Efisiensi Katering Hingga Hotel Bintang 5 di Haji 2026, Senator Lia istifhama Apresiasi Kemenhaj

lia istifhama

MAKLUMAT — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI dinilai sukses mencetak rapor positif pada penyelenggaraan haji 2026. Meski baru seumur jagung pasca pengesahan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025, kementerian pimpinan Gus Irfan Yusuf ini berhasil menghadirkan berbagai terobosan layanan yang menyentuh langsung kebutuhan jemaah di Tanah Suci.

​Apresiasi tersebut datang dari Anggota DPD RI Komite III sekaligus Tim Pengawas Haji, Dr. Lia Istifhama. Senator asal Jawa Timur yang akrab disapa Ning Lia ini membeberkan sejumlah catatan krusial keberhasilan Kemenhaj setelah menyerap aspirasi jemaah asal Ponorogo, Surabaya, Madura, Lamongan, Sidoarjo, hingga Pasuruan beberapa waktu lalu.

​”Pengakuan langsung dari masyarakat ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan haji tahun ini jauh lebih baik dan responsif,” tegas Ning Lia, Selasa (26/5/2026).

​Potong Biaya Katering, Dongkrak Fasilitas Hotel

​Dua poin utama yang paling terasa adalah urusan perut dan tempat tinggal. Kemenhaj mampu menekan harga katering dari 40 riyal menjadi 36 riyal per porsi. Pemotongan harga ini tidak mengorbankan mutu. Jemaah justru menikmati porsi yang lebih baik dengan cita rasa khas Nusantara yang tetap terjaga.

Baca Juga  Dahnil dan Masa Depan Penyelenggaraan Haji Indonesia

​Untuk urusan akomodasi, pemerintah menempatkan jemaah pada hotel-hotel strategis yang mendekatkan mereka ke lokasi ibadah. Bahkan, sebagian jemaah reguler kini menikmati fasilitas penginapan setara hotel berbintang lima selama berada di Madinah.

Layanan logistik pun makin memanjakan jemaah karena petugas mengantar koper langsung sampai ke depan kamar masing-masing.

​Proteksi Total Jemaah Lansia dan Mitigasi Cuaca Ekstrem

​Kemenhaj juga membuktikan komitmennya pada program Haji Ramah Lansia dengan mempertebal jumlah personel di lapangan. Saat ini, setiap kloter reguler berisi 391 jemaah mendapat kawalan ketat dari empat petugas resmi. Rasio ini melampaui standar satu persen yang menjadi ketentuan pemerintah Arab Saudi.

​Transformasi digital melalui penguatan sistem fast track (Makkah Route) dan digitalisasi layanan ikut mempercepat mobilitas jemaah. Di sisi lain, ketangkasan petugas haji dalam menyelesaikan karut-marut kartu Nusuk serta pengaturan bus Shalawat di tengah cuaca ekstrem Makkah yang menyentuh 48 derajat Celsius, mendapat jempol dari tim pengawas.

​Keberhasilan Kemenhaj memangkas biaya katering sebesar 10% (dari 40 ke 36 riyal) tanpa menurunkan kualitas merupakan sebuah anomali positif dalam tata kelola logistik publik.

Hal ini membuktikan bahwa pembentukan kementerian khusus (Kemenhaj) pasca-UU 14/2025 berhasil memotong birokrasi panjang dan menutup celah inefisiensi anggaran yang selama ini menjadi penyakit menahun saat haji dikelola secara sarat beban oleh satu kementerian makro.

Baca Juga  Untuk Apa LHKP PWM Jawa Timur Adakan Sekolah Politik Perempuan?

​Namun, tantangan sesungguhnya bagi kementerian baru ini bukan pada fase kedatangan atau layanan hotel, melainkan pada fase krusial Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Penguatan jumlah petugas kloter yang melebihi standar Arab Saudi harus benar-benar teruji saat menghadapi puncak haji di tengah kepungan cuaca ekstrem 48 derajat Celsius.

Ujian konsistensi Gus Irfan Yusuf akan terlihat pada bagaimana mitigasi logistik dan evakuasi medis bekerja di bawah tekanan ruang dan waktu yang sangat terbatas di Mina nanti.