Politik Hari Ini: Kursi Jabatan Lebih Berharga daripada Aspirasi Publik

Nurudin

MAKLUMAT — Malam itu saya tertidur. Melewatkan salah satu drama paling ikonik di Liga Champions Eropa, Paris Saint-Germain (PSG) melawan Manchester United (MU) di Parc des Princes, 6 Maret 2019. Saat terbangun, saya hanya bisa menonton ulang highlight di YouTube.

Tapi justru dari tayangan ulang itu, dramanya terasa lebih menggigit. Manchester United, yang sebelumnya kalah 0-2 di kandang sendiri, tiba-tiba membalikkan keadaan. Menang 3-1 di Paris. Lolos dengan agregat. Bahkan ditentukan lewat gol injury time.

Sepak bola kadang memang begitu. Tidak ada yang pasti. Waktu itu PSG datang dengan percaya diri. Bagaimana tidak? Mereka unggul agregat. Mereka punya pemain-pemain bintang. Sementara MU datang agak pincang. Ada sekitar 10 pemain yang cedera. Paul Pogba yang diharapkan, terkena kartu merah di pertandingan pertama.

Situasi tentu tidak ideal bagi mereka. Tapi justru dari keterbatasan itu, lahir kejutan. Ada semangat baru dari pelatih Ole Gunnar Solskjaer (setelah era Jose Mourinho berakhir). Kompetisi kadang bukan soal siapa yang lebih kuat. Tapi siapa yang lebih siap menghadapi pertandingan.

Kita sudah sering melihat kisah seperti di atas. PSG juga pernah jadi korban Barcelona pada 2017. Menang 4-0 di leg pertama, lalu dihajar 6-1 di leg kedua. Agregat akhirnya berbalik.

Pada musim 2012/2013 misalnya juga, Barcelona dramatis bisa lolos ke babak selanjutnya melawan AC Milan (dari Italia). Kurang apa? Milan menang 0-2, lalu Barcelona membalikkan kemenangan 4-0.

Lalu ada Napoli vs Chelsea (2011/2012). Napoli sudah menang 3-1 lawan Chelsea, tapi di leg kedua ia dipukul Chelsea 1-4. AC Milan juga merasakan kepahitan lagi. Sudah menang 4-1 melawan Deportivo (Spanyol), ia malah dipukul telak 0-4. Juga ada Chelsea-Barcelola (3-1) lalu di leg kedua, Barcelona-Chelsea (5-1).

Baca Juga  Ketua Fraksi PKS Jatim Bakal Jadi Narasumber di Madrasah IMM UINSA: Perkuat Kesadaran Gender dan Politik

Dari Tribun ke Panggung Politik

Itulah seni dari sebuah pertandingan. Pendukungnya pun ikut larut. Kadang juga berlebihan. Tim kesayangan dianggap paling benar dan hebat. Ketika kalah, emosi ikut meledak. Kadang menyalahkan wasit, lawan atau keadaan. Padahal itu hanya pertandingan dan untuk hiburan saja.

Menariknya, pola ini tidak hanya terjadi di sepak bola. Kita bisa melihat kemiripan yang sangat jelas dalam dunia politik, terutama di Indonesia. Politik juga penuh drama. Penuh kejutan. Sering kali, tidak bisa ditebak.

Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat dinamika yang luar biasa. Pendukung yang dulu mati-matian membela seorang tokoh, tiba-tiba berpindah ke tokoh lain. Relawan yang dulu mengidolakan Joko Widodo (Jokowi), tidak sedikit yang kemudian merapat ke kubu Prabowo Subianto. Bahkan sebaliknya. Garis dukungan itu cair dan tidak permanen.

Fenomena ini bisa dilihat dari beberapa kelompok relawan yang cukup dikenal publik. Misalnya kelompok relawan Projo (Pro Jokowi) yang pada awalnya dikenal sebagai basis pendukung kuat Joko Widodo sejak 2014. Dalam dinamika politik terbaru ganti haluan dukungan. Karena Prabowo jadi presiden mereka banting setir. Begitu juga dengan beberapa eks relawan seperti Bara JP (Barisan Relawan Jokowi Presiden) yang mengalami pergeseran sikap politik di fase berbeda.

