Renungan Idulfitri: Puasa Para Elite

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir MSi. (Foto: Medkom Muh)

MAKLUMAT — Puasa atau al-shaum artinya al-imsaak, menahan diri. Menahan diri dari makan, minum, dan pemenuhan biologis sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Sesederhana itu berpuasa secara rukun formal. Tua dan muda, laki-laki dan perempuan, bahkan anak-anak yang belum akil balig pun mampu melakukannya.

Namun, urusan puasa dalam praktik berdampak tidaklah sederhana. Perubahan apa yang secara signifikan terjadi pada diri Muslim yang berpuasa setiap Ramadan per tahun? Apakah telah mengubah karakter dan kebiasaan buruk dalam diri untuk menjadi insan yang lebih bertakwa (la’allakum tattaquun) sebagaimana tujuan utama dari puasa (QS. Al-Baqarah: 183).

Secara lahiriah tampak mudah menahan tiga larangan nafsu inderawi tersebut. Pada kenyataannya, mencegah hasrat duniawi yang direpresentasikan dengan tiga larangan makan, minum, dan pemenuhan kebutuhan biologis itu sungguhlah rumit. Hingga Nabi bersabda yang artinya, “Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan haus belaka. Berapa banyak orang yang bangun malam, tidak mendapat pahala kecuali hanya bangun malam semata.” (HR. An-Nasai dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Puasa Istimewa

Makan, minum, dan pemenuhan hasrat biologis yang dilarang dalam puasa sejatinya merupakan sampel dari kebutuhan duniawi yang sering direpresentasikan ke dalam kebutuhan akan harta, tahta, dan nafsu primitif manusia.

Allah berfirman yang artinya, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Manusia umumnya gemar mengejar tiga kebutuhan alamiah itu, bahkan ada yang melampaui batas dalam mengejarnya sehingga sering dinisbahkan sebagai budak dunia atau disebut “budak harta”, “budak tahta”, dan “budak seks”. Jatuhnya martabat manusia sering disebabkan oleh tiga nafsu inderawi tersebut. Di sinilah puasa yang hakiki bukan berhenti pada kesuksesan formalitas tidak makan, minum, dan pemenuhan biologis belaka. Puasa yang berhenti pada formalitas menahan makan, minum, dan pemenuhan biologis, menurut Imam Al-Ghazali, adalah puasa orang awam.

Baca Juga  Buka Musyawarah PCIM Amerika Serikat, Haedar Nashir: Islam Bukan Sekadar Perintah-Larangan

Sementara puasa berkualitas tertinggi, menurut Syeikh Al-Islam, Adalah puasa superkhusus atau khawas al-khawas. Puasa khawasul khawas ialah ketika seseorang sukses menahan lapar, haus, syahwat, dan seluruh anggota tubuh dari dosa serta menjaga hari dan pikiran dari selain Allah Swt. Itulah puasa para nabi, shiddiqin (penganut kebenaran), dan membebaskan diri dari pikiran duniawi dan memfokuskan kalbu hanya kepada-Nya. Itulah puasa kaum elite yang telah selesai serta terbebas dari belenggu harta, tahta, dan hasrat inderawi lain.

Jika ditarik pada titik moderat, puasa khawas al-khawas atau puasa istimewa bukanlah Muslim yang antidunia, melainkan melalui puasanya dia berhasil menaklukkan hawa nafsunya yang “israf” (berlebihan, serakah) tentang dunia, kemudian menjadikan dunia sebagai jalan kebaikan yang utama (ihsan) guna meraih kebahagiaan sejati di akhirat kelak.

Pandangan dunia yang moderat ini sejalan dengan pesan Allah dalam Al-Qu’an: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuah baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS/ Al-Qashash: 77).

