Perkembangan Pendidikan Tiongkok: Buta Huruf Turun, Mutu Meningkat

Tiongkok

MAKLUMAT — Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya, Ye Su, memaparkan perkembangan pendidikan di Tiongkok dalam National Education Conference yang menjadi rangkaian Muhammadiyah Education (ME) Awards 2026, Sabtu (8/8/2026).

Dalam paparannya, Ye Su menyebut perkembangan pendidikan Tiongkok terlihat dari meningkatnya akses pendidikan dasar, perbaikan fasilitas sekolah, bertambahnya jumlah guru, hingga capaian dalam penilaian pendidikan internasional.

“Pada awal pendirian Republik Rakyat Tiongkok (RRT), tingkat buta huruf lebih dari 80 persen. Namun pada 2025 turun menjadi 2,67 persen,” katanya dalam agenda yang berlangsung di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Ye Su menjelaskan, pendidikan dasar di Tiongkok mendapat jaminan melalui aturan hukum. Pendidikan dasar ditempatkan sebagai hak sekaligus kewajiban. Orang tua yang tidak mengizinkan anak usia sekolah untuk bersekolah dapat dianggap melanggar hukum.

Ia juga menyampaikan bahwa tingkat pendidikan prasekolah, pendidikan wajib, dan pendidikan menengah atas di Tiongkok secara keseluruhan telah melampaui rata-rata negara berpendapatan menengah ke atas.

“Di Tiongkok, menerima pendidikan dasar bukan hanya hak tetapi juga kewajiban,” ujarnya.

Perbaikan akses pendidikan tersebut berjalan bersama dengan peningkatan fasilitas sekolah. Pada 2024, jumlah siswa yang mengikuti pendidikan formal di seluruh Tiongkok telah melebihi 280 juta orang. Luas rata-rata ruang kelas per siswa juga meningkat dari 5,2 meter persegi pada 2000 menjadi 9,4 meter persegi.

Baca Juga  Kunjungan ke Bangkalan, Mendikdasmen Pastikan SDN Kajuanak 4 yang Roboh Segera Direvitalisasi

Pada 2025, tingkat kesesuaian luas tempat olahraga di sekolah mencapai sekitar 95 persen. Sementara tingkat kesesuaian peralatan olahraga, musik, dan seni rupa telah berada di atas 97 persen.

“Sekarang, tingkat akses internet di semua sekolah dasar dan menengah di seluruh negeri telah mencapai 100 persen,” jelasnya.

Ye Su mengatakan penggunaan teknologi dalam pembelajaran juga semakin luas. Cakupan ruang kelas multimedia telah mencapai lebih dari 98 persen dan fasilitas seperti papan pintar telah tersebar di sekolah-sekolah. Pemerintah Tiongkok juga menjalankan program perbaikan bangunan sekolah untuk menghapus gedung yang tidak layak, termasuk di wilayah miskin.

Peningkatan mutu pendidikan juga didukung oleh jumlah tenaga pengajar yang semakin besar. Jumlah guru tetap secara nasional meningkat dari sekitar 8 juta orang pada 1978 menjadi 18,85 juta orang saat ini. Rasio murid dan guru juga berubah dari 28:1 pada 1978 menjadi sekitar 16:1.

Dalam paparannya, Ye Su turut menyinggung hasil Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Dalam empat kali penilaian pada periode 2009 hingga 2018, Tiongkok disebut menempati posisi pertama sebanyak tiga kali dalam tiga bidang, yakni membaca, matematika, dan sains.

Baca Juga  BBP Jawa Timur Gandeng Multipihak di Kota Malang, Teguhkan Peran Strategis Penguatan Bahasa Indonesia 

“Pendidikan adalah salah satu bidang yang terus kami tingkatkan untuk mendukung perkembangan masyarakat dan negara,” katanya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki