Dosen UMS Ingatkan Dampak Kekerasan pada Anak, Tekankan Memilih Daycare dengan Cermat

Anak-anak berinteraksi di tempat penitipan anak.

MAKLUMAT — Kasus daycare Little Aresha, Yogyakarta, yang mencuat setelah adanya dugaan perlakuan tidak layak terhadap balita, menuai perhatian luas publik dan memicu kekhawatiran para orang tua.

Dokter spesialis anak yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dr Restu Tri Wulandani Tolibin SpA, menegaskan bahwa kekerasan pada anak usia dini tidak bisa dianggap sepele karena dampaknya dapat berlangsung jangka panjang.

“Dampak jangka pendek dapat berupa memar, luka, cedera fisik, gangguan makan dan tidur, hingga respons stres ya, seperti tangisan terus-menerus dan kecemasan,” ujar Restu, dikutip Ahad (10/5/2026).

Menurutnya, kasus seperti Little Aresha harus dilihat dari sudut pandang perkembangan otak anak. Pada masa bayi dan balita, otak berkembang sangat cepat sehingga pengalaman buruk dapat meninggalkan jejak mendalam, meskipun anak belum mampu berbicara atau menceritakan apa yang dialaminya.

“Trauma yang terjadi pada bayi dan balita dapat mempengaruhi pembentukan memori jangka panjang meskipun mereka belum dapat mengingatnya dalam bentuk narasi verbal,” jelasnya.

Trauma pada anak usia dini, kata dia, dapat terekam dalam sistem memori dan emosi. Bahkan stres kronis berpotensi mengganggu perkembangan area otak yang berkaitan dengan memori, emosi, hingga kontrol perilaku.

Baca Juga  Mendidik Anak Tanpa Kekerasan: Pembiasaan Sikap Baik Kunci Pembentukan Karakter

dr Restu mengingatkan para orang tua agar lebih peka terhadap perubahan kecil yang muncul setelah anak pulang dari daycare. Ia menilai, tanda bahaya tidak selalu muncul secara langsung, namun bisa berupa perubahan perilaku dan emosi yang terjadi perlahan.

Standar Keamanan dan Kualitas Layanan

Selain menyoroti dampak kekerasan, dr Restu juga menekankan pentingnya standar keamanan dan kualitas layanan penitipan anak. Ia menilai, meningkatnya kebutuhan daycare di kota-kota besar tidak selalu dibarengi pengawasan yang memadai, terutama dari sisi kompetensi pengasuh.

“Caregiver nggak cukup hanya menyukai anak-anak saja, tetapi juga harus memiliki keterampilan dasar penanganan anak, bahkan saat dalam kondisi darurat,” terangnya.

Ia menyarankan para orang tua untuk memastikan pengasuh memiliki sertifikasi resmi serta pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Kemampuan tersebut dinilai penting untuk menghadapi situasi darurat seperti tersedak, henti napas, atau kecelakaan pada anak.

Ia juga menekankan bahwa rasio jumlah anak dan caregiver menjadi faktor krusial. Menurutnya, secara medis rasio ideal untuk bayi adalah satu pengasuh menangani tiga bayi, sedangkan untuk anak di bawah dua tahun satu pengasuh maksimal menangani empat anak.

Baca Juga  Komisi XIII DPR RI Siapkan Rapat Khusus Child Grooming, Pendataan Korban Jadi Fokus Utama

“Semakin kecil usia anak, semakin tinggi kebutuhan pengawasan dan respons cepat dari pengasuh,” tambah dr Restu.

Memilih Daycare dengan Cermat

dr Restu menegaskan, memilih daycare tidak boleh hanya didasarkan pada faktor kedekatan lokasi. Orang tua perlu memastikan lingkungan daycare aman, bersih, serta memiliki sistem pengawasan yang jelas. Mulai dari keamanan perabotan, kualitas makanan, keberadaan CCTV, hingga prosedur penjemputan anak harus menjadi perhatian.

Ia juga mengingatkan pentingnya mencari ulasan dari pengguna lain dan memastikan daycare memiliki izin operasional resmi dari lembaga berwenang.

“Penitipan anak kan pada dasarnya dapat membantu tumbuh kembang sosial anak jika dikelola dengan baik. Anak dapat belajar bersosialisasi, berbagi, hingga mengenal rutinitas sejak dini,” tandasnya.

Ia menegaskan, anak usia dini merupakan kelompok yang sangat rentan karena belum mampu membela diri maupun menjelaskan pengalaman secara utuh. Karena itu, ia menilai pengawasan layanan daycare harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan, tidak hanya saat kasus viral muncul di media sosial.

“Karena itu ya, pengawasan terhadap layanan daycare juga nggak cukup dilakukan ketika kasus viral muncul di media sosial. Orang tua, pengelola, tenaga kesehatan, dan pemerintah perlu membangun sistem perlindungan anak yang lebih serius dan berkelanjutan,” pungkas dr Restu.

Baca Juga  Psikolog Unisa Yogyakara: Korban Kekerasan di Daycare Butuh Pemulihan Psikologis Sejak Dini