imam Hambali mengakui sudah ada beberapa contoh keberhasilan meski jumlahnya masih terbatas. Namun demikian, ia tetap optimistis pendekatan pemberdayaan akan melahirkan lebih banyak pelaku usaha mandiri di masa mendatang.

“Kami meyakini dari mustahik ini nanti akan lahir saudagar-saudagar besar,” pungkasnya.