Kapal Induk AS dan “Tentara Tinja”: Sebuah Peringatan?

Ilustrasi diolah menggunakan SORA.

MAKLUMAT — Tuhan itu punya tentara di seluruh jagat raya. “Dan milik Allah bala tentara langit dan bumi. Dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. (Qs. Al Fath: 7)

“Dan milik Allah bala tentara langit dan bumi. Dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. (Qs. Al Fath: 7)

Tentara-Nya macam-macam. Dari yang enteng-enteng sampai yang berat. Ibaratnya ada yang cuma bersenjatakan ketapel, sampai yang bom nuklir. Kelasnya pun macam-macam, tergantung urusannya. Ada yang sekelas Satpol PP, ada yang kelas komando khusus.

Yang ringan misalnya berwujud kodok, belalang, kutu, topan, darah yang ditimpakan kepada Fira’un. Karena Fir’aun ndablek dan ngeyel, tak menggubris tentara yang enteng-enteng itu, akhirnya Allah mengirim tentara kelas berat berupa gelombang tsunami super dahsyat yang menenggelamkan Firaun beserta bala tentaranya.

Penulis: Anwar Hudijono. *)
Penulis: Anwar Hudijono. *)

Tentara kelas berat pula berupa badai dingin yang dikirim untuk membinasakan Bangsa ‘Ad. Banjir bah yang menelan hampir seluruh umat Nabi Nuh. Ataupun tentara berupa gempa dahsyat yang menghancurkan umat Nabi Luth.

Ada juga tentara yang kelihatan enteng tapi ternyata dahsyat, yaitu burung ababil. Mungkin burungnya biasa-biasa seperti burung “emprit kaji” atau jalak uren.  Tapi senjata yang dibawa kerikil dari neraka. Begitu ditembakkan ke Raja Abrahah dan tentaranya semua jadi ludes seperti daun dimakan ulat.

“Tentara Tinja” dan Kapal Induk AS

Saya menduga, Tuhan mengirim tentara-Nya yang berupa tinja untuk memperingatkan tentara Amerika. “Tentara tinja”? Ya tinja. Bukan ninja, pembunuh bayaran Jepang. Kok bisa?

Baca Juga  Gencatan Senjata Masih Buntu, Israel Serang Gaza, 11 Tewas

Ceritanya begini. Kapal induk bertenaga nuklir USS Gerald R. Ford itu memiliki 600 toilet untuk sekitar 4.500 awak dan penumpangnya. Ini kapal sangat mahal. Harganya sekitar Rp200 triliun. Ini kapal serba “ter”. Terbesar. Tercanggih. Terbaik. Terkuat. Termodern.

Pada saat hendak dipergunakan perang melawan Iran, timbul masalah. Sebagian besar toiletnya rusak. Banyak yang mampet. Tinjanya gak bisa disentor air. Entah tinjanya yang keras seperti beton eser atau sistem penyentorannya yang tidak beres. Mungkin sekali tinjanya ekstra keras akibat bedegelen.

Akibatnya antrean panjang seperti barisan semut mau masuk liang. Tentu saja bukan barisan dalam suasana gembira seperti mau mendapat THR. Suasananya campur aduk. Ada yang mringis-mringis. Yang metenteng. Yang teriak-teriak agar yang di dalam mengakselerasi “pengisingannya”.

Seseorang bisa antre sampai satu jam. Celakalah yang sudah kelewat kebelet. Mau tidak mau harus mbrojol di katok (celana). Atau ndoprok sembarang tempat yang penting terlampiaskan.

Sampai di sinikah tragedi tinja? Tidak. Bau tinja menyebar ke seantero kapal. Kapal semewah apapun kalau full bau tinja, apalagi yang menceret, pasti tidak nyaman. Mau makan bau tinja. Tidur bau tinja.

Tinja ini menambah burnout, lelah fisik, mental dan emosional tentara Amerika. Burnout itu akibat mereka tiba-tiba diperpanjang masa tugasnya. Harapan untuk bisa pulang ketemu anak, istri, keluarga jadi sirna.

Baca Juga  Refleksi Iduladha: Apa yang Bisa Diceritakan dari Halal Sains?

Mereka selalu dalam was-was. Saat bertugas di Laut Karibia tidak seberapa was-was karena yang dihadapi bandar-bandar narkoba. Tapi di Kawasan Teluk Persia, yang dihadapi Iran yang punya rudal balistik, hingga drone bawah air yang sewaktu-waktu bisa nyasar ke kapal.

Sudah dalam kondisi burnout begitu oleh negaranya masih dijadikan kambing hitam bahwa ada yang mencoba membakar kapal. Padahal kebakaran itu karena rudal Iran. Tapi biasa orang kecil selalu dijadikan tumbal penguasa.

Gara-gara tinja, semangat tempur tentara Amerika seperti hilang layaknya layang-layang kehilangan ragangan. Mereka maunya bisa secepatnya pulang biar bisa ndodok (berjongkok) di toilet rumah sendiri sambil merokok, atau main HP. USS Gerald Ford pun akhirnya ditarik mundur untuk memperbaiki toilet.

Peringatan Tuhan dan Nasib AS?

Tinja ini hanya bagian dari serentetan tentara Tuhan untuk memperingatkan Amerika Serikat karena kesombongannya. Melakukan penindasan di mana-mana. Melawan Tuhan.

Sebelumnya berupa api yang menghanguskan kota paling dosa Los Angeles. Banjir bandang yang meluluhlantakkan sejumlah kota. Sekarang badai salju di New York.

Tapi, saya yakin Amerika tidak percaya dengan peringatan Tuhan itu. Seperti halnya Fira’un yang menurut Bibel sampai 10 jenis peringatan. Al-Qur’an menjelaskannya di Surah Al A’raf ayat 133-136.

(133) Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak dan darah (air minum berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.

(134) Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata, “Wahai Musa! Mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu sesuai dengan janji-Nya kepadamu. Jika engkau dapat menghilangkan azab itu dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan pasti akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu.”

(135) Tetapi setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang harus mereka penuhi ternyata mereka ingkar janji.

(136) Maka Kami hukum sebagian di antara mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka di laut karena mereka telah mendustakan ayat-ayat Kami dan melalaikan ayat-ayat Kami.

Pada saat ditimpa azab berupa katak, kutu, belalang, topan, darah, Fir’aun minta tolong Musa agar meminta kepada Allah menghilangkan azab itu dengan janji akan beriman kepada Allah dan membiarkan Bani Israil pergi dari Mesir. Tetapi setelah azab hilang Fir’aun ingkar janji. Sampai akhirnya Tuhan mengirim tentara yang berat.

Baca Juga  Yordania Sambut Positif Respons Hamas atas Proposal Trump untuk Akhiri Perang Gaza

“Maka Kami hukum sebagian di antara mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka ke laut karena mereka telah mendustakan ayat-ayat Kami dan melalaikan ayat-ayat Kami.” (Qs. Al A’raf: 136)

Apakah akhir dari Donald Trump dan Amerika Serikat akan seperti Fira’un dan Mesir? Wallahua’lam bisshawab.