Mahasiswa di Kediri Nobar Film Pesta Babi, Aparat Turut Memantau

imm kediri

MAKLUMAT — Sejumlah mahasiswa dari berbagai kampus memadati Angkringan Cangkir Kata, Kota Kediri pada Kamis (14/5/2026) malam. Mereka berkumpul dalam agenda nonton bareng (nobar) dan diskusi film Pesta Babi yang digelar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kediri Raya.

Para peserta datang dari sejumlah perguruan tinggi. Mulai dari UIN Syekh Wasil Kediri, Universitas Strada Indonesia, Universitas Nusantara PGRI Kediri, Universitas Islam Kadiri, Universitas Kadiri, hingga STIT Muhammadiyah Kediri.

Sejumlah elemen organisasi dan masyarakat sekitar turut hadir dalam forum yang berlangsung sejak pukul 20.00 hingga 23.45 WIB itu. Selain nobar, forum ini juga mendiskusikan isu kemanusiaan, kolonialisme modern, hingga situasi masyarakat Papua.

“Film ini bukan sekadar tontonan, tetapi ruang untuk melihat kembali bagaimana ketidakadilan masih terjadi di sekitar kita,” ujar pemantik diskusi acara ini, M Idris Falakhuddin.

Idris yang juga adalah Ketua Umum IMM Komisariat Asy-Syifa Universitas Strada Indonesia itu mengatakan bahwa kehadiran lintas kampus itu membuat forum berjalan lebih hidup dengan beragam pandangan dan pengalaman peserta.

Film Pesta Babi menjadi bahan pembicaraan utama sepanjang malam. Peserta menilai film tersebut memuat kritik sosial yang penting terhadap praktik eksploitasi dan ketidakadilan yang dialami masyarakat Papua.

Baca Juga  Mendorong Inovasi Mahasiswa: Berdampak dan Berkelanjutan Bagi IPTEK Menuju Indonesia Emas 2045

Sejumlah mahasiswa menyampaikan pandangan kritis, sementara peserta lain membagikan pengalaman personal yang berkaitan dengan isu Papua. Idris menyebut bahwa diskusi ini berlangsung hangat hingga larut malam.

“Para peserta saling menanggapi argumentasi yang muncul selama forum berlangsung. Suasana angkringan yang santai membuat percakapan mengalir tanpa sekat formal, meski tema yang dibahas tergolong sensitif,” ujar Idris.

“Kami ingin ruang diskusi seperti ini tetap hidup di tengah mahasiswa. Kampus tidak cukup hanya menjadi tempat mencari gelar,” imbuhnya.

Dipantau Aparat

Idris menceritakan bahwa di tengah jalannya acara, sejumlah pihak dari aparat setempat juga terlihat memantau kegiatan ini. Kehadiran mereka sempat menimbulkan ketegangan kecil di antara peserta.

Meski begitu, agenda tetap berlangsung tanpa pembubaran ataupun tindakan represif. Peserta melanjutkan diskusi hingga acara selesai dalam suasana tertib dan aman.

Idris menjelaskan bahwa bagi peserta, kondisi ini menjadi pengingat bahwa ruang diskusi mahasiswa masih sering mendapat perhatian ketika membahas isu kemanusiaan dan ketidakadilan sosial.

Namun, mereka menilai forum semacam itu tetap penting untuk menjaga tradisi berpikir kritis di kalangan anak muda. “Mahasiswa harus tetap berani berdiskusi dan peduli pada suara-suara yang jarang didengar,” jelasnya.

Baca Juga  Mastama 2025 ITBADLA, Tekankan Karakter dan Adaptasi Hadapi Perubahan Zaman Menuju Indonesia Emas 2045