MAKLUMAT — Berdirinya saya di Kota Malang adalah suatu cerita panjang yang tak mudah untuk dilupakan dan tak singkat untuk diceritakan. Perjalanan dari proses mengaji di sebuah masjid pelosok Lumajang sampai bisa belajar di salah satu perguruan tinggi terbaik di Kota Malang merupakan hal yang sangat jarang didapat oleh orang-orang di kampung halaman.
Dalam hal ini, saya mencoba mengurai hal-hal yang mendasari apa yang membuat seorang anak desa ini bisa berkiprah di luar kampung halaman. Pengalaman panjang saya tak bisa dilepaskan dari Persyarikatan Muhammadiyah. Tepatnya, masjid yang baru dibangun di dekat rumah saya waktu itu menjadi alternatif tempat mengaji bagi saya dan kakak.
Karena dirasa TPQ awal tidak banyak membuahkan hasil yang memuaskan setelah sekian lama, akhirnya kerisauan orang tua kami terjawab setelah berpindah ke Masjid Aiman Fakihani milik Muhammadiyah. Tak terpaut lama, sekitar enam bulan, kami mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar dan hafal hampir Juz 30. Hal itu berbanding terbalik dengan TPQ sebelumnya yang mengulang-ulang Iqra’ tanpa kemajuan signifikan.
Sebenarnya, permasalahan literasi Al-Qur’an bukan hal baru di Indonesia. Mengutip Kemenag RI, Indeks Literasi Al-Qur’an pada tahun 2023 berada di angka 66,038%. Meskipun dikatakan tinggi, hal tersebut saya rasa tidak bisa dijadikan kebanggaan. Sebab, jangankan Al-Qur’an yang berbahasa Arab, buku berbahasa Indonesia pun masih jarang tersentuh di masyarakat pada umumnya.
Data PISA menunjukkan skor membaca Indonesia turun dari 397 poin pada 2015 menjadi 371 poin pada 2018, kemudian 359 poin pada 2022. Dengan demikian, bisa kita tarik benang merah bahwa persoalan literasi masih menjadi pekerjaan rumah. Lantas, bisakah kita mengeklaim bahwa literasi Al-Qur’an kita terbilang bagus? Jika yang dimaksud hanya kemampuan membaca, mungkin kita bisa percaya akan hal itu. Namun, jika literasi mencakup pemahaman dan pengamalan, persoalannya tentu berbeda.
Teologi Al-Ma’un: Kesadaran Pembebasan Sejak dalam Pikiran
Merujuk pada tulisan Teologi Surat al-Ma’un dan Praksis Sosial dalam Kehidupan Warga Muhammadiyah oleh Andri Gunawan (2018), pemikiran K.H. Ahmad Dahlan mengenai Al-Ma’un diwujudkan dalam tiga kegiatan utama, yaitu pendidikan, kesehatan, dan penyantunan orang miskin, yang dikenal dengan istilah schooling, healing, dan feeding.
Ketiga pilar tersebut termanifestasikan dalam gerakan Muhammadiyah melalui pendirian lembaga pendidikan, layanan kesehatan, serta lembaga kesejahteraan sosial. Semuanya menjadi bukti bahwa ajaran agama dapat diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dalam Warisan Intelektual K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah karya Abdul Munir Mulkhan (1990), halaman 65, dijelaskan lima jalan memahami Al-Qur’an: mengetahui artinya, memahami tafsir dan maksudnya, bertanya kepada diri sendiri apakah larangan telah ditinggalkan, bertanya apakah perintah telah diamalkan, dan jika perintah tersebut belum diamalkan, jangan membaca ayat yang lain.
Dalam penghayatan agama, Islam tidak hanya dipandang sebagai doktrinasi dan pengamalan ajaran secara membabi buta. Lebih daripada itu, ada distribusi makna ajaran Islam kepada masyarakat sebagai bentuk dakwah yang berkelanjutan. Sebagai manusia yang dianugerahi pikiran oleh Allah Swt., kita memiliki tanggung jawab untuk memahami dan mengamalkan ajaran agama.
Jadi, simpelnya adalah bagaimana Islam dipahami sebagaimana amanatnya, yakni hudan linnas, petunjuk bagi manusia. Sebagai petunjuk, Islam selayaknya menjadi wasilah manusia memperoleh kehidupan yang ideal dan terbaik, bukan malah mempersulit dan menghambatnya.
Korelasi Penerapan Teologi Al-Ma’un dalam Pendidikan Anak Usia Dini
Jika kita kaitkan dengan pendidikan anak usia dini, bisa kita soroti bagaimana memastikan anak-anak kita memiliki fondasi keimanan yang kuat dengan spirit kebermanfaatan. Sebagaimana saya jelaskan di awal, efektivitas pembelajaran di TPQ sebenarnya terletak pada guru yang mengajar.
