MAKLUMAT — Virus Shamonda, yang selama ini dikenal menyerang hewan ternak sapi, untuk pertama kalinya terdeteksi pada manusia di Prancis. Meski pasien yang terinfeksi meninggal dunia, otoritas kesehatan menyatakan belum menemukan indikasi risiko bagi masyarakat umum.
Kasus tersebut diumumkan pemerintah Prancis pada Kamis, 22 Oktober 2026. Pasien merupakan seorang pria berusia sekitar 60-an tahun yang menjalani perawatan di rumah sakit di Lyon karena kondisi kesehatan serius. Ia diketahui mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh yang berat dan meninggal pada awal Oktober.
Menurut Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH), virus Shamonda ditularkan oleh lalat penggigit dan menyerang sapi serta spesies hewan lainnya, termasuk domba, kambing, kuda, dan alpaka. Infeksi dapat menyebabkan demam, penurunan produksi susu, dan gangguan reproduksi, termasuk keguguran dan kelainan bentuk janin.
Otoritas kesehatan Prancis menurut laporan Reuters, Sabtu (24/10), masih menyelidiki bagaimana pasien terinfeksi serta sejauh mana virus Shamonda berperan dalam kondisi medisnya. Karena itu, kematian pasien tidak dapat langsung disimpulkan sebagai akibat virus tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan telah berkoordinasi dengan otoritas Prancis. Berdasarkan informasi yang tersedia saat ini, kasus tersebut dinilai terisolasi dan belum ada bukti penularan antarmanusia maupun risiko kesehatan bagi masyarakat luas.
Virus Shamonda Menular melalui Serangga Kecil
Virus Shamonda termasuk genus Orthobunyavirus dalam kelompok virus Simbu. Virus ini pertama kali diisolasi dari sapi di Nigeria pada 1965 dan sebelumnya dikenal terutama sebagai patogen pada hewan.
Penularan virus pada hewan diketahui berkaitan dengan gigitan serangga kecil pengisap darah dari genus Culicoides. Serangga ini kerap disebut biting midge dalam bahasa Inggris. Dengan demikian, dugaan penularan pada pasien di Prancis bukanlah gigitan nyamuk biasa, melainkan kemungkinan gigitan serangga pembawa virus yang masih diteliti.
Pemerintah Prancis menduga pasien terpapar melalui gigitan serangga tersebut di wilayah timur Prancis, tempat virus Shamonda terdeteksi pada hewan selama musim semi dan musim panas 2026. Namun, jalur penularan dalam kasus manusia ini masih menjadi bagian dari penyelidikan epidemiologis.
Apa Risiko Virus Shamonda bagi Manusia?
Kasus di Prancis menjadi perhatian karena sebelum temuan ini, virus Shamonda belum terdokumentasi menginfeksi manusia. Informasi mengenai dampak infeksi pada manusia pun masih sangat terbatas karena baru satu kasus yang dilaporkan.
Pasien yang terinfeksi diketahui memiliki gangguan kekebalan tubuh berat dan sedang menjalani perawatan akibat penyakit serius. Otoritas kesehatan masih mengkaji kondisi pasien, hasil pemeriksaan laboratorium, serta kemungkinan sumber paparannya.
Hingga laporan ini disusun, belum ada bukti penularan virus Shamonda dari manusia ke manusia. Otoritas kesehatan juga belum mengidentifikasi risiko kesehatan bagi masyarakat umum. Meski demikian, penyelidikan masih berlangsung untuk memahami cara penularan dan menilai kemungkinan dampaknya terhadap kesehatan manusia.
Karena itu, temuan pertama ini perlu dipantau secara ilmiah, tetapi tidak menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa virus Shamonda telah memicu wabah pada manusia.
Virus Shamonda Menyebar pada Hewan Ternak di Eropa
Sebelum ditemukan pada manusia, virus Shamonda telah terdeteksi pada hewan ternak di sejumlah negara Eropa pada 2026. Virus ini paling sering ditemukan pada sapi, tetapi juga dilaporkan pada domba, kambing, kuda, dan alpaka.
Pada hewan, infeksi dapat menimbulkan demam, diare, kelemahan, penurunan nafsu makan, serta penurunan produksi susu. Gangguan reproduksi, seperti keguguran dan kelainan pada janin, juga dilaporkan. Gejala neurologis dapat terjadi, meskipun lebih jarang.
Gejala-gejala tersebut tidak cukup untuk memastikan infeksi Shamonda karena dapat menyerupai penyakit lain. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mengonfirmasi keberadaan virus.
WOAH menyatakan bahwa dampak jangka panjang dan tingkat keparahan varian virus yang beredar di Eropa masih perlu dikaji. WOAH bekerja sama dengan jaringan ahli dan WHO untuk memperkuat pemahaman tentang virus tersebut serta memantau potensi risikonya terhadap kesehatan hewan dan manusia.
Penyelidikan Masih Berlangsung
Otoritas kesehatan Prancis melanjutkan pemeriksaan klinis, biologis, dan epidemiologis untuk mengetahui kemungkinan sumber infeksi pasien serta hubungan virus dengan kondisi kesehatannya.
Penyelidikan juga mencakup kesehatan hewan dan lingkungan, termasuk pemantauan virus pada ternak serta pemeriksaan serangga yang berpotensi menjadi pembawa. Pendekatan ini melibatkan berbagai bidang kesehatan karena risiko penyakit dapat berkaitan dengan manusia, hewan, dan lingkungan.***











