Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri

pejabat publik kurban

MAKLUMAT — Bagaimana memaknai pesan perintah yang hampir setiap jumat dibacakan khotib ini? “Wahai orang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan jangan  kalian meninggal kecuali dalam berislam” (QS Al- imron 102). Penulis memilih maknanya sebagai pesan agar terus berusaha menjadi versi diri dengan kemusliman terbaik.

Dalam panggung kehidupan yang serba cepat hari ini, kita kerap dihadapkan pada standar keberhasilan yang kaku. Sukses sering kali diukur dari seberapa cepat seseorang menduduki posisi puncak, seberapa besar angka yang tertera di rekening, atau seberapa berkilau piala yang dipajang di lemari. Kita dididik untuk menjadi pemenang—dan celakanya, menjadi pemenang kerap diartikan sebagai menundukkan atau mengalahkan orang lain.

Namun, benarkah hidup ini semata-mata panggung kompetisi antarmanusia?

Al-Qur’an memberikan perspektif yang jauh lebih jernih dan menenangkan mengenai makna persaingan:

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيَهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)

Ayat ini menyiratkan pesan mendalam: setiap manusia memiliki lintasan, latar belakang, serta titik start-nya masing-masing (walikullin wijhatun huwa muwalliha). Karena titik berangkat dan garis alur kita berbeda, maka objek perlombaan (fastabiqul khairat) bukanlah menyingkirkan sesama pelari, melainkan melintasi lintasan hidup kita sendiri dengan tingkat ketaatan, kualitas amal saleh, dan integritas terbaik yang sanggup kita tumpahkan.

Baca Juga  Menyikapi Perbedaan Tanpa Ribut: Teladan KH Ahmad Dahlan

Ujian sebagai Peluang “Naik Kelas”

Dalam perjalanan tersebut, tidak ada lintasan yang mulus tanpa hambatan. Kehidupan selalu menyajikan dinamika: rasa lelah, kegagalan, kehilangan, hingga godaan internal berupa kesombongan, kecenderungan mencari zona nyaman, rasa malas, dan amarah.

Orang yang berfokus menjadi “pemenang atas orang lain” akan melihat masalah sebagai ancaman terhadap egonya. Namun, mereka yang berfokus “berhasil menjadi versi terbaik diri sendiri” melihat setiap masalah dan tantangan sebagai sarana naik kelas.

Bagaikan seorang murid yang tidak mungkin naik tingkat tanpa melewati ujian semester, seorang manusia tidak akan pernah bertumbuh tanpa melewati gesekan tantangan hidup. Setiap krisis adalah ruang tempaan: apakah kita akan melipat lutut lalu menyerah, ataukah kita memilih bangkit dengan ketabahan (grit) baru yang membuat jiwa kita makin matang?

Pelajaran dari Para “Mental Juara”

Sejarah mencatat bahwa juara sejati bukanlah mereka yang tak pernah jatuh, melainkan mereka yang menolak untuk berhenti bergerak.

Kisah pelari Olimpiade asal Inggris, Derek Redmond, pada Olimpiade Barcelona 1992 menjadi pengingat yang menyentuh hati. Di tengah lomba lari 400 meter, otot hamstring-nya robek. Ia tumbang di atas lintasan. Secara teknis, peluangnya meraih medali emas sirna seketika. Namun, dengan merintih kesakitan, Redmond bangkit dan berjalan pincang menuju garis finish. Ketika sang ayah menerobos arena untuk merangkul dan membantunya menuntaskan langkah, seluruh stadion berdiri memberikan penghormatan. Redmond tidak membawa pulang medali emas, tetapi ia berhasil menuntaskan janji pada dirinya sendiri. Ia gagal menjadi pemenang lomba, tetapi ia berhasil menjadi juara sejati di mata dunia dan keluarganya.

Baca Juga  Toga dan Transaksi: Saat Kampus Jadi Pasar Gelap

Begitu pula Rasulullah SAW yang mendidik kita untuk tidak mengukur kehebatan dari kekuatan fisik atau dominasi atas orang lain, melainkan dari penguasaan atas diri sendiri.

“Orang kuat itu bukanlah orang yang jago gulat, tetapi orang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Menata Kembali Fokus Perjuangan

Maka, jangan lagi menghabiskan energi untuk berpikir bagaimana cara mengalahkan orang lain. Berpikirlah tentang bagaimana hari ini kita bisa lebih sabar dari kemarin, lebih tekun dalam beribadah, lebih bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan, serta lebih bijak mengelola emosi.

Keberhasilan sejati bukanlah saat nama kita dielu-elukan di atas podium dunia, melainkan saat Allah SWT menilai bahwa kita telah menuntaskan amanah kehidupan ini dengan kapasitas terbaik yang kita miliki.

Mari jadikan setiap ujian dan tantangan hari ini bukan sebagai alasan untuk mundur, melainkan sebagai tangga untuk naik kelas menuju versi terbaik dari diri kita—versi yang diratai kebaikan untuk diri sendiri dan membawa kemaslahatan bagi sesama.

Jakarta, 18 September 2026

*) Penulis: Suyoto
Pengajar Universitas Muhammadiyah Gresik; Bupati Bojonegoro 2008-2018