Data dari berbagai survei politik menunjukkan bahwa basis pemilih di Indonesia cenderung pragmatis. Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Indikator Politik Indonesia pernah mencatat bahwa swing voters (pemilih mengambang) bisa mencapai lebih dari 30% dalam beberapa Pemilu. Artinya, loyalitas politik tidak selalu ideologis. Banyak yang fleksibel dan oportunis.

Baca Juga  Busyro Muqoddas: Anti Parpol Pertanda Anti Demokrasi

Fenomena relawan menjadi semakin menarik karena mereka tidak selalu terikat struktur formal partai. Mereka bergerak cair. Sering kali mengikuti momentum. Dalam banyak kasus, perubahan arah dukungan tidak selalu didorong oleh visi atau ideologi. Tetapi oleh kedekatan dengan akses kekuasaan. Ada harapan posisi dalam kekuasaan atau keuntungan ekonomi.

Menjadi Integritas

Di sinilah realitas politik terasa keras. Banyak orang lebih takut kehilangan akses ekonomi dibanding kehilangan integritas. Misalnya proyek, fasilitas atau jabatan. Semua itu jadi daya tarik. Loyalitas pun bisa dinegosiasikan. Prinsip juga bisa ditunda, yang penting tetap “bermain”.

Politik akhirnya menjadi seperti pertandingan sepak bola. Penuh strategi dan hitungan. Tapi hasilnya tetap tidak pasti. Di atas kertas bisa unggul. Tapi di lapangan bisa kalah. Koalisi bisa berubah. Lawan bisa jadi kawan, kawan bisa jadi lawan. Perubahan cepat sekali dan tak terduga.

Namun, ada satu hal yang membedakan sepak bola dan politik. Sepak bola selesai dalam 90 menit, sementara dalam politik tidak. Bahkan, dampaknya bisa panjang terkait kebijakan. Karena itu, ketika dalam sepak bola kita bisa memaklumi drama dan perubahan, dalam politik seharusnya ada batas yang tidak boleh dilanggar. Yaitu moral dan integritas.

Sayangnya, dua hal ini sering kali justru dikorbankan. Demi apa? Demi posisi, kekuasaan, keuntungan jangka pendek. Padahal sejarah menunjukkan, yang diingat bukan hanya siapa yang menang, tetapi bagaimana cara menang itu diraih.

Baca Juga  Pajak Kreator Sosial dan Keadilan Fiskal

Nama-nama besar dalam politik dunia dikenang bukan hanya karena jabatan mereka. Tetapi karena sikap dan integritas mereka. Keberanian mereka menjaga prinsip di tengah tekanan. Hal yang sama juga berlaku di Indonesia. Publik mungkin bisa lupa janji kampanye. Tapi tidak mudah lupa pada sikap.

Kita boleh saja menganggap politik seperti pertandingan. Penuh taktik dan kejutan. Tetapi jangan sampai kita ikut larut dalam pragmatisme tanpa batas. Karena pada akhirnya, kekuasaan itu sementara dan jabatan ada masanya. Tetapi reputasi, itu bisa melekat sangat lama.

Sepak bola mengajarkan kita bahwa tidak ada yang pasti. Keunggulan bisa runtuh dalam hitungan menit. Politik juga demikian. Dukungan bisa berubah. Loyalitas bisa bergeser. Relawan bisa berpindah arah, seperti terlihat pada dinamika Projo, Bara JP, hingga kelompok relawan lain yang menyesuaikan diri dengan arah kekuasaan.

Banyak yang memilih aman secara ekonomi dibanding teguh pada prinsip. Tapi satu hal yang tidak boleh ikut berubah adalah integritas. Karena di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, moral adalah satu-satunya jangkar yang membuat seseorang tetap dikenang dengan hormat, bahkan setelah “pertandingan” selesai.

Jadi saat orang bertanya, “Apakah loyalitas politisi pada masyarakat sebagaimana pernah dikatakan itu bisa dijamin?” Jawab saja, itu omong kosong. Mereka lebih memilih loyal pada pemberi kuasa dan metari yang mengikutinya. Tak terkecuali dengan para pendukung.