MAKLUMAT – Indonesia adalah sebuah anomali yang indah. Di tengah arus global yang menyeret banyak negara ke dalam konflik sektarian, Indonesia tetap tegak berdiri. Kuncinya bukan sekadar pada kekuatan militer, melainkan pada dua pilar kokoh yang menyangga langit peradaban kita, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
Muhammadiyah merayakan milad ke-113 pada 18 November 2025 dengan kematangan sistemnya, sementara NU tengah menavigasi turbulensi di usia satu abad pada 31 Januari 2026. Saya meminjam tamsil yang sering disampaikan Mendikdasmen, Abdul Mu’ti bahwa kedua ormas ini adalah “Dua Sayap Burung Garuda”. Jika salah satu sayap patah, Garuda tidak akan bisa terbang tinggi. Jika keduanya kompak, Indonesia akan melesat menuju kejayaan.
DNA Tajdid: Mengapa Muhammadiyah “Anti-Rapuh”?
Muhammadiyah di usia 113 tahun bukan sekadar soal angka, melainkan soal keberlanjutan ideologi yang terinstitusi. Rahasia imunitas Muhammadiyah terletak pada DNA Tajdid (Pembaruan). Tajdid inilah yang membuat Muhammadiyah tetap relevan, mulai dari zaman kolonial hingga era kecerdasan buatan (AI).
Kita melihat dakwah Muhammadiyah kini tidak lagi terbatas di mimbar masjid, melainkan merambah ruang digital secara masif. Data menunjukkan bahwa efektivitas organisasi diuji dari kemampuannya membaca tren sosial-ekonomi. Muhammadiyah melakukan itu dengan elegan dan menyesuaikan diri tanpa sedikitpun meluruhkan identitas aslinya.
Organisasi sebesar Muhammadiyah mustahil tanpa gesekan. Perbedaan pandangan dan tekanan komunikasi seringkali muncul di permukaan. Namun, Muhammadiyah memberikan pelajaran berharga, yakni masalah adalah ruang belajar untuk tumbuh.
Pimpinan Muhammadiyah di berbagai level bertindak sebagai penengah yang arif, mengedepankan musyawarah dan solusi konstruktif ketimbang konfrontasi. Di sinilah letak kedewasaan itu. Organisasi yang kuat bukan organisasi yang sepi dari masalah, melainkan organisasi yang mampu menuntaskan masalah dengan solidaritas dan etika yang terjaga.
Secara internal, Muhammadiyah telah mempraktikkan birokrasi modern yang transparan dan kepemimpinan kolektif-kolegial. Hal ini meminimalkan risiko konflik personal karena “sistem” selalu berada di atas “figur”.
Sedangkan secara eksternal, kemandirian ekonomi melalui ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) mulai dari sekolah TK, pondok pesantren, hingga universitas, BTM, pemberdayaan UKM, bank, dan rumah sakit menjadi bukti bahwa dakwah Islam bisa berjalan beriringan dengan profesionalisme modern. Kemandirian inilah yang memberikan Muhammadiyah posisi tawar yang elegan dalam menjaga independensi sikap politiknya terhadap negara.
NU: Menjaga Jangkar Kultural dan Moral di Tengah Badai
Sementara itu, Nahdlatul Ulama (NU) yang kini menapaki usia satu abad tengah berada dalam pusaran ujian organisasi yang cukup berat. Dinamika internal yang belakangan ini menghangat menjadi sorotan publik. Mengutip laporan berbagai media nasional, tantangan NU saat ini mencakup manajemen konflik internal dan reposisi peran di tengah perubahan peta politik serta sosial.
Namun, kita perlu memberikan dukungan moral bagi NU. Sebagai sesama pilar penjaga bangsa, ketangguhan NU adalah harapan umat manusia. Alhamdulillah NU bisa melewati badai ini dengan islah dan semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas kaum nahdliyin.
Sejarah panjang NU menunjukkan bahwa meski diterpa badai, organisasi ini selalu memiliki mekanisme self-healing melalui kearifan para kiai dan kekuatan akar rumput pesantren.
Namun, tantangan ke depan adalah bagaimana NU tetap konsisten pada Khittah 1926 di tengah disrupsi informasi dan godaan kekuasaan yang kian kencang. Bangsa ini membutuhkan NU yang solid sebagai jangkar kultural dan moral. Jika jangkar ini goyah, stabilitas sosial-keagamaan kita akan ikut terpengaruh.
Sedangkan amal usaha Nahdlatul Ulama (NU) adalah berbagai inisiatif organisasi di bidang sosial, pendidikan, ekonomi, dan keagamaan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan umat. Termasuk pengelolaan pondok pesantren, madrasah/sekolah, rumah sakit, lembaga keuangan (BMTNU, koperasi), dan pemberdayaan UMKM.
Harmoni dalam Perbedaan, Ta’awun dalam Pengabdian
Kalau tadi saya pinjam tamsil Abe Abdul Mu’ti, maka kali ini saya kutip pesan penting dari beliau, saat kunjungan ke Ponpes API Tegalrejo beberapa waktu lalu, yakni kedua organisasi ini (Muhammadiyah dan NU) tidak perlu dilebur. Perbedaan corak antara modernisme Muhammadiyah dan tradisionalisme NU justru merupakan kekayaan. Yang diperlukan bukanlah penyeragaman, melainkan ta’awun (kerja sama) dan sinergi.
Harmonisasi ini sudah lama terjadi di tingkat akar rumput. Berapa banyak kader NU yang menimba ilmu di sekolah Muhammadiyah, dan berapa banyak warga Muhammadiyah yang terinspirasi oleh kedalaman etika pesantren NU? Inilah “Persatuan Islam Moderat” yang menjadi benteng pertahanan terakhir NKRI dari ancaman ekstremisme.
Lalu apa tantangan nasional pada 2026 ini? Jawabannya adalah krisis etika di ruang digital hingga polarisasi politik, yang menuntut Muhammadiyah dan NU untuk terus menjadi “wasit” yang adil bagi bangsa. Organisasi yang kuat bukan organisasi yang bebas dari riak, melainkan organisasi yang mampu menyelesaikan masalah dengan kedewasaan dan semangat kekeluargaan.
113 tahun Muhammadiyah adalah bukti konsistensi tajdid, dan ujian satu abad NU adalah proses pematangan sejarah. Selama kedua sayap Garuda ini tetap kuat dan tidak saling mematuk, maka kedaulatan NKRI adalah sebuah keniscayaan. Mari kita pastikan obor dakwah yang dinyalakan KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari tetap menyala, merawat harmoni, dan menerangi jalan menuju Indonesia berkemajuan.