Pascapuasa

Dunia saat ini memerlukan cahaya nilai dan moral kehidupan yang menebar kebaikan yang menyemesta, dari mana pun sumber kebaikan utama itu, serta dari agama mana pun. Terlalu telanjang di muka dunia tentang tindakan-tindakan ganas menyerupai binatang buas yang dilakukan manusia-manusia berkuasa yang nirmoral di ranah global. Mereka sungguh kehilangan nalar waras melakukan kerusakan di muka bumi. Dengan kekuasaan berlebih mereka berbuat sekehendaknya dengan mengkriminalisasi siapa pun, melakukan genosida, mengebom sekolah dan rumah sakit, hingga menyerang bangsa lain dengan sukacita dan kebiadaban.

Baca Juga  Manifestasi Dar al-Ahd wa as-Syahadah: Ikhtiar Bappisus Kawal Pembangunan dari Hulu

Hans Kung, Paus Fransiskus, Grand Syeikh Al-Azhar, dan tokoh dunia lainnya dalam beragam diksi pemikiran telah menyuarakan hadirnya nilai dan etika global dalam tatanan dunia yang ganas itu. Dalam perspektif baru, tatanan dunia tidak dapat dibangun di atas akumulasi kedigdayaan yang haus ekspansi dan penguasaan atas seluruh kawasan kehidupan untuk berada di genggaman tangannya. Menurut Dokter Soetomo ketika meresmikan Poliklinik PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) Muhammadiyah di Surabaya tahun 1926, kehidupan manusia tidak dapat dibangun di atas teori Darwinisme, yang mengandalkan siapa yang kuat maka dialah yang berhak bertahan hidup dan menguasai kehidupan.

Paradigma konflik antarperadaban di era modern merupakan pandangan yang kadaluwarsa dan dapat menjadi pemicu benturan nyata yang sesungguhnya.

Tatanan dunia baru memerlukan dialog, kerja sama, aliansi, dan koeksistensin antarperadaban. Bukan tatanan dunia yang saling bermusuhan, mengancam, merusak, dan memusnahkan.

Para elite beriman tentu berbeda dalam mengelola kuasa politik, ekonomi, sosial, dan kekuatan digdaya lainnya karena iman akan membimbing manusia untuk bertindak luhur atas nama Tuhan. Di sinilah penting kehadiran para elite dunia ataupun elite negeri yang memiliki basis nilai iman dan moral yang kokoh untuk berbuat serba kebaikan utama.

Baca Juga  KHGT Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah secara Global

Melalui puasa, khususnya puasa para elite yang berpuasa di level istimewa (khawas al-khawas), hendaknya mampu dihadirkan nilai-nilai mulia dan khazanah moral luhur yang serba utama di dunia nyata. Seusai puasa Ramadan dan Idulfitri setiap insan mukmin sebagai penanda lulus dari puasanya yang berkualitas istimewa niscaya berbuat ihsan (kebaikan berkualitas utama) yang seluas-luasnya dalam seluruh sendi kehidupan. Ihsan untuk menebar rahmat bagi semesta alam tanpa membedakan agama, suku, bangsa, dan keragaman hidup demi tegaknya peradaban luhur milik bersama.

Di negeri mana pun diperlukan kehadiran para elite berjiwa luhur buah puasa istimewa yang menyinari jiwa semesta. Selain para elite kuasa politik dan ekonomi, para elite agama dan tokoh sosial lain juga penting menghadirkan keteladanan yang menjunjung tinggi nilai mulia dan moral utama. Hal yang dituntut saat ini ialah kerendahhatian seluruh elite negeri.

Tak ada salahnya semua elite saling meluruhkan ego digdaya untuk saling mau berbagi dan berdialog dalam membangun negeri demi mengukir jalan peradaban bangsa yang lebih baik.

Dalam kosmologi iman dan tauhid yang jernih, sejatinya tidak ada manusia digdaya di hadapan sesama. Semuanya rendah di hadapan Allah Tuhan Alam Semesta. Semoga pascapuasa istimewa hadir ekosistem baru yang lahir dari para elite rendah hati bertaburkan ilmu dan hikmah dalam membangun tatanan kehidupan lebih damai, adil, sejahtera, harmoni, dan berkemajuan menuju peradaban bersama yang luhur dan utama. Selamat merayakan Idulfitri. Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin!