Reinventing Muhammadiyah: Desakan Pembaruan Gerakan Pembaharuan

Buku Reinventing Muhammadiyah: Desakan Pembaruan Gerakan Pembaharuan.

MAKLUMAT — Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah berkolaborasi dengan Serikat Taman Pustaka Muhammadiyah, Kader Hijau Muhammadiyah (KHM), serta PADMA Indonesia, menerbitkan buku bunga rampai berjudul “Reinventing Muhammadiyah: Desakan Pembaruan Gerakan Pembaharuan“.

Buku setebal 588 halaman itu berisi kumpulan tulisan dari para kader dan aktivis Muhammadiyah, yang terdiri atas enam bagian dengan total 94 artikel. Selain itu, Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas memberikan prolog dalam buku tersebut dan Rektor Universitas IsIam Indonesia (UII) Periode 2018-2026 Fathul Wahid memberikan epilog.

Sekretaris LHKP PP Muhammadiyah yang juga editor buku Reinventing Muhammadiyah, David Efendi, mengatakan bahwa penulisan buku tersebut sebagai upaya untuk menyampaikan kegelisahan, otokritik, serta gagasan-gagasan bagi pembaruan Persyarikatan yang telah berdiri sejak 1912 itu.

Banyak naskah masuk dari berbagai latar belakang penulis, menyoroti berbagai macam persoalan. Namun, ia menandaskan bahwa seluruhnya berada dalam benang merah terkait perlunya Muhammadiyah terus memperbarui dirinya agar tetap mampu menjalankan perannya sebagai gerakan Islam yang relevan terhadap perkembangan zaman.

“Gagasan-gagasan di dalamnya lahir dari kegelisahan, pengalaman, dan perenungan para kader yang mencintai Muhammadiyah. Sebagian tulisan mungkin terasa kritis, sebagian lain menawarkan jalan keluar, sementara yang lain mengajak melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Keragaman itu tidak dipandang sebagai pertentangan, melainkan sebagai kekayaan cara berpikir yang sejak awal menjadi bagian dari tradisi intelektual Muhammadiyah,” tulis David dalam pengantar buku tersebut.

“Sebab, organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang bebas dari kritik, melainkan organisasi yang mampu menjadikan kritik sebagai jalan untuk terus bertumbuh,” sambung sosok yang juga dosen Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu.

Beberapa persoalan yang disoroti para penulis dalam buku tersebut, antara lain soal tata kelola organisasi, sistem kaderisasi, persoalan lingkungan, isu-isu politik, kesejahteraan kader, hingga isu-isu fundamental terkait ideologi.

“Setelah seluruh naskah dibaca secara utuh, terlihat adanya benang merah yang menghubungkan semuanya. Hampir seluruh penulis sesungguhnya sedang menyampaikan kegelisahan yang sama, yakni perlunya Muhammadiyah terus memperbarui dirinya agar tetap mampu menjalankan perannya sebagai gerakan Islam yang relevan terhadap perkembangan zaman,” jelas David.

Enam Bagian Buku

Buku Reinventing Muhammadiyah terdiri atas enam bagian buku dengan tema yang berbeda-beda. Bagian Pertama berkaitan dengan manajemen dan tata kelola organisasi. Pada bagian ini terdapat total 19 artikel.

Baca Juga  Jalan Tengah Sistem Pemilu, LHKP PP Muhammadiyah Angkat Gagasan Wasathiyah

Menurut David, manajemen dan tata kelola organisasi sengaja ditempatkan sebagai pembuka lantaran hampir seluruh persoalan yang diangkat penulis bermula dari kapasitas organisasi dalam mengelola dirinya sendiri.

Bagian Kedua membahas mengenai ideologi dan pemikiran Islam, yang terdiri atas total 23 artikel.

Pada bagian ini, berbagai artikel mengenai tajdid, tauhid, Islam Berkemajuan, dakwah kultural, ulama, salafisme, modernitas, hingga tradisi kritik internal menunjukkan bahwa perdebatan ideologis di Muhammadiyah masih sangat hidup. Akan tetapi, tema yang paling sering muncul bukanlah perdebatan mengenai identitas Muhammadiyah, melainkan bagaimana identitas tersebut terus dihidupkan di tengah perubahan masyarakat yang berlangsung begitu cepat.

Persoalan yang diajukan para penulis bukan apakah Muhammadiyah masih memiliki ideologi, melainkan apakah ideologi itu masih mampu menjadi energi yang menggerakkan organisasi menghadapi tantangan baru.

