Haji 2026: Ujian Nyata Kemenhaj Ada di Armuzna

Rista Erfiana Giordano

MAKLUMAT – Penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M kembali diwarnai keluhan klasik, seperti visa bermasalah, kartu Nusuk tersendat, layanan digital yang membingungkan jemaah lansia (lanjut usia), hingga konsumsi jemaah yang dianggap tidak sesuai kebutuhan di tengah cuaca panas Arab Saudi.

Sebagian orang mungkin menganggap keluhan itu biasa. Rutinitas tahunan yang akan reda dengan sendirinya. Tetapi bagi saya yang pernah meliput langsung berbagai kendala atau permasalahan haji, kondisi ini sebagai alarm keras yang justru selalu dimulai dari hal-hal yang dianggap “keluhan kecil”.

Saya masih ingat betul tragedi “badai kelaparan” jemaah haji Indonesia pada 2006 silam. Saat itu ribuan jemaah Indonesia di Arafah dan Mina terlantar tanpa makanan menjelang wukuf. Di Maktab 43 Arafah, sekitar 3.000 jemaah hanya bertahan dengan air mineral dan makanan seadanya.

Yang membuat situasi makin berat, saat itu cuaca dingin gurun menusuk tubuh (saat itu Arab Saudi sedang musim dingin). Angin malam di Arafah terasa menyengat hingga ke tulang belulang. Banyak jemaah lansia menggigil di tenda sambil menahan lapar dan kelelahan fisik setelah perjalanan panjang.

Saya melihat sendiri bagaimana sebagian jemaah mulai lemas, kehilangan tenaga, bahkan kesulitan berdiri karena kombinasi lapar, dingin cukup ekstrem, dan kepanikan akibat distribusi konsumsi yang kacau total.

Saat itu saya dan suami memang sedang cuti haji, namun kondisi tersebut membuat kami harus liputan ke sana sini karena kantor meminta untuk liputan (risiko profesi Jurnalis).

Bisa dibayangkan betapa saya (saat itu Redaktur Harian Surabaya Pagi) dan suami (saat itu Redaktur Harian Radar Surabaya) jumpalitan liputan dan mengirim berita, merawat Jemaah lansia yang hampir pingsan karena kelaparan dan kedinginan yang menusuk tulang.

Bahkan suami saya harus lari lari dan berdesakan dengan lautan jemaah lain untuk mengambil beberapa roti dan minuman dari truk bantuan Sabilillah Makkah—begitu Jemaah Indonesia menyebutnya—untuk diberikan kepada jemaah lansia.

Baca Juga  ​Stop Eksperimen! AMPHURI Ingatkan Pemerintah Soal Bahaya “War Tiket” Haji

Peristiwa itu bukan sekadar masalah katering. Itu adalah potret buruk gagalnya negara membaca risiko dalam fase paling krusial ibadah haji.

Penyebabnya waktu itu adalah perubahan sistem katering yang tidak matang, vendor yang tidak siap, koordinasi yang kacau, dan birokrasi yang lambat membaca situasi darurat. Dan yang membuat miris, pola masalah seperti itu masih terasa sampai sekarang.

Haji Kita Selalu Reaktif

Masalah terbesar penyelenggaraan haji Indonesia sebenarnya bukan sekadar teknis. Masalah utamanya adalah budaya reaktif.

Pemerintah sering bergerak setelah masalah meledak. Ketika jemaah mengeluh konsumsi, baru dilakukan inspeksi. Ketika kartu Nusuk bermasalah, baru dicari solusi darurat. Ketika jemaah sakit berjatuhan, baru layanan kesehatan diperkuat.

Padahal Armuzna—Arafah, Muzdalifah, dan Mina—adalah fase paling krusial sekaligus paling berbahaya dalam seluruh rangkaian ibadah haji.

Semua potensi masalah seharusnya sudah dipetakan jauh sebelum jutaan manusia bergerak bersamaan di tengah kondisi cuaca ekstrem.

Ingatan segar saya pun melayang pada Tragedi Crane jatuh di Masjidil Haram pada 2015 yang menewaskan ratusan orang dari berbagai negara. Saat itu suhu Makkah sangat panas dan menyengat. Cuaca ekstrem membuat kondisi jemaah mudah kelelahan dan dehidrasi parah.

Suasana berubah mencekam hanya dalam hitungan detik. Teriakan, debu, darah, dan kepanikan bercampur menjadi satu di kompleks suci yang biasanya penuh lantunan doa.

Bayangkan di tengah kondisi panik dan mencekam, saya (saat itu News Executive Producer Kompas TV Biro Jatim) dan suami (saat itu Redaktur Harian Radar Surabaya) harus meliput tragedi yang tak akan pernah kami lupakan sepanjang masa.

Meski kami sedang cuti kerja, namun sebagai jurnalis kami sangat paham bahwa tugas telah memanggil. Bahkan saya harus Live Breaking News 3 sampai 4 kali sehari selama sebulan.

Belum hilang trauma itu, Tragedi Mina kembali terjadi. Ribuan jemaah meninggal akibat desak-desakan di lokasi Jamarat di tengah suhu panas ekstrem, yang membuat banyak orang kehilangan stamina dan keseimbangan.

