Musywil XXIV IPM Jatim Jadi Arena Adu Gagasan, Dari Kritik Beradab hingga Tantangan Kuasai Ruang Digital

IPM Jatim

MAKLUMAT — Musyawarah Wilayah (Musywil) XXIV Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jatim yang dibuka di BBPPMPV BOE Malang, Sabtu (4/7/2026), tidak hanya menjadi forum memilih kepemimpinan baru.

Sejak pembukaan, berbagai tokoh yang hadir justru mendorong para pelajar menjadikan forum tersebut sebagai ruang memperkuat gagasan, mengasah kepemimpinan, dan menegaskan arah gerakan IPM di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Rangkaian sambutan yang disampaikan dalam pembukaan Musywil memperlihatkan benang merah yang sama. Mulai dari Pemerintah Provinsi Jatim, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM), Pimpinan Pusat IPM hingga Pimpinan Wilayah IPM Jatim sama-sama menekankan bahwa organisasi pelajar tidak cukup hanya menjadi tempat berhimpun.

Menjadi Pelajar Bertanggung Jawab

IPM dinilai harus mampu melahirkan kader yang memiliki tanggung jawab, kepekaan sosial, tradisi intelektual, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman. Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak menilai organisasi merupakan ruang paling nyata untuk melatih tanggung jawab sejak usia pelajar.

“Tanggung jawab bisa diasah melalui banyak hal. Dengan mengikuti organisasi IPM, adik-adik sudah memilih untuk mengasah tanggung jawab dalam berorganisasi. Jika sudah siap bertanggung jawab kepada organisasi, saya optimistis adik-adik juga akan siap bertanggung jawab kepada bangsa dan negara,” ujarnya.

Menurut Emil, pengalaman berorganisasi akan membentuk karakter yang sulit diperoleh hanya melalui pembelajaran di ruang kelas. Karena itu, ia mengajak para peserta Musywil memanfaatkan IPM sebagai tempat belajar mengambil keputusan, bekerja sama, sekaligus memahami konsekuensi dari setiap amanah yang diterima.

Ia juga mengingatkan agar pelajar tidak memaknai intelektualitas sebatas kemampuan berbicara atau menghasilkan tulisan. Bagi Emil, kemampuan berpikir justru harus hadir untuk menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Ia menilai pelajar akan kehilangan makna apabila menjauh dari realitas sosial dan hanya sibuk membangun citra sebagai kaum intelektual.

Baca Juga  Jalan-jalan Sore di Tunjungan, Cara PWM Jatim Meresapi Sejarah Sambut Milad Ke-113 Muhammadiyah

“Kita berada di persimpangan jalan dalam memaknai intelektualitas. Jangan sampai intelektualitas hanya diwujudkan melalui retorika atau karya tulis yang tidak menyentuh persoalan di masyarakat. Intelektualitas yang berjarak dengan realitas hanya akan melahirkan arogansi menara gading,” katanya.

Berpikir Kritis dan Adab

Pandangan senada muncul dari Ketua PWM Jatim, Prof Dr dr Sukadiono MM. Dalam amanatnya, ia mengingatkan bahwa tradisi berpikir kritis yang selama ini dikenal sebagai karakter Muhammadiyah harus selalu dibarengi dengan adab.

Kritik, menurutnya, tetap diperlukan dalam kehidupan demokrasi, tetapi harus disampaikan secara santun dan bertanggung jawab. Ia menilai kader Muhammadiyah tidak boleh terjebak pada sikap yang selalu berseberangan.

Sebaliknya, mereka harus mampu menjadi pribadi yang kritis sekaligus kooperatif sehingga mampu memberi masukan tanpa merusak suasana kebersamaan dalam organisasi maupun kehidupan bermasyarakat.

“Salah satu karakter Muhammadiyah adalah kritis kooperatif, bukan kontradiktif. Karakter ini sangat diperlukan dalam roda organisasi, khususnya di IPM, ketika menyikapi maupun memberikan masukan terhadap berbagai kebijakan,” ujarnya.

Selain mengingatkan pentingnya etika dalam menyampaikan kritik, Sukadiono juga menegaskan bahwa adab harus menjadi fondasi sebelum ilmu. Menurutnya, semakin seseorang belajar, semakin ia menyadari bahwa masih banyak pengetahuan yang belum dikuasai.

Sikap itu menjadi modal penting agar kader tidak mudah merasa paling benar ketika menyampaikan pandangan. Ia berharap IPM Jatim tetap menjadi inspirasi bagi wilayah lain, sebagaimana selama ini dikenal aktif menghadirkan berbagai inovasi gerakan.

