Gereja Palestina: Kekerasan Israel Ancam Keberadaan Komunitas Kristen, Desak Dunia Ambil Langkah Nyata

Warga Palestina di Taybeh

MAKLUMAT — Gereja Palestina menyalakan tanda bahaya karena kekerasan, penyitaan tanah, dan tekanan di wilayah pendudukan Israel dinilai mengancam keberadaan komunitas Kristen Palestina.

Komite Tinggi Kepresidenan untuk Urusan Gereja di Palestina menyampaikan seruan mendesak kepada para pemimpin gereja di seluruh dunia. Mereka meminta gereja internasional tidak berhenti pada pernyataan solidaritas, tetapi mengambil langkah nyata untuk melindungi komunitas Kristen Palestina dan situs-situs suci.

Seruan itu disampaikan melalui surat yang diterbitkan pekan ini. Komite menyebut kondisi warga Palestina, khususnya umat Kristen di Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza, semakin mengkhawatirkan.

Dilansir dari Palestine Chronicle, Anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sekaligus ketua Komite Tinggi Kepresidenan untuk Urusan Gereja Palestina, Ramzi Khouri mengatakan, serangan terhadap umat Kristen tidak bisa lagi dilihat sebagai peristiwa yang berdiri sendiri.

“Hal-hal tersebut merupakan bagian dari pola sistematis yang terus berlangsung,” kata Khouri dikutip, Jumat (14/8/2026)

Menurut Khouri, pola tersebut meliputi kekerasan oleh pemukim, penyitaan tanah, perluasan permukiman, pembatasan kebebasan beribadah dan akses ke situs suci, hingga serangan terhadap rohaniwan, biarawati, gereja, biara, serta institusi gereja.

Baca Juga  Iran Luncurkan Rudal Sasar Israel, Sirine Meraung di Berbagai Wilayah

Taybeh Jadi Simbol Ancaman

Komite secara khusus menyoroti Taybeh, yang disebut sebagai satu-satunya kota di Palestina dengan penduduk yang sepenuhnya beragama Kristen.

Komunitas Kristen di kota tersebut mengalami penurunan jumlah penduduk. Sejumlah keluarga Kristen disebut meninggalkan Palestina sejak 2023 karena tekanan ekonomi, meningkatnya serangan dan pembatasan, serta tidak adanya prospek politik yang dianggap kredibel.

Komite menilai kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari situasi rakyat Palestina secara keseluruhan.

“Keberadaan umat Kristen tidak dapat dipisahkan dari perjuangan Palestina yang lebih luas,” kata komite tersebut.

Menurut mereka, melindungi umat Kristen Palestina juga berarti melindungi hak, martabat, dan kebebasan seluruh rakyat Palestina.

Gereja Dunia Diminta Turun Langsung

Komite meminta pemimpin gereja internasional datang langsung ke Palestina. Mereka didorong bertemu dengan komunitas Kristen, rohaniwan, dan teolog Palestina serta mengunjungi gereja, biara, dan situs-situs suci.

Langkah itu dinilai penting agar gereja internasional memahami kondisi di lapangan berdasarkan pengalaman langsung masyarakat setempat.

Komite juga menyatakan telah menyerahkan laporan kepada para pemimpin gereja yang mendokumentasikan dugaan pelanggaran terhadap umat Kristen, gereja, dan situs suci Palestina sejak awal 2026 hingga Agustus. Mereka menutup seruan dengan pesan: “Lihat. Dengar. Suarakan.”

Baca Juga  Dino Patti Djalal Soal Board of Peace: Satu-satunya Opsi, Tapi Bukan Solusi Permanen

Penyitaan Tanah Terus Meluas

Peringatan terhadap komunitas Kristen muncul bersamaan dengan laporan mengenai penyitaan lahan Palestina di Tepi Barat.

Komisi Perlawanan terhadap Kolonisasi dan Tembok Pemisah menyatakan otoritas Israel mengeluarkan perintah militer untuk menyita 2.224 dunam atau sekitar 550 ekar lahan milik warga Kota Marda, Provinsi Salfit.

Lahan tersebut berada di kawasan Wadi Qasim dan Kafif al-Abhar, dekat Rute 505 dan permukiman Ariel.

Menurut komisi tersebut, otoritas Israel menggunakan alasan “kepentingan militer” dan mengalihkan penguasaan lahan kepada komandan militer Israel. Mereka menyebut wilayah itu akan digunakan untuk membangun menara atau fasilitas komunikasi.

Komisi juga mencatat 33 perintah militer dikeluarkan pada Juli, termasuk 31 perintah penyitaan baru.

Bukan Sekadar Ancaman terhadap Komunitas Kristen

Peringatan gereja Palestina memperlihatkan bahwa persoalan komunitas Kristen tidak berdiri sendiri. Tekanan terhadap mereka berjalan beriringan dengan persoalan yang lebih luas, mulai dari kekerasan, pembatasan aktivitas keagamaan, hingga perebutan dan penyitaan tanah.

Taybeh menjadi titik penting karena keberlangsungan komunitas Kristen di sana berkaitan langsung dengan sejarah panjang kekristenan di Palestina.

Jika arus perpindahan penduduk terus terjadi, keberadaan komunitas Kristen yang telah berakar selama berabad-abad berpotensi semakin menyusut.

Baca Juga  Kursi Roda hingga Toilet Portabel Terkendala Masuk Gaza, Israel Sebut Kategori Dual-Use

Karena itu, seruan gereja Palestina kepada komunitas Kristen dunia bukan hanya meminta solidaritas moral. Mereka menginginkan keterlibatan yang lebih konkret untuk menjaga keberadaan komunitas, melindungi situs suci, serta mendorong penghormatan terhadap hak-hak warga Palestina.