Baca Juga  Gus Irfan Sampaikan Keberatan ke Menteri Arab Saudi: Penempatan Jemaah Harus Manusiawi dan Bermartabat

Penyebabnya, penumpukan di persimpangan jalan 204 dan 223 akibat ketidakdisiplinan jemaah. 

Insiden bermula ketika dua arus jemaah haji yang padat bertemu di persimpangan jalan tersebut yang mengarah ke Jembatan Jamarat, menyebabkan desak-desakan dan saling injak.

Saking banyaknya korban luka dan meninggal, sampai ambulans kewalahan. Jemaah pun kehilangan arah dalam situasi chaos yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Ribuan orang saling injak dalam cuaca panas ekstrem, jeritan kesakitan dan teriakan “ haus haus, air mana air “ langsung membuat dada ini sesak. Dalam kondisi ini pun, saya harus Live Breaking News di KompasTV. Sementara suami saya juga harus mengirim berita liputan ke kantornya.

Dari semua tragedi itu saya belajar satu hal: dalam ibadah haji, cuaca ekstrem dan kesalahan kecil bisa berubah menjadi bencana besar hanya dalam hitungan menit.

Karena itu, ketika hari ini muncul keluhan soal konsumsi, layanan lansia, atau mitigasi cuaca panas, pemerintah tidak boleh menganggapnya remeh. Sekali lagi pemerintah tidak boleh menganggapnya remeh.

Kemenhaj Jangan Terjebak Pencitraan

Lahirnya Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) seharusnya menjadi momentum reformasi total pelayanan haji. Tetapi sejauh ini publik belum melihat perubahan substansial.

Yang tampak justru kementerian terlalu sibuk membangun citra transformasi birokrasi, sementara akar persoalan lama belum benar-benar dibenahi.

Digitalisasi misalnya, terdengar modern di atas kertas. Tetapi bagi banyak jemaah lansia, teknologi justru menjadi sumber kebingungan baru. Jangan dipaksa mereka harus melek teknologi, tapi para petugas haji harus sabar mendampingi.

Demikian pula layanan konsumsi. Pemerintah merasa cukup ketika makanan tersedia dan memenuhi standar administrasi.

Padahal yang dibutuhkan jemaah bukan sekadar makanan “layak konsumsi”, melainkan asupan yang sesuai dengan kondisi fisik mereka di tengah suhu ekstrem.

Haji tidak bisa dikelola hanya dengan logika proyek birokrasi. Haji harus dikelola dengan empati.

Baca Juga  ​Cegah Praktik Ilegal Pengelolaan Badal Haji, DPR Desak Kemenhaj Bentuk Lembaga Resmi

Armuzna Akan Menjadi Penentuan Apakah Lulus Ujian Nyata

Ujian nyata Kemenhaj sesungguhnya belum dimulai di hotel-hotel Madinah/Makkah atau ruang konferensi pers. Namun ujian sebenarnya ada di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna).

Di sanalah seluruh sistem diuji: distribusi konsumsi, ketahanan fisik jemaah, kecepatan layanan kesehatan, koordinasi petugas, hingga kemampuan mitigasi krisis di tengah jutaan manusia yang bergerak bersamaan.

Kalau pemerintah gagal membaca risiko sejak sekarang, maka keluhan-keluhan kecil hari ini bisa berubah menjadi krisis besar saat puncak haji nanti.

Jangan Tunggu Korban Berjatuhan

Ada beberapa langkah mendesak yang harus dilakukan pemerintah jika tidak ingin tragedi masa lalu kembali menghantui.

Pertama, reformasi total manajemen risiko haji. Semua potensi krisis—konsumsi, kesehatan, cuaca panas, kepadatan jamaah—harus dipetakan dengan simulasi realistis, bukan sekadar laporan administratif.

Kedua, evaluasi ketat vendor katering dan transportasi. Jangan ulangi kesalahan 2006 ketika vendor tidak siap tetapi tetap diberi tanggung jawab besar.

Ketiga, perkuat layanan kesehatan berbasis jemput bola. Jemaah lansia dan jemaah risiko tinggi harus dipantau aktif sampai ke kamar hotel, terutama menjelang Armuzna.

Keempat, hentikan digitalisasi yang memaksa. Teknologi harus didampingi manusia. Jemaah lansia membutuhkan petugas yang hadir langsung, bukan sekadar aplikasi.

Karena pada akhirnya, haji bukan soal citra kementerian atau keberhasilan administrasi semata.

Haji adalah Soal Nyawa Manusia.

Dan sejarah sudah berkali-kali membuktikan, ketika negara gagal mengantisipasi risiko, yang menjadi korban selalu jamaah kecil yang datang ke tanah suci dengan harapan pulang membawa haji mabrur.

Bismillah pelaksanaan haji tahun ini berjalan lancar dan aman. Kita semua berdoa Kemenhaj mampu menunjukkan kinerja keras tanpa lelah di Armuzna yang menjadi ujian nyata.

Dan kita semua berharap ujian itu Insya ALLAH bisa dilalui dengan minim kendala , sehingga membuat semua Jemaah haji Ikhlas dan gembira beribadah hingga selamat sampai rumah dengan puncak hasil, menjadi Haji Mabrur…Aamiin.