Jujur, berkaca dengan diri saya hari ini, di masa kecil saya jauh dari kata mudah untuk ditaklukkan oleh ustaz di TPQ. Akan tetapi, cara Ustaz Dwi dan Ustaz Habib di Masjid Aiman Fakihani menjadi tonggak perubahan cara saya mengaji. Dari sekadar membaca, kami naik tingkat untuk menghafal. Ketika menyetorkan hafalan lalu lupa, kami diingatkan dengan arti kata sederhana seperti wa (dan) atau tsumma (kemudian). Ketika selesai menghafal surah tertentu, kami juga ditraktir nasi goreng sebagai bentuk apresiasi.
Ketika coba kita cari tahu, sebenarnya Ustaz Dwi hanya bekerja sebagai guru sekolah dasar. Lantas, apa alasan beliau mentraktir kami? Saya yakin bukan karena banyak uang, tetapi karena memiliki rasa memiliki yang besar. Barangkali, di situlah spirit kebermanfaatan hadir dalam tindakan sederhana. Meskipun tidak disampaikan secara langsung, nilai tersebut secara tidak langsung terwariskan kepada anak didiknya. Kadangkala, ketika kami besar, barulah kami mampu berpikir demikian.
Tanpa kami sadari, penanaman spirit Al-Ma’un terjadi dalam proses belajar-mengajar Al-Qur’an. Kami dipantik untuk menghafal, lalu mulai dipancing untuk memahami beberapa kata sederhana sebagai trigger ketika lupa lanjutan ayat saat setoran hafalan.
Ada proses menarik di situ yang sudah seharusnya kita ingat. Dalam pembelajaran anak usia dini, menanamkan kesadaran bahwa setiap kata dalam Al-Qur’an memiliki makna merupakan pintu agar anak memiliki rasa penasaran terhadap apa yang mereka baca. Meskipun belum memberikan pemahaman secara menyeluruh, tahap ini merupakan bekal awal untuk menyiapkan insan yang mulia. Kepedulian terhadap makna di balik ajaran agama dapat berdampak positif pada kualitas keimanan.
Kiai Dahlan dalam Semangat Ustaz Dwi di Masjid Aiman Fakihani
Jika kita pelajari secara historis, spirit Teologi Al-Ma’un di kalangan Muhammadiyah mengingatkan kita pada kisah K.H. Ahmad Dahlan yang terus mengajarkan Surah Al-Ma’un kepada murid-muridnya. Dalam kisah yang dimuat Suara Muhammadiyah berjudul “Di Balik Pesan Kiai Dahlan tentang Al-Ma’un”, diceritakan bahwa seorang murid bernama Sudjak bertanya mengapa pengajian hanya membahas surah tersebut selama berbulan-bulan.
Kiai Dahlan kemudian menjelaskan bahwa mengamalkan Al-Ma’un bukan sekadar membacanya dalam salat, melainkan mempraktikkan pesan yang terkandung di dalamnya. Murid-muridnya diarahkan untuk mencari orang miskin dan anak yatim, lalu membantu memenuhi kebutuhan mereka dengan layak.
Sangat menarik jika kita sandingkan antara Kiai Dahlan dan Ustaz Dwi. Meskipun berbeda konteks, terdapat semangat yang sama: pemahaman harus diwujudkan dalam aksi nyata. Kiai Dahlan menekankan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan petunjuk hidup bagi manusia. Sementara itu, melalui pendampingan belajar, kesabaran, dan apresiasi sederhana, Ustaz Dwi menghadirkan pengalaman yang dapat menanamkan nilai kebermanfaatan kepada anak-anak.
Tentu, pendidikan anak usia dini perlu mempertimbangkan kesiapan dan tahap perkembangannya. Hal yang paling relevan bukan membebankan aksi sosial yang belum mampu mereka pahami, melainkan menanamkan kesadaran bahwa makna dan pesan dalam Al-Qur’an merupakan hal yang vital.
Barangkali, inilah spirit Teologi Al-Ma’un yang perlu selamanya diwariskan sejak masa kanak-kanak: bukan hanya mengajarkan anak membaca ayat-ayat Allah, tetapi juga menanamkan kesadaran untuk memahami dan menghidupkan pesan-pesannya dalam kehidupan. Sebab, keberhasilan pendidikan agama tidak berhenti pada hafalan yang selesai, tetapi berlanjut pada nilai kebaikan yang terus hidup dalam diri seseorang.
*) Penulis: Fachrudin Ad’han Tohari
Ketua Umum PD IPM Kota Malang











