MAKLUMAT — Ketua Bidang Riset dan Teknologi Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM), Muh Akmal Ahsan mengapresiasi usulan Lia Istifhama, anggota DPD RI asal Jatim, terkait keaktifan mahasiswa berorganisasi sebagai pertimbangan penerima KIP kuliah.
Akmal menyampaikan bahwa gagasan tersebut merupakan langkah positif untuk memperluas makna afirmasi pendidikan. Sehingga tidak hanya variabel ekonomi saja, namun juga terdapat faktor keterlibatan mahasiswa yang diperhatikan.
“Afirmasi dan dukungan pendidikan jangan cuman dilihat dari variabel ekonominya doang, ya. Tapi juga ada faktor keterlibatan mahasiswa dalam soal kepemimpinan, memperluas kapasitas intelektual, dan melakukan pengabdian sosial,” ucapnya, saat dihubungi wartawan Maklumat.id pada Selasa (21/7/2026).
Akmal menilai usulan tersebut realistis sebagai indikator tambahan agar penerima beasiswa terbina untuk berkontribusi aktif di masyarakat. Hal ini untuk menilai komitmen, kepemimpinan, dan kontribusi sosial penerima beasiswa. Sehingga mereka tumbuh menjadi lulusan yang berdampak bagi masyarakat.
Namun indikator ini tidak untuk menjadi syarat utama penerima KIP kuliah. Karena kondisi ekonomi mahasiswa harus tetap menjadi pertimbangan utamanya. “Kondisi ekonomi itu harus tetap jadi pertimbangan utama. Keaktifan organisasi itu menurut saya, menjadi indikator tambahan saja,” tegasnya.
Akmal menambahkan terkait penilaian keaktifan mahasiswa dalam berorganisasi dapat diukur melalui partisipasi mereka, kontribusi mereka dalam program organisasi, dan capaian yang pernah diraih saat berorganisasi.
Kemudian hal tersebut dapat dilaporkan mahasiswa penerima beasiswa melalui portofolio atau Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) di akhir semester untuk menerima bantuan lagi.
Selain itu, Akmal juga menyampaikan adanya potensi ketidakadilan bagi penerima beasiswa jika keaktifan dalam organisasi diterapkan sebagai syarat utama. Ia menyoroti realita di lapangan, banyak mahasiswa dari keluarga kurang mampu yang terkendala waktu untuk aktif dalam berorganisasi karena harus bekerja.
“Karena banyak juga ya, mahasiswa yang tidak mampu, yang sebenarnya mau berorganisasi tapi gak punya waktu buat aktif dalam kegiatan organisasi. Banyak di antara mereka yang harus kerja buat hidupi keluarganya,” ujarnya.
Karena itu, Akmal menegaskan perlunya indikator yang tepat agar program ini benar-benar tepat sasaran tanpa menyimpang dari tujuan utamanya. Menurutnya, beasiswa harus dipastikan diterima oleh mahasiswa yang membutuhkan secara ekonomi sehingga dapat mempertahankan keberlangsungan studinya, sekaligus tetap mempertahankan esensi beasiswa sebagai bentuk penghargaan atas keaktifan dalam berorganisasi.
*) Penulis: Fatin Azmi Fauziyah














