MAKLUMAT — Suatu sore, awal Desember 2025. Sebuah mobil Grab—entah Toyota Calya atau Daihatsu Sigra, saya lupa—berhenti di depan kantor PW Muhammadiyah Jawa Timur, Jalan Kertomenanggal, Surabaya. Mobil abu-abu gelap itu menepi tepat di samping Masjid Al Badar, sesuai titik jemput yang saya pesan. “Pak Edi, ya? Silakan masuk, Pak,” ujar pengemudi.
Saya menoleh sekilas. Seorang perempuan. Mobilnya bersih, relatif baru, dan harum. Kami melaju menuju pintu Tol Waru–Juanda. Tujuan akhir saya: kamar kos di kawasan Semampir, Sedati—tak jauh dari landasan pacu Bandara Juanda.
Di tengah perjalanan, perhatian saya tertumbuk pada lengan kiri pengemudi. Ada plaster dot menempel. Biasanya, itu bekas pengambilan darah. “Sakit, Mbak?” tanya saya. “Kok pakai plester begitu?” “Bukan, Pak. Saya habis donor darah,” jawabnya ringan. “Donor leukapheresis.”
Saya terdiam sejenak. Leukapheresis? Perempuan itu tersenyum kecil, tetap fokus ke jalan. Lalu ia menjelaskan: leukapheresis adalah donor sel darah putih. Darah pendonor dialirkan ke mesin khusus untuk dipisahkan komponennya. Sel darah putih diambil, sementara sel darah merah, plasma, dan trombosit dikembalikan ke tubuh.
“Biasanya untuk pasien infeksi berat, kanker darah, atau transplantasi,” katanya. Prosesnya panjang—dua hingga empat jam—dan tidak semua orang bisa melakukannya.
Saya spontan bertanya, “Mbaknya dokter?” “Iya, Pak,” jawabnya santai. “Saya dokter. Lagi menyelesaikan pendidikan spesialis penyakit dalam.” Namanya Rosa. Dokter Rosa.
Lalu muncul pertanyaan yang lebih personal: mengapa seorang dokter spesialis memilih menjadi pengemudi Grab? “Ceritanya panjang,” katanya sambil tersenyum. “Tapi saya memang hobi nyetir. Ini sambilan, sambil nunggu wisuda.”
Selama sekitar 25 menit perjalanan menuju Sedati, kami berbincang tentang donor darah, dunia medis, dan pekerjaan. Saya bercerita tentang profesi saya sebelum jadi wartawan—yang pernah membawa saya menjadi sopir truk Jawa-Bali dan Lombok, kuli pasar, dan pekerjaan serabutan lain. Kami sama-sama tertawa. Hidup memang kadang gemar mencampur-adukkan identitas.
Awal Februari 2026, ingatan itu kembali mendadak. Dokter Rosa ternyata viral. Ia membantu persalinan darurat seorang ibu muda saat sedang bekerja sebagai pengemudi taksi online. Saya tidak membaca beritanya terlebih dulu. Saya melihat wajah Dokter Rosa di sebuah podcast. Seketika, potongan ingatan di jalan Tol Waru–Juanda itu menyatu.
Dokter Rosa—atau Rosalia—ternyata dokter umum yang bertugas di RSUD dr. Doris Sylvanus, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Saat kejadian viral itu, ia sedang menempuh pendidikan spesialis penyakit dalam di Universitas Airlangga, Surabaya. Pada malam hari, ia mengemudi Grab untuk mengisi waktu dan menambah penghasilan.
Kondisi darurat itu terjadi pada malam 20 Januari 2026, di kawasan Asemrowo, Kota Surabaya. Dokter Rosa menerima penumpang perempuan hamil yang mengalami kontraksi hebat. Dalam perjalanan menuju bidan, ketuban pecah. Rosa lantas menepikan mobilnya.
Dengan segala keterbatasan—tanpa alat medis, tanpa sarung tangan, di tengah hujan gerimis—ia memandu persalinan di dalam kabin mobil. Kurang dari sepuluh menit, bayi lahir. Menangis. Sehat.
Risikonya besar. Dalam pengakuannya, Rosa sempat menangis—takut mempertaruhkan karier medisnya. Tapi saat itu, pilihannya hanya satu: menyelamatkan ibu dan anak. Dan alhamdulillah, sang bayi akhirnya selamat.
Dalam podcast itu, Dokter Rosa juga jujur soal alasan ekonomi. Ia adalah ASN. Remunerasinya sebagai dokter selama pendidikan sekitar Rp1,5 juta per bulan, sementara biaya pendidikan spesialis tidak kecil. Menyetir bukan sekadar mencari tambahan, tapi juga ruang perenungan—bertemu orang-orang dengan kisah hidup yang tak terduga.
Barangkali, memang ada momen ketika seseorang “ditugaskan” berada di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat.
Sore itu, awal Desember 2025, saya hanya mengenal Dokter Rosa sebagai pengemudi Grab yang ramah, rapi, dan bekerja sebagai driver grab setelah donor darah. Tidak lebih.
Kini saya tahu: di balik setir itu, ada ketekunan, pengabdian, dan keberanian yang bekerja diam-diam.
Terima kasih, Dokter Rosa.
Semoga jalan hidupmu selalu dilapangkan.
Semoga Allah SWT senantiasa melindungimu.
Aamiin.***