Bagian Ketiga adalah persoalan pendidikan dan kaderisasi, yang total terdapat sebanyak 28 artikel di dalamnya. Menjadi bagian dengan jumlah artikel terbanyak di buku Reinventing Muhammadiyah.

“Dominasi jumlah artikel pada bagian ini memperlihatkan bahwa persoalan kaderisasi dipandang sebagai isu yang paling menentukan keberlangsungan Muhammadiyah pada masa mendatang,” kata David.

“Menariknya, hampir seluruh penulis tidak membatasi kaderisasi pada proses perkaderan formal. Pembahasan berkembang jauh lebih luas, mulai dari kualitas sekolah Muhammadiyah, kesejahteraan guru, penguatan masjid, organisasi otonom, regenerasi kepemimpinan, relasi antargenerasi, kesejahteraan kader, hingga makna keanggotaan dalam Persyarikatan. Artinya, kaderisasi dipahami sebagai sebuah ekosistem, bukan sekadar serangkaian pelatihan,” sambungnya.

Bagian Keempat dari buku Reinventing Muhammadiyah ini membahas topik-topik mengenai ekologi dan kesehatan, yang terdiri atas sebanyak 13 artikel.

David menjelaskan, tiga bagian sebelumnya lebih berfokus pada pembenahan internal organisasi. Namun, pada bagian keempat disebutnya sebagai perluasan cakrawala pembaruan isu-isu ekologi dan kesehatan.

“Kehadiran bagian ini memperlihatkan bahwa agenda tajdid Muhammadiyah telah memasuki wilayah yang semakin luas. Berbagai tulisan mengenai tambang, energi, literasi sampah, hutan wakaf, ekonomi hijau, narkoba, hingga kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa dakwah tidak lagi dipahami hanya sebagai aktivitas ceramah atau pendidikan agama,” kata David.

“Dakwah dipandang sebagai upaya menghadirkan nilai-nilai Islam dalam menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, isu lingkungan tidak diposisikan sebagai tema tambahan, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab keislaman dan kemanusiaan yang tidak dapat dipisahkan dari misi Persyarikatan,” imbuhnya.

Baca Juga  Ramadan di Pakel: “Al-Maun Goes to Village” Salurkan Harapan Lewat Dana Pendidikan dan Semangat Kewirausahaan

Bagian Kelima terkait hukum dan politik terdiri atas tujuh artikel. Menurut David, bagian ini memiliki corak yang agak berbeda terkait pembacaan sikap politik Muhammadiyah.

Hampir seluruh tulisan, kata dia, tidak berbicara mengenai strategi politik praktis ataupun kontestasi elektoral. Sebaliknya, perhatian para penulis tertuju pada bagaimana Muhammadiyah menjaga independensi moralnya ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Pembahasan mengenai khittah, oligarki, ruang sipil, hingga kedekatan dengan penguasa, disebut David menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap kemungkinan memudarnya posisi Muhammadiyah sebagai kekuatan masyarakat sipil yang kritis.

“Dalam konteks ini, politik dipahami sebagai ruang untuk memperjuangkan kemaslahatan bangsa, bukan sebagai tujuan organisasi itu sendiri. Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa independensi tetap dipandang sebagai modal utama agar Muhammadiyah mampu menjalankan fungsi amar makruf nahi mungkar secara objektif,” tandas pria asal Lamongan itu.

Terakhir, Bagian Keenam dari buku tersebut membahas mengenai isu-isu sosial dan ekonomi. Pada bagian ini, terdapat sebanyak empat artikel.

Berbagai artikel mengenai kapitalisme, kesejahteraan kader, kelelahan sosial, dan keberlangsungan hidup warga Persyarikatan mengingatkan bahwa sebesar apa pun organisasi berkembang, seluruh aktivitasnya pada akhirnya kembali kepada manusia yang menggerakkannya.

Organisasi tidak dapat hanya menuntut pengabdian tanpa memikirkan kualitas kehidupan para kadernya. Persoalan kesejahteraan, keberdayaan ekonomi, dan perlindungan sosial menjadi bagian dari ikhtiar menjaga keberlanjutan gerakan dalam jangka panjang.

“Jika keenam bagian tersebut dibaca sebagai satu kesatuan, tampak bahwa buku ini menyusun sebuah alur pembaruan yang cukup utuh. Pembaruan dimulai dari organisasi sebagai instrumen gerakan, dilanjutkan dengan penguatan ideologi sebagai arah gerakan, diteruskan melalui kaderisasi sebagai mekanisme regenerasi, lalu diperluas ke ruang-ruang pengabdian masyarakat melalui isu lingkungan, politik, sosial, dan ekonomi. Susunan tersebut menunjukkan bahwa pembaruan Muhammadiyah tidak dapat dilakukan secara parsial. Perubahan pada satu bidang akan selalu bergantung pada perubahan bidang lainnya,” kata David.

