MAKLUMAT — Kasus bunuh diri anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menyita perhatian publik. Seorang siswa sekolah dasar berinisial YBS (10) di Kabupaten Ngada ditemukan meninggal dunia pada 29 Januari 2026. Peristiwa ini diduga dipicu keputusasaan korban karena tidak mampu membeli buku dan pena.
Menanggapi tragedi tersebut, anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. Suli Da’im, mendesak Dinas Pendidikan Jawa Timur untuk segera mengambil langkah antisipatif. Ia meminta kejadian serupa tidak sampai terjadi di Jawa Timur.
Suli Da’im menegaskan sekolah harus menjadi ruang aman bagi anak, bukan ruang tekanan yang membebani kondisi psikologis siswa. Menurutnya, penguatan perlindungan kesehatan mental di lingkungan sekolah menjadi kebutuhan mendesak.
Ia menyebut, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memperkuat layanan Bimbingan Konseling (BK) dan kehadiran psikolog sekolah. Setiap satuan pendidikan harus memastikan guru BK yang kompeten dan responsif, serta memiliki jejaring kerja dengan psikolog klinis untuk menangani siswa berisiko tinggi.
Selain itu, guru perlu dibekali pelatihan identifikasi dini tanda bahaya (warning signs). Perubahan perilaku siswa, seperti menarik diri, emosi yang tidak stabil, hingga ungkapan keputusasaan, tidak boleh diabaikan.
Suli Da’im juga mendorong kampanye kesehatan mental di lingkungan sekolah guna menghapus stigma. Menurutnya, siswa hanya akan berani mencari pertolongan jika berada di ruang yang aman dan empatik.
“Sekolah tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik. Pendidikan juga harus membekali siswa dengan kemampuan mengelola stres, membangun ketahanan diri, dan menyelesaikan masalah,” ujarnya.
Ia menambahkan, sekolah perlu memiliki protokol tanggap darurat dan jejaring rujukan yang jelas, termasuk akses cepat ke layanan kesehatan jiwa serta nomor kontak darurat bagi siswa yang membutuhkan.
“Dengan langkah-langkah ini, sekolah di Jawa Timur diharapkan benar-benar menjadi ruang yang aman dan suportif bagi tumbuh kembang mental anak,” kata Suli Da’im.
Kasus di NTT sendiri menyayat perhatian publik. YBS diduga nekat mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp10 ribu. Sebelum kejadian, korban sempat meminta uang kepada ibunya, namun dijawab bahwa sang ibu tidak memiliki uang.
Korban juga meninggalkan sepucuk surat tulisan tangan untuk ibunya dengan pesan singkat, “Mama saya pergi.” ***