Baca Juga  Didapuk DPP Demokrat Maju Pilgub Jatim 2029, Ini Respons Emil Dardak

Di saat yang sama, ia mendorong kader untuk menjaga kepedulian terhadap masyarakat sehingga organisasi tidak kehilangan fungsi sosialnya. “Adab lebih tinggi daripada ilmu. Jangan memberikan kritik terhadap sebuah kebijakan sebelum benar-benar memahaminya. Seorang intelektual yang tidak mengedepankan adab tidak ada artinya,” tegasnya.

Ide-ide Baru Setelah Muktamar

Sementara itu, Ketua Umum PP IPM, Dany Rahmat Muharam mengajak seluruh peserta memanfaatkan Musywil sebagai ruang melahirkan ide-ide baru. Menurutnya, hasil Muktamar IPM sebelumnya membawa arah baru yang harus diterjemahkan di tingkat wilayah melalui berbagai gerakan yang lebih relevan dengan kebutuhan pelajar saat ini.

Salah satu tantangan yang menjadi perhatian IPM adalah perkembangan ruang digital. Dany menyebut sebagian besar pengguna internet berasal dari kalangan anak dan remaja sehingga IPM tidak boleh tertinggal memasuki ruang tersebut.

Organisasi pelajar, katanya, perlu hadir untuk membangun ekosistem digital yang sehat sekaligus memberi dampak positif bagi generasi muda.

“Musywil adalah momentum untuk menyibukkan diri kita, mengembangkan ide dan gagasan kita. Kita telah membawa oleh-oleh dari Muktamar dengan tema besar Membumikan Arah Baru IPM,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa arah baru tersebut salah satunya diwujudkan melalui pembangunan “algoritma pelajar”, yakni ekosistem yang mendorong lahirnya pelajar beradab, kritis, inovatif, dan berdaya. Menurutnya, organisasi hanya akan terus mendapat kepercayaan apabila mampu bergerak mengikuti perubahan zaman.

Untuk menggambarkan pentingnya gerakan yang terus berkembang, Dany mengibaratkan IPM seperti bulan yang selalu berubah fase. Perubahan itulah yang membuatnya tetap menarik untuk dipandang. Analogi itu ia gunakan untuk mengingatkan bahwa organisasi juga harus terus berinovasi agar tetap relevan di tengah masyarakat.

Baca Juga  Refleksi Kinerja Pemprov Jatim 2025, Suli Daim Ingatkan Pentingnya Ketegasan Gubernur

“Mengapa manusia selalu rindu dengan keindahan bulan di langit? Karena bulan terus bergerak, berotasi, berevolusi, dan berganti fase dari sabit menjadi purnama. Begitu pula dengan IPM. Gerakan kita dihargai, dipandang, dan ditaruh harapan besar karena kita terus bergerak,” katanya.

Ketua PW IPM Jatim M. Hengki Pradana kemudian menegaskan arah gerakan organisasi melalui tema Musywil tahun ini, Kiprah Pelajar Gerbang Baru Nusantara.

Menurutnya, tema tersebut tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjadi penegasan bahwa IPM harus terus menjaga tradisi intelektual sekaligus memperkuat kaderisasi di tengah berbagai tantangan baru.

Dalam pidato iftitahnya, Hengki mengingatkan bahwa sejarah Muhammadiyah menunjukkan perubahan tidak pernah lahir hanya dari semangat, melainkan dari amal yang dilandasi ilmu dan organisasi yang tertata.

Karena itu, IPM perlu terus memperkuat budaya belajar agar mampu menjawab tantangan disrupsi teknologi, krisis nilai, hingga persoalan kemanusiaan dan lingkungan. Ia menilai Musywil menjadi kesempatan penting untuk merumuskan arah gerakan beberapa tahun ke depan.

Forum tersebut, menurutnya, harus melahirkan keputusan yang mampu memperkuat posisi IPM sebagai rumah pembelajaran sekaligus laboratorium kepemimpinan bagi pelajar Muhammadiyah.

“Mari kita jadikan musyawarah ini sebagai ruang untuk menguatkan ukhuwah, memperkaya gagasan, dan menyatukan langkah. Perbedaan pandangan hendaknya menjadi kekuatan untuk melahirkan keputusan terbaik, karena yang kita perjuangkan adalah masa depan gerakan pelajar Muhammadiyah,” pungkasnya.

 

*) Penulis: Ahmad Hoiron