MAKLUMAT — Workshop fotografi bertajuk “Your Story in Focus” yang diselenggarakan oleh Cultural Affairs and Erasmus Huis Department-Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Erasmus Huis, Jakarta, pada Kamis (21/5/2026), mengajak peserta memahami fotografi sebagai medium refleksi diri sekaligus ruang dialog sosial.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pameran “LABBAYK: Here I Am” karya fotografer dan sosiolog asal Belanda, Ebru Aydin. Pameran itu menampilkan potret dan kisah Muslim di Belanda yang telah menjalankan ibadah Haji dan Umrah.
Melalui karya-karyanya, Ebru merekam bagaimana perjalanan spiritual tidak hanya menjadi pengalaman ibadah, tetapi juga membentuk identitas, refleksi diri, serta cara pandang individu dalam kehidupan sehari-hari.
Cerita-cerita personal tersebut kemudian dirangkai menjadi narasi visual mengenai keberagaman pengalaman beriman, penerimaan diri, dan posisi sosial dalam masyarakat.
Workshop dibuka dengan pertanyaan reflektif mengenai bagaimana gambar membentuk cara manusia melihat diri sendiri maupun orang lain, serta bagaimana fotografi dapat menjadi bahasa untuk menyampaikan kisah pribadi dan kolektif.
Kegiatan itu diikuti sekitar 20 peserta dari berbagai organisasi masyarakat sipil yang bergerak di bidang isu keagamaan, kemanusiaan, dan penguatan masyarakat sipil, termasuk Eco Bhinneka Muhammadiyah.
Dalam sesi artist talk, Ebru Aydin menjelaskan bahwa fotografi tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi visual, tetapi juga sarana membangun percakapan sosial.
“Fotografi tidak hanya untuk mendokumentasikan kenyataan, tetapi juga untuk membuka percakapan tentang cara kita melihat diri sendiri dan orang lain,” ujar Ebru Aydin.
Workshop juga menghadirkan sesi praktik bertajuk “making your image”. Dalam sesi tersebut, peserta berbagi cerita mengenai makna Islam dalam kehidupan mereka yang kemudian diterjemahkan menjadi karya visual melalui percakapan dan proses fotografi bersama.
Peserta dari Eco Bhinneka Muhammadiyah yang terlibat berasal dari berbagai program, di antaranya 1000 Cahaya, GreenAbility, dan SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism).
Salah satu peserta, Dinul Qoyimah, menilai sebuah foto selalu memiliki makna yang lebih dalam dibanding sekadar gambar. “Foto bukan sekadar gambar, tetapi memiliki makna yang sangat dalam dan dapat menyampaikan pesan bahkan tanpa penjelasan,” katanya.
Sementara itu, Alif Jihad Rais menyoroti bahwa setiap orang dapat memiliki pemaknaan berbeda terhadap satu gambar, tergantung sudut pandangnya masing-masing.
Fajar Firmansyah menilai percakapan menjadi unsur penting dalam proses fotografi agar gambar yang dihasilkan memiliki makna yang kuat. “Kita perlu berbicara dan memahami cerita dari orang yang kita potret agar foto menjadi bermakna,” ungkapnya.
Selain itu, ada Karina Damayanti yang memandang workshop tersebut sebagai ruang kolaboratif yang membantu mengubah percakapan menjadi karya visual yang komunikatif dan reflektif.
Peserta lainnya, Dzikrina Farah Adiba, menyoroti pesan kesetaraan yang muncul dalam pameran “LABBAYK: Here I Am”. Ia mencontohkan kisah Marwa dan Moussa yang memaknai kerja sebagai bagian dari ibadah, Rubaiya yang menekankan keberanian menerima diri, hingga Whitney, seorang mualaf yang menilai manusia tidak diukur dari penampilan luar maupun identitas yang terlihat.
“Pesan yang kuat dari karya-karya ini adalah bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda, tetapi setara sebagai manusia,” ungkap Dzikrina.
Melalui workshop tersebut, peserta diajak memahami bahwa fotografi tidak hanya bekerja sebagai medium visual, tetapi juga ruang refleksi, dialog, dan pertukaran pengalaman antarmanusia.
Pameran “LABBAYK: Here I Am” sendiri masih berlangsung hingga 29 Agustus 2026 mendatang di Erasmus Huis, Jakarta, dan terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya.














