MAKLUMAT — Kecenderungan meningkatnya konsumsi selama Ramadan kerap diikuti pemborosan makanan dan penggunaan kemasan sekali pakai. Situasi ini dinilai memperlemah upaya penguatan pangan lokal serta memperbesar tekanan terhadap lingkungan. Padahal pemanfaatan hasil bumi lokal, pengurangan pemborosan makanan, dan pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab menjadi bagian penting dari upaya membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan di tingkat keluarga dan komunitas.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Buka Bersama Eco Bhinneka Muhammadiyah pada Ramadan 1447 H/2026 M. Acara yang digelar Selasa, 10 Maret 2026, pukul 15.00–19.00 WIB di Aula Lantai 6 Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya No. 62, Jakarta Pusat, dirancang sebagai ruang perjumpaan lintas iman sekaligus sarana penyadaran tentang pentingnya konsumsi yang bijak dan pemanfaatan pangan lokal.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa ajaran agama mendorong hidup rukun, tidak berlebihan dalam konsumsi, dan peduli terhadap lingkungan,” demikian penjelasan penyelenggara dalam keterangan kegiatan.
Eco Bhinneka Muhammadiyah merupakan inisiatif kolaboratif yang menggabungkan upaya membangun kerukunan lintas iman dengan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Gerakan ini mendorong dialog dan kerja sama antar komunitas sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan ekologis.
Momentum kegiatan berlangsung ketika sejumlah umat beragama menjalani periode penting secara bersamaan, yaitu Ramadan bagi umat Islam, masa Prapaskah bagi umat Katolik, dan Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu. Ketiga tradisi tersebut memuat nilai pengendalian diri, kesederhanaan, serta pembatasan konsumsi yang dinilai relevan untuk merespons pola konsumsi berlebihan dan persoalan sampah makanan.
Panitia mengundang berbagai organisasi lintas agama, komunitas pemuda, organisasi perempuan, penyandang difabel, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, media, serta perwakilan pemerintah. Kegiatan ini diharapkan memperkuat kesadaran bersama untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus mendorong peran perempuan dan laki-laki secara setara dalam menjaga keberlanjutan pangan keluarga dan masyarakat.