Menjadi Cermin Melihat Muhammadiyah

Selain itu, Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas juga memberikan prolog pada buku “Reinventing Muhammadiyah: Desakan Pembaruan Gerakan Pembaharuan“.

Dalam prolognya, Busyro menyampaikan paparan bertajuk “Muhammadiyah dan Keberanian Menemukan Kembali Daya Pembaharuannya”, yang menyoroti sejumlah persoalan.

“Saya membaca buku Reinventing Muhammadiyah: Desakan Pembaruan Gerakan Pembaharuan dengan perasaan yang bercampur antara apresiasi, kegembiraan, sekaligus kegelisahan,” tulis Busyro dalam prolognya.

“Apresiasi karena buku ini berani menghadirkan Muhammadiyah bukan hanya sebagaimana yang ingin kita lihat, tetapi juga sebagaimana adanya. Kegembiraan karena tradisi berpikir kritis dan keberanian melakukan refleksi terhadap diri sendiri masih hidup di dalam tubuh Persyarikatan. Namun sekaligus kegelisahan karena sejumlah persoalan yang dibicarakan buku ini bukanlah persoalan kecil. Ia menyentuh jantung kehidupan organisasi: integritas, tata kelola, kaderisasi, amal usaha, relasi dengan politik, diaspora kader serta masa depan persyarikatan,” jelasnya.

Baca Juga  Wakil Ketua Komisi II DPR RI: Kita Sedang Mencari Alternatif Sistem Pemilu yang Lebih Baik untuk Indonesia

Ia berharap, buku Reinventing Muhammadiyah dapat menjadi cermin untuk melihat dan terus membangun Muhammadiyah yang lebih baik.

“Semoga buku ini menjadi pemantik percakapan, ruang otokritik, dan energi pembaruan bagi seluruh warga Persyarikatan. Semoga ia dibaca bukan dengan sikap defensif, melainkan dengan kesediaan untuk bercermin. Sebab mencintai Muhammadiyah bukan berarti selalu mengatakan bahwa Muhammadiyah sudah baik. Mencintai Muhammadiyah berarti memastikan bahwa Muhammadiyah terus menjadi lebih baik,” tandas Busyro.

Sementara itu, Rektor UII Periode 2018-2026 Fathul Wahid memberikan epilog bertajuk “Menjaga yang Paling Inti, Membayangkan yang Paling Jauh” sebagai penutup buku tersebut.

Ia menekankan bahwa kritik-kritik serta gagasan-gagasan para penulis dalam buku Reinventing Muhammadiyah merupakan wujud kecintaan terhadap organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu.

Menurutnya, kritikan tersebut justru menjadi sarana bagi Persyarikatan Muhammadiyah untuk melakukan introspeksi dan tumbuh berkembang semakin baik ke depannya.

“Saya melihat semua tulisan ini sebagai ungkapan cinta yang jujur. Kritiknya tidak lahir dari kebencian. Apalagi dari keinginan menjatuhkan. Kritik tumbuh dari keyakinan lama bahwa mencintai sesuatu berarti berani menatapnya apa adanya. Termasuk menatap lukanya, dan bagian-bagian yang selama ini enggan dibicarakan,” tulis Fathul Wahid dalam epilognya.

“Orang yang tidak peduli, tidak mungkin akan repot-repot menulis. Yang menulis di sini adalah mereka yang tidak bisa tenang membiarkan Muhammadiyah berjalan tanpa introspeksi,” imbuhnya.

Tim penyusun dan penulis buku “Reinventing Muhammadiyah: Desakan Pembaruan Gerakan Pembaharuan” juga menggelar diskusi buku yang dilaksanakan siang hari tadi, Rabu (30/9/2026) pukul 13.30 WIB di Aula Gedung PP Muhammadiyah, Yogyakarta, serta secara online melalui platform Zoom Meeting.

Sejumlah nama yang terlibat turut hadir, di antaranya Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas, editor buku Ahmad Faizin Karimi dan David Efendi, Rektor UII Periode 2018-2026 Fathul Wahid, Khafid Sirotudin dari MPKSDI PP Muhammadiyah, serta para penulis artikel di bunga rampai tersebut.***